Novel 14 Days Isabella karya Caramel, diterbitkan oleh Kawah Media (Akad Media Cakrawala). Dan seolah menjadi ciri khas penerbit Akad, novel fiksi remaja ini bergenre family angst yang sarat akan emosi.
Kisah di novel ini mengajak pembaca menyelami perjalanan batin seorang gadis berusia 16 tahun bernama Isabella Seva Amorita, yang sepanjang hidupnya tumbuh tanpa pengakuan dan kasih sayang dari keluarga kandungnya sendiri.
Sejak halaman awal, simpati pembaca langsung tertuju pada Isabella. Di usia yang sangat muda, ia harus menerima perlakuan tidak adil dari orang-orang yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya. Ia mungkin gambaran anak fatherless di dunia nyata.
Sinopsis Novel
Isabella hidup bersama ayah dan saudara-saudaranya, namun keberadaannya seperti bayangan: ada, tetapi tak pernah benar-benar dilihat. Identitasnya dirahasiakan, perasaannya diabaikan, dan kasih sayang seolah menjadi sesuatu yang mustahil ia dapatkan.
Latar belakang keluarga Isabella menjadi sumber utama konflik. Ia adalah anak dari Angga, seorang pengusaha kontraktor ternama, dan Kania, pelukis terkenal di era 2000-an. Kebahagiaan keluarga itu runtuh ketika Kania meninggal dunia akibat penyakit jantung setelah melahirkan Isabella.
Sejak saat itu, Angga menyalahkan Isabella atas kematian istrinya. Kebencian tersebut menular kepada dua kakak kembarnya, Gara dan Bara, yang tumbuh dengan anggapan bahwa Isabella adalah sumber penderitaan keluarga.
Di tengah dinginnya keluarga kandung, Isabella justru mendapatkan kehangatan dari Sofia, sahabat mendiang ibunya, yang merawatnya sejak bayi dan kemudian menikah dengan Angga. Namun, kehadiran saudara tiri bernama Anvaya sebagai anak yang sangat dicintai Angga, semakin menegaskan posisi Isabella sebagai anak yang tersisih.
Keadaan makin berat ketika Isabella mengetahui bahwa ia juga mewarisi penyakit jantung turunan, membuat hidupnya selalu berada dalam bayang-bayang kehilangan.
Novel ini mencapai titik emosionalnya ketika Isabella menyusun sebuah rencana menjelang ulang tahunnya. Ia membuat “misi 14 hari”, sebuah usaha terakhir agar keluarganya, terutama sang ayah, bisa menerima dan menyayanginya.
Perlahan, dinamika keluarga mulai berubah. Bara menunjukkan kepedulian, disusul Gara yang mulai melunak setelah mengalami mimpi buruk tentang kehilangan Isabella. Namun, tantangan terbesar tetap datang dari Angga yang belum sepenuhnya mampu berdamai dengan masa lalu. Puncak penderitaan Isabella terjadi ketika perundungan yang dialaminya membuat kondisi kesehatannya memburuk hingga harus dirawat di rumah sakit.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Kekuatan utama novel ini terletak pada pesan moralnya. 14 Days Isabella mengajarkan pentingnya keteguhan hati, harapan, dan keberanian untuk mencintai diri sendiri di tengah penolakan. Dua kata sederhana yang sering diucapkan Isabella, “Semangat, aku!”, terasa begitu menghantam karena mencerminkan upaya seseorang untuk bertahan saat tak ada siapa pun yang memeluknya.
Meski demikian, novel ini memiliki kekurangan. Bagian akhir cerita terasa agak tergesa dan kurang dieksplorasi secara mendalam. Selain itu, penokohan cenderung berfokus pada Isabella dan keluarganya, sementara karakter lain kurang mendapat pengembangan yang kuat.
Secara keseluruhan, 14 Days Isabella adalah novel yang emosional dan relevan, terutama bagi pembaca yang menyukai kisah tentang keluarga, penerimaan, dan persahabatan. Sebuah cerita yang mengingatkan bahwa kasih sayang memang idealnya datang dari keluarga, tetapi ketika itu tak ada, harapan dan keteguhan hati bisa menjadi alasan untuk tetap hidup dan bertahan.
Identitas Buku
- Judul: 14 Days Isabella
- Penulis: Caramel
- Penerbit: Akad Media Cakrawala
- Tahun Terbit: Juni 2024
- ISBN: 978-623-5953-82-3
- Tebal: 252 Halaman
- Kategori/Genre: Fiksi, Family-Angst
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh
-
Fakta Ironisnya: Ketika MBG Hanya Menanggung 1/9 Biaya Makan Keluarga
-
Empati Tidak Harus Menunggu Korbannya Menjadi Keluarga Kita
-
Negara Ring of Fire, Mengapa Anggaran Bencana Masih Seperti Lelucon?
-
Di Hadapan Bencana, Negara Harus Bicara tentang Mitigasi dan Tanggung Jawab
Artikel Terkait
-
Kejamnya Label Sosial Tanpa Pandang Umur di Novel 'Dia yang Haram'
-
Review Novel O Eka Kurniawan: Satir Pedas Tentang Monyet Berambisi Jadi Manusia
-
Membedah Makna Damai di Buku Seneca Filsafat Hidup Bahagia
-
Ulasan Novel The Devil Who Tamed Her: Intrik Cinta di Kalangan Bangsawan
-
Ulasan Novel Muslihat Berlian: Perburuan Masa Depan yang Keseleo!
Ulasan
-
Saat Cinta Datang Terlambat: Belajar Merelakan dari Lagu Raim Laode "Dunia yang Nanti"
-
Belajar dari The Early Spring: Jangan Meremehkan Orang yang Sedang Berjuang
-
Review The Potato Lab: Kisah Cinta di Balik Laboratorium Kentang
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Lagu Mungkin di Depan Buram dan Harapan di Tengah Ketidakpastian Masa Depan
Terkini
-
Single Life Bukan Kegagalan: Saat Perempuan Tak Lagi Takut Hidup Melajang
-
Ponsel Lipat Harga Mulai Rp30 Juta! Apa Saja Kehebatan iPhone Duo?
-
Jelang Piala Asia 2027, Timnas Indonesia Dijadwalkan Hadapi Tim Peringkat 63 Dunia di Kandang Lawan?
-
Bye Pori Tersumbat! 4 Cleanser Volcanic untuk Kulit Mulus Bebas Komedo
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh