Hidup itu membutuhkan kebijaksanaan. Tanpa membekali diri dengan sikap bijaksana, rasanya kita akan sulit diterima oleh masyarakat yang memiliki karakter beragam. Oleh karena itulah, kebijaksanaan di sini menjadi sesuatu yang teramat penting dan tak boleh kita abaikan.
Sikap bijaksana di sini misalnya, ketika menghadapi perbedaan di tengah masyarakat, kita tidak mudah menyalahkan, kita tidak gegabah menghakimi orang lain yang berbeda pandangan atau keyakinan dengan kita. Kebijaksanaan dapat dilihat dari seberapa luas jiwa kita menerima dan menghormati perbedaan-perbedaan orang-orang di sekitar kita.
Setiap orang sangat perlu belajar tentang kebijaksaan hidup. Belajar bisa dari mana saja, misalnya dari berbagai pengalaman hidup orang lain, termasuk pengalaman yang kita alami atau rasakan sendiri.
Membaca beragam buku-buku juga dapat meningkatkan sikap bijaksana. Misalnya, buku berjudul “Kang Sejo Melihat Tuhan” karya Mohamad Sobary ini. Buku ini berisi sekumpulan esai atau opini dengan tema yang beragam dan dapat dijadikan bahan renungan bersama.
Salah satu opini yang menarik dinikmati dan renungi berjudul “Kang Sejo Melihat Tuhan”. Dalam opini tersebut, penulis menguraikan kisah seorang tukang pijit tunatetra bernama Kang Sejo. Kang Sejo memiliki kebiasaan berdoa dengan kalimat pendek. Itu pun dengan bahasa Jawa, karena ia tak tahu bahasa Arab. Doanya seperti ini: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur).
Meskipun berdoa dengan kata-kata yang sangat pendek, tapi zikir Kang Bejo kuat. Soal ruwet apa pun yang dihadapi, wiridannya satu: “Duh, Gusti, Engkau yang tak pernah tidur”. Mohamad Sobary mengaku tertarik dengan cara hidup Kang Sejo. Ia belajar darinya.
Ketika Kang Sejo ditanya berapa kali mengucap doa “Duh Gusti” dalam sehari, jawaban Kang Sejo singkat saja, “tidak saya hitung”. Penulis buku ini lantas bertanya, “Lho, apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai, baca ini sekian ribu, itu sekian ribu?” Jawaban Kang Sejo ternyata sangat bijaksana, “Monggo mawon (ya, terserah saja), Tuhan memberi kita rezeki tanpa hitungan, kok. Jadi, ibadah pun tanpa hitungan.”
Menurut saya, buku ini menarik dijadikan bahan introspeksi diri. Kita bisa menggali kebijaksanaan hidup lewat tulisan-tulisan Mohamad Sobary yang begitu mengalir dan mudah dicerna.
Video yang mungkin Anda suka:
Baca Juga
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Artikel Terkait
-
Masih Ingat dengan Artis Cilik Nizam? Ini Daftar Serial Televisi yang Pernah Dibintanginya
-
Menangkal Diri dan Lingkungan dari Teror dalam Buku Apa Agama Teroris?
-
Misteri Buku Hitam Ferdy Sambo, Berisi Informasi Penting Polri?
-
Penasaran, Buku Hitam Ferdy Sambo Siap Berikan Info Penting, Pengacara: Dirinya Bersedia Lakukan
-
Selama Persidangan, Ferdy Sambo Tak Lepas dari Buku Hitam
Ulasan
-
The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat
-
Review SCTV: The Greatest Show You've Never Heard Of, Jejak Tawa Legendaris
-
Mendidik Anak dengan Kasih Sayang ala Nabi dalam Happy Islamic Parenting
-
MobLand Season 2: Menguak Sisi Gelap Dinasti Kriminal Keluarga Harrigan!
-
Sentilan Isu Sosial dan Arti Ketulusan Keluarga di Novel Kado Terbaik
Terkini
-
Bye Kusam dan PIH! 4 Moisturizer Alpha Arbutin Cuma di Bawah Rp50 Ribuan
-
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
-
Jika Presiden Saja Bisa Disadap, Seberapa Aman Privasi Digital Kita?
-
Dari Tagar ke Aksi Nyata: Bukti Gen Z Vocal Awasi Isu Negara, Bukan FOMO!
-
Belajar dari KHW 400: Ini 5 Insight Storytelling Nadia Omara Bagi Kreator