Kita membutuhkan sosok panutan yang bisa membimbing kita ke jalan yang benar. Yakni jalan lurus yang diridai oleh Allah Swt. Bukan jalan tanpa arah yang bisa membuat kita tersesat karenanya.
Dalam Islam, sosok panutan utama kita adalah Nabi Muhammad Saw. Beliau dikenal memiliki perilaku mulia. Ucapannya meneduhkan, tak pernah mau menyakiti hati sesama, bahkan kepada nonmuslim pun beliau begitu menyayangi dan mempergaulinya dengan baik.
Selain Nabi Muhammad Saw. barulah kita berusaha mencontoh sosok-sosok lain yang memiliki akhlak terpuji seperti para sahabat Nabi, para ulama, dan orang-orang yang memiliki pemahaman ilmu (baik ilmu agama maupun umum) yang luas.
Abu Nawas adalah salah satu sosok yang kehidupannya bisa kita jadikan renungan. Hal-hal baik yang ada pada dirinya selayaknya diteladani bersama. Abu Nawas dikenal sebagai sosok penyair dan juga sufi yang humoris. Bahkan ia dikenal mampu memecahkan persoalan dengan bijak, di mana orang-orang pada umumnya tidak bisa memecahkannya.
Dalam buku ini dijelaskan, Abu Nawas adalah sosok yang berwawasan luas, hafal al-Qur’an dan hadits, seorang dermawan yang karena kedermawanannya ia menjalani kehidupan yang serba kekurangan, dan tentu saja jenaka. Ia pernah menjadi guru hadits. Tiga tokoh terkenal, yaitu Imam Syafi’i (pendiri mazhab Syafi’i), Muhammad al-Amin (kekhalifahan Daulah Abbasiyah), dan Al-Jahiz (ahli prosa dan Mu’tazilah), adalah murid-muridnya.
Abu Nawas bukanlah ulama yang menuliskan nilai-nilai tasawuf di atas kertas, melainkan mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Ia memegang teguh kebenaran dan mengkritik tindakan manusia yang menyimpang dari kebenaran itu. Ia menggunakan metode anekdot yang bersifat satir dan penuh kebijaksanaan untuk mengkritik sehingga membuatnya mengesankan. Karena kesan itu, generasi-generasi berikutnya terus membicarakan anekdot Abu Nawas, kemudian menuliskannya dalam bentuk buku, sehingga kisah-kisah lucunya bertahan hingga hari ini (hlm. 55-56).
Dalam kisah-kisah anekdot Abu Nawas, sangat kentara seklai bahwa ia seorang pencari sekaligus penegak keadilan. Terutama, ketika rakyat mengalami penindasan penguasa, Abu Nawas selalu menjadi tumpuan mereka, karena hanya dialah sau-satunya sosok yang berani kepada penguasa (hlm. 79).
Kisah hidup Abu Nawas yang dibeberkan oleh Muhammad Ali Fakih dalam buku terbitan Laksana ini bisa menjadi bahan renungan sekaligus meneladani perilaku bijaknya. Selamat membaca.
Video yang mungkin Anda suka
Baca Juga
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
Artikel Terkait
-
Hukum Merayakan Halloween dalam Islam, Ini Penjelasan MUI
-
Ini Omongan Gus Yaqut Soal Agama Islam dari Tanah Arab Harus Hargai Budaya Indonesia, Netizen: Kebayang Nabi Muhammad Menghargai Budaya Jahiliyah
-
Ulasan Buku Kumpulan Puisi "Mendaki Kantung Matamu" Karya Bode Riswandi
-
Ternyata Ini Dugaan Yang Dilakukan Dedi Mulyadi Buat Ambu Anne Ngotot Gugat Cerai
-
Fans Garis Keras Kang Dedi Semprot Ambu Anne, Soal Gugatan Cerai karena Syariat Islam
Ulasan
-
5 Rekomendasi Buku Klasik Anak untuk Bacaan si Kecil, Siap Eksplor!
-
'Seni Merayu Tuhan': Ketika Tobat Datang Bukan Karena Alim, Tapi Karena Hancur Kehilangan
-
Mencoba Dessert Viral Dubai Chewy, Cokelat dan Strawberry dalam Satu Sajian
-
Ulasan Artificial City: Mengurai Obsesi Kelas Elite terhadap Kekuasaan
-
A Note to Remember: Seni Mengejar Mimpi Meski Takut dan Ragu!
Terkini
-
Banyak Misteri di A Bona Fide Killer, 3 Hal Ini Paling Bikin Saya Penasaran
-
Desil Bansos Bukan Takdir, Begini Cara Mengoreksi Datanya
-
Jangan Sembarangan Menginjak Kecoak! Bakterinya Bisa Menyebar di Lantai
-
4 Cleansing Oil Sunflower Seed Hapus Makeup Waterproof hingga Pori Terdalam
-
Dari De Britto, Urban Social Forum 12 Bayangkan Kota Ramah dan Manusiawi