Dalam menjalani hidup, manusia lazim mengalami perasaan tidak nyaman berupa sakit hati. Bukan hanya masalah cinta, tetapi masalah lain yang begitu kompleks akan menyebabkan seseorang patah hati.
Gagal meraih cita-cita, tidak kunjung lulus kuliah, bahkan sering ditolak saat mengajukan lamaran kerja, biasanya akan membuat orang patah hati.
Dwi Suwiknyo, lewat buku Ubah Patah Hati Jadi Prestasi, mengajak pembaca untuk lebih bijak menghadapi problematika hidup yang lazim ditemui.
Penulis menjelaskan, dalam hidup manusia akan menjumpai berbagai masalah yang akan menimpa. Tapi, masalah bukan untuk diratapi atau disesali. Sebaliknya, masalah yang menimpa harus bisa dihadapi dengan tenang. Berusaha mencarikan solusi yang terbaik.
Meratapi kegagalan bukan pilihan yang tepat. Patah hati oleh sebab apa pun, harus bisa menjadi perantara untuk meraih hal-hal yang lebih positif. Kegagalan bukan akhir segalanya.
Seseorang yang gagal membina rumah tangga, misalnya, bukan berarti dia harus terus meratapi nasib. Perpisahan adalah hal mutlak dalam kehidupan manusia. Jangan sampai patah hati karena cinta bisa menghancurkan masa depan seseorang.
Dalam buku ini dikisahkan, ada seseorang yang berkali-kali gagal menjalani hidup. Saat melamar kerja, tak satu pun lamaran yang diajukannya diterima.
Dia nyaris putus asa, tetapi semangat yang menggebu-gebu untuk mengubah nasib dan keadaan keluargnya yang pas-pasan, membuat dia tetap bangkit. Hingga dia mempunyai ide bisnis berupa usaha di bidang e-commerce.
Banyak orang mencibir usahanya karena dianggap tidak sesuai dengan bidang dan keahliannya. Hingga waktu terus berputar. Dia dinyatakan sebagai salah satu orang terkaya di China karena usahanya sukses luar biasa.
Sekelumit kisah di atas bisa jadi pelajaran oleh siapa pun untuk bisa bangkit dari masalah berupa kegagalan. Manusia diberi akal untuk berpikir, sehingga salah besar jika karena satu kegagalan membuat dia harus terpuruk apalagi mengutuki diri sebagai orang yang gagal.
Kegagalan adalah hal biasa. Jangan sampai kita takluk dan menyerah terhadap keadaan. Sebaliknya, kita harus bisa mengubah kegagalan menjadi peluang untuk bisa meraih prestasi dan keberhasilan yang gemilang di kemudian hari. Demikianlah intisari dari buku bersampul manis terbitan Quanta ini.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
4 Rekomendasi Buku Bertema Kerajaan, Bacaan Klasik yang Seru dan Menarik
-
4 Rekomendasi Buku Bertema Sahabat Jadi Cinta, Masa Kecil yang Indah
-
Ulasan Buku Kisah-kisah Hewan dalam Al-Quran: Belajar Bijak dari Seekor Semut
-
7 Prinsip Indah tentang Kematian Menurut Buku Things Left Behind
-
Ulasan Buku Catatan Hati Pejuang Kanker, Kisah Inspiratif Para Perempuan Bertarung Melawan Kanker
Ulasan
-
Membongkar Dosa Besar Para Anak Rantau Lewat Lagu Sesi Potret
-
Di Balik Sepiring Dimsum: Membaca Ulang Makna Keluarga di Novel Clara Ng
-
Bosan Dimsum Mentai? Ini 5 Kuliner Nusantara di Nganjuk yang Patut Dicoba
-
Review Perfect Family: Keluarga Sempurna yang Ternyata Menyimpan Rahasia
-
The Skull Karya Jon Klassen, Dongeng Gelap yang Justru Terasa Menggemaskan
Terkini
-
Period Poverty dalam Ketimpangan Kelas: Menggugat Hak Dasar Tubuh Perempuan
-
Viral Karena TikTok, Menkes Ungkap Manfaat Luar Biasa Umbi Kimpul untuk Kesehatan
-
HUT ke-81 RI dan Kebebasan Digital: Saatnya Merdeka dari Scroll Tanpa Henti
-
4 Facial Wash Anti-Aging Rawat Elastisitas Kulit, Harga Murah Rp30 Ribuan
-
Indonesia Hadapi Peserta Piala Dunia 2026, Cape Verde Jadi Kandidat Kuat?