Tak perlu jauh-jauh, tinggal buka mata dan lihat sekitar. Di mana-mana anak-anak menggunakan gadget. Zaman semakin maju dan teknologi semakin canggih.
Tidak bisa dipungkiri kalau teknologi terutama gadget akhirnya merasuki semua kalangan masyarakat. Bukan hanya orang dewasa, tapi anak kecil bahkan balita juga kena sasaran.
Tidak ada yang salah dengan memberikan gadget untuk digunakan anak asalkan orang tua tetap memberi batasan dan mengontrol anak saat menggunakan gadget.
Gak jarang orang tua memberi gadget pada anaknya dan ditinggalkan begitu saja. Orang tua sibuk melakukan hal lain dan tak sadar apa yang dilihat anak di gadgetnya.
Berkaca pada kasus anak SD bunuh diri di Pekalongan, kita bisa belajar bahwa gadget itu sangat berdampak kepada anak-anak.
Gadget bisa menyebabkan kecanduan sehingga anak tidak bisa lepas dari gadget. Sebentar saja tidak main gadget, mereka akan gelisah dan pikiranya tidak tenang.
Hal seperti ini tentu bisa memicu emosi yang tidak stabil. Anak jadi membangkang atau mudah marah karena mereka sudah kecanduan pada gadget. Mereka merasa kosong saat tidak memegang gadget.
Selain itu, tidak adanya pengawasan orang tua atas tontonan anak, menjadi pemicu banyaknya anak yang suka bertindak di luar nalar. Entah itu berbicara kasar, perundungan, bahkan bunuh diri.
Kemudahan akses lewat gadget memberi kemudahan bagi hal-hal negatif untuk tersebar dan ditonton oleh anak. Bahkan kartun sekalipun ada yang menunjukkan adegan pembunuhan.
Anak tidak tahu kalau itu kekerasan dan tidak boleh dilakukan. Mereka melihat itu kartun dan berarti untuk anak-anak. Jika tidak diawasi, mereka akan melihat itu sebagai kewajaran.
Di sini bukan menyudutkan orang tua, tapi dari kasus ini seharusnya semua orang dapat belajar bahwa gadget berpengaruh sangat buruk bagi kesehatan fisik maupun psikis manusia.
Sudah seharusnya orang tua sadar dan tidak menjadikan sibuk sebagai alasan memberikan gadget berjam-jam kepada anak.
Masa pertumbuhan anak tetap butuh pendampingan dan didikan langsung dari orang tua. Teknologi memang canggih dan nyaris serba bisa, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan peran orang tua.
Kasih sayang dan perhatian orang tua tak akan tergantikan oleh apa pun. Mari kita menyayangi anak dengan menununjukkan kepedulian dan menjadi garda terdepan dalam melindungi anak.
Baca Juga
-
Tuai Hujatan Karena Menang MCI, Pantaskah Belinda Diperlakukan Demikian?
-
Ulasan Novel Mata dan Rahasia Pulau Gapi, Kental dengan Nilai Sejarah dan Pengabdian
-
Ulasan Novel Rooftop Buddies, Pengidap Kanker yang Nyaris Bunuh Diri
-
Ulasan Novel Mata di Tanah Melus, Petualangan Ekstrem di Negeri Timur
-
Tewasnya Korban Perundungan dalam Novel The 'Good Friend'
Artikel Terkait
-
Anggaran Proposal Pembangunan Masjid di Desa Capai 12 Miliar, Cek Faktanya di Sini
-
Dampak Buruk Terlalu Sering Poles Kaca Mobil
-
Kisah Anak di Banjar Kabur dari Rumah Gegara Tak Tahan Dianiaya Orang Tua, Badan Luka-luka
-
Siapa Orang Tua Gischa Debora? Ngaku Akan Ganti Rugi Seluruh Uang Korban Penipuan Tiket Coldplay
-
Ulasan Buku Panduan Lancar Membaca Ceria: Pintar Baca Sejak Usia Dini
Kolom
-
Gen Z Disebut Kalah Cerdas dari Milenial, Efek EdTech di Dunia Pendidikan?
-
Menulis dengan Tanggung Jawab demi Tingkatkan Literasi Digital Masyarakat
-
Hidup dari Standar Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kebahagiaan
-
Digital Detox dan Ilusi Putus Koneksi di Dunia Kerja Modern
-
Buku Jelek itu Ada dan Justru Penting untuk Ada!
Terkini
-
Terluka Bertubi-tubi di Novel Asavella Karya Alfida Nurhayati Adiana
-
Film Jangan Seperti Bapak: Drama Aksi yang Sarat Pesan Keluarga
-
Belajar Rela saat Takdir Tak Selalu Memihak di Novel L Karya Kristy Nelwan
-
9 Drama China tentang Dunia Kerja yang Seru dan Edukatif
-
Long Weekend ke Sukabumi? 5 Spot Seru Dekat Stasiun yang Bisa Kamu Kunjungi