Tahu nggak sih, pertanian merupakan bisnis yang tak pernah padam di dunia ini. Bahkan ketika pandemi covid-19 berlangsung seperti tahun-tahun sebelumnya, pasokan bahan makanan menjadi salah satu perniagaan yang bebas keluar-masuk saat bisnis lain ditutup habis-habisan.
Hal ini juga sekaligus menjawab banyaknya timbul pertanyaan, kenapa orang kaya justru mau berkebun di saat orang lain menghindari panas terik dan memilih bekerja di kantor ber-AC. Nah kalau menengok situasi tersebut, jadi keinget beberapa anime yang tokohnya justru memilih berkebun daripada jadi hero. Anime apa sajakah itu?
Berikut 3 anime tentang pertanian!
1. Noumin Kanren no Skill Bakka Agetetara Naze ka Tsuyoku Natta
Mengisahkan tentang sosok pemuda bernama Wyne, anime ini termasuk anime yang baru dirilis di tahun 2022. Memiliki profesi kebanggaan sebagai petani, Wyne tak menyadari jika skillnya kian meningkat seiring bertani. Hingga suatu hari saat ia akan mengirim pasokan hasil pertanian ke kota, ia berpapasan dengan naga yang terbang menuju ke arah kota. Takut kotanya hancur dan membuat distribusi hasil taninya gagal, Wyne pun melawan naga tersebut dengan melempar sebuah wortel ke arahnya. Tak terduga, naga itupun langsung musnah seketika.
Meski punya kekuatan overpower dan ditawari kedudukan tinggi dalam kerajaan, Wyne terus menolak dan memilih menjadi petani. Namun demi membalas jasa sang putri yang memberinya ladang, ia pun menyetujui untuk ikut serta melindungi ibu kota. Ia pun bertarung dengan berbekal teori agriculture. Unik banget gak sih?
2. Slime Taoshite 300-nen, Shiranai Uchi ni Level MAX ni Nattemashita
Hampir sama dengan kisah Wyne. Di anime berjudul 'Slime Taoshite 300-nen, Shiranai Uchi ni Level MAX ni Nattemashita' juga mengisahkan tentang sosok yang lebih memilih hidup damai sebagai petani. Meski memiliki kekuatan sihir yang dahsyat, ia tetap hidup bersahaja demi menghindari kehidupan yang berbahaya. Di sela kegiatannya bertani, ia juga membasmi slime sebagai bentuk olahraga. Ia yang dikaruniai panjang umur pun, ternyata telah hidup selama 300 tahun dengan bertani dan memburu slime. Akibatnya, skill nya meningkat drastis dan hal-hal berbahaya justru menghampiri hidup damainya!
3. My Next Life as a Villainess!
Hidup sebagai seorang lady dari kalangan bangsawan ternama, bersinggungan dengan hal-hal seperti pertanian adalah hal yang dipandang aneh. Seorang lady yang dijunjung tinggi keanggunan dan mewahnya gaun serta permata di tubuhnya, justru lebih memilih berkutat dengan lumpur di ladang.
Hal itu bukan tanpa alasan. Ternyata, ia adalah sosok gadis yang terisekai dalam sebuah permainan game. Dan sosok yang kini ia perankan adalah sosok antagonis yang memiliki akhir mengenaskan. Mempersiapkan kisah hidupnya yang tragis dan kemiskinan yang melanda setelah pengusiran, ia pun memilih untuk bertahan hidup dengan belajar pertanian demi kesejahteraan hidupnya kelak.
Sekian ulasan singkat tentang tiga anime pertanian. Tertarik menontonnya?
Baca Juga
-
Anak Krakatau Sudah Siaga Sejak Juli, Lalu Mitigasi Pemerintah ke Mana?
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh
-
Fakta Ironisnya: Ketika MBG Hanya Menanggung 1/9 Biaya Makan Keluarga
-
Empati Tidak Harus Menunggu Korbannya Menjadi Keluarga Kita
-
Negara Ring of Fire, Mengapa Anggaran Bencana Masih Seperti Lelucon?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
5 Pesan Moral Bisa Dipelajari dari Karakter Je Moon-jae di Drakor Mousetrap
-
Ketika Cinta Bertemu Realitas: Ulasan Film Before Sunset yang Mengiris Hati
-
Bukan Sekadar Film Anak, Iyus Jenius Hadirkan Kembali Lagu Legendaris Papa T.Bob yang Dirindukan
Terkini
-
Tak Perlu Mesin POS Mahal, 5 Tablet LTE Ini Cocok untuk Kasir Cafe dan UMKM
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Sinopsis Whalefall, Kisah Mencekam Bertahan Hidup di Perut Paus
-
Ironis! Guru Dipaksa Jadi "Pencicip Racun" Akibat Amputasi Logika Program MBG
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?