Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta juga menyimpan segudang pesona wisata. Adalah Mangrove Jembatan Api-Api yang disingkat dengan MJAA, sebuah ekowisata berlokasi di daerah pantai Pasir Mendit, Jangkaran, Kecamatan Temon. Lokasi ini berjarak sekitar enam kilometer dari Yogyakarta International Airport atau sekitar lima belas menit perjalanan.
Arahkan kendaraan ke jalan lintas Wates-Purworejo dan berbelok ke kiri di pertigaan persis dekat kantor PLN jaga Temon, setelah itu pengunjung akan bertemu dengan Jalan Daendels Pantai Selatan. Terus saja melintasi jalan ini ke arah barat dan menyeberangi jembatan congot. Tak jauh dari jembatan ini akan ada petunjuk menuju MJAA. Uniknya, lokasi ini berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.
Ketika melintasi perkampungan warga, pengunjung akan melewati perkebunan kelapa dan juga melewati area persawahan melintasi Jalan Wanatirta hingga akhirnya sampai di destinasi wisata MJAA. Pengunjung akan diarahkan memarkirkan kendaraannya di tempat yang telah disediakan pengelola dengan 5 ribu rupiah biaya parkir mobil dan 2 ribu rupiah biaya parkir kendaraan roda dua.
Jembatan penyeberangan dari bambu
Pengunjung akan melihat jejeran warung warga yang menjajakan dagangannya, mulai dari makanan tradisional, makanan serta minuman lainnya.
Menapaki jembatan di area depan MJAA yang terbuat dari perpaduan bambu dan kayu dibuat sedemikian rupa, pengunjung akan melihat tambak udang di sepanjang area ini lengkap dengan kincir-kincir air serta terdengar jelas suara mesin penggeraknya. Memang, lokasi ini menjadi salah satu tempat budidaya udang karena berada di pinggir area pantai.
Setelah menyeberangi jembatan, pengunjung akan langsung disuguhkan dengan pohon-pohon mangrove dan dari sinilah persimpangan jalan akan menuju ke area-area hutan mangrove lainnya. Pengunjung dapat mengeksplore dan mencoba menelusuri wilayah hutan mangrove yang begitu asri.
Menyusuri hutan mangrove
Jembatan-jembatan pun memiliki model beragam, dibuat menyerupai hewan, menara tinggi menjulang dengan berbagai model bahkan berbentuk kapal. Keseluruhan bangunan yang dibuat pada umumnya berbahan dasar bambu sehingga menjadi daya tarik pengunjung untuk menikmati spot-spot foto jika berkunjung ke area ini.
Pengunjung pun juga dapat menaiki perahu nelayan yang menawarkan jasanya untuk mengelilingi sungai area mangrove ini. Jika malam tiba, area hutan mangrove akan diterangi dengan lampu warna-warni yang menambah keindahannya.
Penasaran? datang dan berkunjunglah ke MJAA Kulon Progo, nikmati keindahan pesona alam hutan mangrovenya.
Baca Juga
-
Cahaya Malam dan Romantisme Muara: Menikmati Denyut Kehidupan di Jembatan Siti Nurbaya
-
Gentala Arasy, Simbol Kejayaan Islam Kebanggaan Negeri Sepucuk Jambi
-
Rewang Sebagai Perekat Hati, Menilik Tradisi Masak Basamo di Muaro Jambi
-
Full Daging, Menikmati Sensasi Bakso Autentik ala Cak Wawan di Kota Jambi
-
Nauelle Patisserie, Keajaiban Rasa Premium yang Lahir dari Dapur Rumahan
Artikel Terkait
-
Ini 6 Rekomendasi Destinasi Wisata Luar Negeri, Bisa Sambil Puasa di Negara Ramah Muslim
-
Takjub! Megahnya Masjid Agung Al-Falah Jambi, Dijuluki Masjid 1000 Tiang
-
Lagi Hits, Inilah Beberapa Tempat Ngabuburit Paling Asyik dan Keren di Tasikmalaya
-
Awas! Longsor Mengintai Kawasan Wisata Telaga Ngebel Ponorogo!
-
Ngabuburit di Gunung Bromo, Menikmati Keindahan Alam dan Ciptaan-Nya : Suasananya...
Ulasan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Ketika Jurnalisme Bertemu Konspirasi Kelas Dunia di Buku The Sky is Falling
-
Bukan Cinta Biasa: Pelajaran Hidup tentang 'Tumbuh Bersama' dari Film Shaka Oh Shaka
-
Novel "Nyala yang Tak Pernah Padam": Saat Luka Tidak Membuatmu Menyerah
-
Cahaya Malam dan Romantisme Muara: Menikmati Denyut Kehidupan di Jembatan Siti Nurbaya
Terkini
-
Obral Izin Masuk Berujung Bencana: Ketika Bandar Judi Internasional Menyamar Jadi Wisatawan
-
Lagu K-Pop Full Bahasa Inggris: Strategi Bisnis atau Tanda Berakhirnya Era Lokal?
-
Wajah Glowing Instan! Ini Rahasia Eksfoliasi Lembut dengan Ekstrak Apel
-
Kedaulatan di Ujung Algoritma: Alasan Saya Stop Mengikuti Rekomendasi FYP
-
Flexible Working Hour dan Batas Hidup Pekerja yang Semakin Kabur