Pada masa orde lama, Indonesia menjalin hubungan yang terbilang sangat dekat dengan beberapa negara blok timur seperti Uni Soviet. Hal inilah yang membuat banyak alutsista TNI kala itu terutama dari Angkatan udara dan Angkatan laut yang cukup didominasi dari negara-negara yang berhaluan sosialis. Bila membicarakan alutsista udara yang dimiliki oleh Indonesia pada periode akhir 1950-an hingga periode 1960-an pastinya sangat didominasi oleh pesawat-pesawat buatan Uni Soviet, khususnya dalam alutsista jet tempur seperti MiG-15, MiG-17, MiG-19 dan jet legendaris MiG-21.
Namun, ada salah satu pesawat yang ternyata dahulunya merupakan salah satu pesawat jet tempur tercanggih yang pernah dimiliki oleh TNI pada masanya. Meskipun berfungsi sebagai jet latih tempur, akan tetapi teknologi yang dimiliki oleh pesawat ini tergolong paling maju di zamannya. Pesawat jet latih tempur tersebut dikenal dengan nama Aero L-29 ‘Delfin’.
BACA JUGA: 4 Zodiak Ini Paling Sulit Dipahami, Rumit Banget Orangnya
1. Jet Tempur Latih Buatan Cekoslovakia
Dilansir dari wikipedia.com, jet tempur yang digunakan sebagai jet latih ini merupakan salah satu alutsista standar blok timur pada masanya. Berbeda dari beberapa jet tempur blok timur pada umumnya yang merupakan pabrikan Uni Soviet, jet tempur Aero L-29 ‘Delfin’ atau yang dijuluki ‘Si lumba-lumba’ ini merupakan buatan pabrikan Cekoslovakia, tepatnya buatan pabrik Aero Vodochody.
Kelahiran jet latih ini karena kebutuhan akan jet latih tempur bagi negara anggota blok timur yang mendesak pada periode 1960-an. Kemudian pabrikan pesawat asal Cekoslovakian Aero Vodochody menyanggupi permintaan tersebut dan pada akhirnya lahirlah jet tempur latih Aero L-29 yang pada kode NATO dikenal dengan sebutan Maya pada tahun 1961. Jet ini kemudian menjadi jet latih standar negara-negara pakta warsawa pada saat itu dan juga diekspor ke negara lain yang memiliki hubungan dekat dengan blok timur seperti Indonesia, Bulgaria, China dan beberapa negara di Timur tengah.
2. Mampu Digunakan Sebagai Jet Serang Ringan
Meskipun lahir sebagai jet latih, akan tetapi Aero L-29 juga dapat digunakan sebagai jet serang ringan karena juga memiliki beragam persenjataan. Persenjataan utama jet latih tempur ini antara lain sepasang senapan mesin kaliber 7.62 mm yang dapat dibaw pada 2 hardpoints di sayapnya. Selain itu, pesawat ini juga dapat membawa 2 pod roket tanpa berpemandu dan dapat pula dipasangi dua bom dengan masing-masing berat 100 kg.
BACA JUGA: Beredar Detik-detik Pengendara Motor Terjatuh di Jembatan Suhat Malang Setinggi 12 Meter
Jet latih tempur ini pada awalnya menggunakan mesin buatan Inggris yakni Bristol Siddeley Viper, kemudian mesin ini diganti dengan buatan lokal dari Cekoslovakia yakni mesin Motorlet M-701c. Mesin tunggal ini mampu menghasilkan daya yang dapat membuat pesawat jet ini terbang dengan kecepatan 655 km/jam dan memiliki jarak jelajah sekitar 890 km. Seperti sejatinya jet latih, Aero L-29 juga dioperasikan dengan dua orang yakni seorang pilot dan seorang pendamping yang biasanya merupakan instruktur penerbangan.
3. Jejak Aero L-29 Dalam Tubuh AURI
Rekam jejak jet latih Aero L-29 dalam tubuh TNI kala itu terbilang singkat. Dilansir dari situs indomiliter.com, jet tempur yang terbilang sangat baru tersebut harus digrounded bertahap sejak akhir tahun 1965 pasca perubahan haluan politik Indonesia, meskipun tercatat beberapa jet tempur ini masih dapat beroperasi pada tahun 1970 berkat bantuan beberapa teknisi dari Ceko. Hal inilah yang membuat jet tempur yang dahulunya berada di Skuadron 15 atau Kesatuan Pendidikan 017 yang berada di Yogyakarta harus dipensiunkan dini.
Meskipun kurang dikenal oleh masyarakat luas dibandingkan jet-jet tempur lainnya yang pernah dioperasikan oleh Indonesia, akan tetapi beberapa unit Jet Aero L-29 ini bisa ditemui di beberapa museum seperti Museum Dirgantara Adisucipto, Yogyakarta. Keberadaan satu unit jet latih L-29 ini juga membuktikan bahwa dahulu kita juga pernah mengoperasikan jet tempur buatan negara selain Uni Soviet pada masa orde lama.
Video yang Mungkin Anda Suka.
Tag
Baca Juga
-
Masuk Radar John Herdman, Gelandang Madura United Jordy Wehrmann Siap Jadi WNI?
-
Shayne Pattynama Gabung Persija Jakarta, Peluang Main di Timnas Makin Besar
-
Bertemu Lawan-Lawan Mudah, Timnas Indonesia Wajib Maksimalkan Ajang FIFA Series!
-
Jumpa Bulgaria di FIFA Series 2026, Bagaimana Peluang Indonesia Raih Kemenangan?
-
Pulih dari Cedera, Shayne Pattynama Dirumorkan Merapat ke Liga Indonesia?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Gie dan Surat-Surat yang Tersembunyi: Belajar Integritas dari Sang Legenda
-
Malang Dreamland Tawarkan Liburan Mewah Dengan View Instagenic
-
Belajar Tentang Cinta dan Penerimaan Lewat 'Can This Love Be Translated?'
-
Pendidikan Kaum Tertindas: Saat Sekolah Tak Lagi Memanusiakan
-
Seri Kedua Novel Na Willa: Konflik dan Kisah Lama Masa Kanak-Kanak
Terkini
-
Fresh Graduate Jangan Minder! Pelajaran di Balik Fenomena Open To Work Prilly Latuconsina
-
Misi Damai di Luar, Kegelisahan di Dalam: Menggugat Legitiminasi Diplomasi
-
Hadapi Sengketa Pajak Rp230 Miliar, Cha Eun Woo Gandeng Firma Hukum Kondang
-
Transformasi AI dalam Ekonomi Kreatif Indonesia: Peluang Emas atau Ancaman?
-
4 Ide Outfit Simpel ala Ranty Maria, Nyaman dan Tetap Modis