Perkembangan industri kedirgantaraan Indonesia sejatinya telah dirintis pada masa-masa awal pasca proklamasi kemerdekaan. Pada saat itu, Indonesia mulai memproduksi glider sendiri yang dikenal dengan nama NWG-1.
Selanjutnya, Indonesia mencoba memproduksi pesawat dengan bahan-bahan yang mudah didapat pada masa revolusi. Pesawat yang dibangun dengan serba keterbatasan karena sedang berperang melawan Belanda tersebut dikenal dengan nama WEL-1.
Seiring berkembangnya waktu, kemudian didirikannya LAPIP (Lembangan Persiapan Industri Penerbangan) yang kelak akan menjadi PT. Dirgantara Indonesia kian mengembangkan pesawat-pesawat buatan dalam negeri yang diperuntukan pula untuk keperluan dalam negeri.
BACA JUGA: Desain Pesawat Lion Air Bikin Netizen Heboh, Bisa Mengambang di Air?
Karena sadar pada saat itu Indonesia masih memiliki keterbatasan dalam penguasaan teknologi, pemerintah kemudian melakukan program pembangunan pesawat lokal berdasarkan lisensi dari pesawat yang telah ada.
Program tersebut pada akhirnya menghasilkan pesawat yang dikenal dengan nama LAPIP/LIPNUR-Gelatik atau yang dapat disebut Gelatik.
1. Lisensi dari Pesawat Asal Polandia
Kedekatan Indonesia dengan beberapa negara blok timur ternyata juga memberikan dampak yang cukup positif dalam pengembangan teknologi kedirgantaraan di dalam negeri.
Salah satunya adalah dengan disetujuinya program produksi lisensi pesawat latih dasar yakni PZL-104 Wilga dari Polandia. Polandia saat itu memang merupakan negara Pakta Warsawa yang cukup aktif dalam hubungan bilateral dengan Indonesia.
Dilansir dari situs aviahistoria.com, pihak pemerintah Polandia melalui pabrikan PZL Warszawa-Okcie menyetujui kerjasama yang meliputi pelatihan sumber daya alam dan alih teknologi penerbangan kepada pihak Indonesia.
Program alih teknologi tersebut kemudian disetujui melalui pembayaran kredit jangka panjang selama 10 tahun. Sejatinya, LAPIP sebelum menghubungi pihak Polandia mencoba untuk melisensi pesawat buatan De Havilland, yakni De Havilland Otter.
Namun, dikarenakan biaya yang cukup tinggi dan tidak disetujuinya pembayaran jangka panjang membuat program tersebut dialihkan ke Polandia.
2. Diproduksi dan Disesuaikan dengan Keperluan Dalam Negeri
Produksi pesawat PZL-104 Wilga di dalam negeri kemudian disesuaikan dengan keperluan Indonesia dalam beberapa bidang.
Salah satu perubahan yang cukup signifikan yakni penggantian mesin yang awalnya merupakan mesin buatan blok timur, yakni Ivchenko AI-14RA digantikan dengan mesin buatan barat yakni Continental 250 hp.
Mesin tersebut dipilih karena ukurannya yang lebih kecil namun memiliki daya yang setara mesin aslinya. Selain itu, mesin tersebut juga cenderung mudah didapatkan.
Pesawat yang hasil modifikasi secara lisensi tersebut kemudian dikenal dengan nama Gelatik. Pesawat ini secara umum dipergunakan sebagai pesawat latih dasar, pesawat agrikultural dan pesawat serbaguna.
Dilansir dari situs wikipedia.com, pesawat yang diawaki oleh seorang pilot ini mampu membawa 3 orang penumpang. Pesawat ini mampu mencapai kecepatan terbang sekitar 190 km/jam dan memiliki daya jelajah sekitar 600 km.
BACA JUGA: Mengenal 8 Jenis Pesawat Pengebom yang Pernah Digunakan TNI
3. Digunakan sebagai Pesawat Pertanian oleh Indonesia
Selain dipergunakan sebagai pesawat latih dasar, pesawat ini juga digunakan sebagai pesawat semprot agrikultural atau pesawat pertanian di Indonesia.
Keberadaan pesawat ini juga menjadi salah satu inventaris yang dimiliki oleh skaudron pertanian AURI kala itu atau yang dikenal dengan nama Skuadro Satud Tani (Satuan Udara Pertanian).
Skuadron ini diketahui diperkuat beberapa unit pesawat gelatik guna menjalankan tugasnya dalam membantu memerangi hama pertanian.
Kiprah pesawat Gelatik di Indonesia tergolong cukup memuaskan karena memang sukses mengemban beberapa misi mulai dari pesawat latih hingga pesawat bantu pertanian.
Pesawat ini juga diketahui masih terbang hingga dekade 1980-an sebelum digantikan dengan pesawat sejenis yang lebih modern. Kini, pesawat Gelatik banyak menjadi koleksi di museum dan beberapa dirubah menjadi monumen di beberapa tempat.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Bakal Dipermanenkan Dewa United, Ivar Jenner Diambang Penurunan Karier?
-
Thom Haye Absen, Siapa yang Layak Jadi Jendral Lini Tengah Timnas Indonesia?
-
Justin Hubner di Belanda: Sudah Murah, Gacor, Eh Ditaksir PSV Eindhoven Pula!
-
Tunjukkan Performa Memukau, Ezra Walian Layak Comeback ke Timnas Indonesia!
-
Tanpa Matthew Baker dan Mierza? Bongkar Alasan Dua Pilar Utama Absen di Timnas U-19 Jelang AFF 2026!
Artikel Terkait
-
Fakta Menarik Deris Nagara, Mahasiswa Indonesia yang Jadi Presiden BEM di Colombia University
-
Jadwal Tanding 9 Wakil Indonesia di Perempat Final Thailand Masters 2023
-
Alasan Shin Tae-yong Bawa-bawa Lionel Messi saat Pimpin Latihan Timnas Indonesia U-20
-
Babak 16 Besar Thailand Masters 2023: 9 Wakil Indonesia ke Perempat Final, 4 Kandas!
-
5 Pemain Timnas Indonesia U-20 yang Berpotensi Susul Marselino Ferdinan ke Eropa
Ulasan
-
Novel Man Tiger, Misteri Pembunuhan Anwar Sadat dan Labirin Pengkhianatan
-
Tommy Shelby Kembali! Film Peaky Blinders: The Immortal Man Sajikan Fan Service yang Tajam
-
Bukan Tips Diet: Membedah Stigma dan Kebebasan dalam Novel Amalia Yunus
-
Review Jujur: Apa Kata Buku 'Muslim Milenial' Tentang Tren Hijrah dan Startup Islami?
-
Buku Skulduggery Pleasant: Gerbang Kiamat di Tangan Detektif Tengkorak
Terkini
-
Nostalgia Aroma Dapur Ibu: Kisah Hangat Memasak dengan Tungku Kayu Bakar
-
Menggugat Salam Tempel Saat Lebaran: Kenapa Anak Kecil yang Sering Dapat?
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
4 Cara Simpan Opor dan Rendang Tanpa Takut Basi, Sisa Lebaran Tetap Aman
-
5 Trik Jitu Jaga Kue Kering Lebaran Tetap Awet Renyah!