Pernah merasakan cinta pada seseorang yang paling kamu benci, bahkan kamu berkeinginan untuk membunuhnya? Terdengar tidak masuk akal. Namun, itulah yang terjadi pada Shahrzad al-Khayzuran dalam novel The Wrath and The Dawn karya Renee Ahdieh ini.
Novel ini mengisahkan seorang raja muda bernama Khalid Ibnu al-Rashid yang dikenal sebagai monster. Banyak orang membencinya, terutama para orang tua yang harus kehilangan putri mereka sehari setelah pernikahan dengan raja berlangsung. Raja Khalid membunuh setiap pengantin yang ia nikahi setelah fajar tiba.
Kejadian itu menimpa Shiva—saudari sepupu Shahrzad. Gadis itu dibunuh setelah fajar tiba usai pernikahannya dengan Khalid. Didorong oleh dendam, Shahrzad menyelinap dan menyamar sebagai budak dan akan menjadi pengantin sang raja. Shahrzad berniat untuk membunuh raja saat ia memiliki kesempatan.
Saat menjelang Fajar, Shahrzad menceritakan dongeng untuk raja demi menunda kematiannya. Demikianlah Shahrzad terus melakukan upaya untuk mengulur waktu sampai punya kesempatan untuk membunuh monster itu.
Namun, seiring berjalannya waktu Shahrzad mulai luluh dan melihat sisi lain dari Khalid. Niat awalnya datang ke sana mulai luntur. Ia mulai jatuh cinta pada Khalid dan sebaliknya. Khalid jatuh cinta pada Shahrzad yang seharusnya sudah ia bunuh.
Semakin banyak waktu yang mereka habiskan bersama, Shahrzad akhirnya tahu kenapa Khalid membunuh semua pengantinnya saat fajar tiba. Pria itu terkena kutukan dari ayah mertuanya yang bersekutu dengan penyihir gelap dan merelakan nyawanya.
Aku menikmati kisah yang disuguhkan dalam cerita ini. Setiap perubahan yang terjadi pada masing-masing tokoh, dan karakter mereka yang cukup kuat. Emosi yang timbul dari masing-masing tokoh juga terasa karena disampaikan dengan baik oleh penulis.
Bumbu romansa dalam buku ini cukup kental dan terdapat beberapa adegan dewasa, tetapi tidak terlalu vulgar. Aku merekomendasikan buku ini untuk kalian yang suka cerita romansa yang dipadu dengan gaya bercerita yang manis. Buku ini menggunakan majas yang memperkuat kesan romansa pada buku ini.
Sedikit kekurangannya ada pada penyampaiannya yang menurutku sedikit berlebihan. Beberapa hal diulang dengan penyampain berbeda. Barangkali ini hanya masalah selera. Untuk kamu yang suka cerita romansa, buku ini mungkin cocok untukmu.
Baca Juga
-
Tuai Hujatan Karena Menang MCI, Pantaskah Belinda Diperlakukan Demikian?
-
Ulasan Novel Mata dan Rahasia Pulau Gapi, Kental dengan Nilai Sejarah dan Pengabdian
-
Ulasan Novel Rooftop Buddies, Pengidap Kanker yang Nyaris Bunuh Diri
-
Berkaca pada Kasus Bunuh Diri di Pekalongan, Dampak Buruk Gadget bagi Anak
-
Ulasan Novel Mata di Tanah Melus, Petualangan Ekstrem di Negeri Timur
Artikel Terkait
Ulasan
-
Refleksi Film Toy Story 5: Apakah Teknologi dan Mainan Bisa Hidup Berdampingan?
-
Membaca Haru no Sora: Mengapa Si Tukang Bully Berhak untuk Terluka?
-
Review Toy Story 5: Ketika Woody dan Buzz Harus Melawan Tablet Canggih Masa Kini!
-
Review Drama Korea The Legend of Kitchen Soldier: Saat Dapur Jadi Medan Perang
-
Kecewa Ending Disclosure Day? Memahami Makna 'Listen' yang Bikin Kesal
Terkini
-
Pesona Veteran di Piala Dunia 2026: Pembuktian Kualitas Melampaui Usia
-
Peringatan Keras The Economist untuk Indonesia: Saatnya Rem Kebijakan yang Terlalu Ekspansif?
-
Sering Dianggap Cerewet, Ini 5 Pesan Cinta di Balik Kisah Masa Lalu Orang Tua
-
Sosok yang Selalu Duduk di Kursi Kosong
-
Kadang Bukan Gagal, Hidup Memang Punya Rencana yang Berbeda