Bagus, bahkan sangat bagus dan layak menjadi rujukan tentang pentingnya mendahulukan akhlak daripada ilmu pengetahuan lainnya. Itulah kesan pertama ketika saya membaca buku Adab di Atas Ilmu ini.
Buku ini tidak hanya bermanfaat bagi murid, namun juga memberi manfaat kepada guru. Hadirnya buku seperti ini laksana sumber mata air di tengah padang sahara. Sebab, belakangan ini banyak sekali orang yang menganggap remeh adab dan menomorsatukan ilmu pengetahuan daripada akhlak.
BACA JUGA: 4 Rekomendasi Novel tentang Kasih Tak Sampai, Nyesek Banget!
Karena, buat apa ilmu jika tidak bermanfaat? Kenapa ilmu yang didapat tidak mengandung kemanfaatan? Salah satu alasannya sebab ilmu yang didapat tanpa adanya adab. Ia memperoleh ilmu, namun tidak menghargai guru, tidak menghormati guru, kurang sopan kepada guru, membentak guru, melawannya dan sebagainya. Tidak hanya itu, namun ia juga tidak tahu tatakrama menghargai ilmu, adab membawa kitab, akhlak meletakkan kitab, dan lain semacamnya.
Oleh karena itu, hadirnya buku ini di zaman sekarang sangatlah tepat. Jadi, tidak layak jika kita abaikan kehadirannya.
Di bagian awal, buku ini dimulai dengan penguraian biografi Imam Nawawi selaku pengarang kitab Adab al-Alim wa al-Muta'allim wa Adab al-Mufti wa al-Mustafti yang telah diterjemahkan ke dalam buku ini. Hal ini penting taruh di awal sebelum pembahasan lain, agar para pembaca mengetahui bahwa buku yang sedang mereka baca adalah karya penulis yang luar biasa. Selian mendapat ilmu yang akan didapat dari membaca, dengan mengenal sejarah hidup penulis, pembaca juga bisa mengambil banyak teladan.
Membaca biografi Imam Nawawi di bagian awal buku ini, kita dapat mengenal bahwa Yahya bin Syaraf adalah namanya, An-Nawawi adalah desa kelahirannya, Ad-Dimasyqi adalah tempat tinggalnya, As-Syafi'i adalah mazhab fikihnya, Al-Asy'ari adalah mazhab akidahnya, dan Muhyiddin adalah gelar kehormatannya.
Berkenaan dengan etika guru dalam belajar, ada beberapa poin yang disebutkan dalam buku ini. Antara lain, dalam belajar, seorang guru harus mampu mengambil ilmu dari siapa pun. Artinya tidak memandang perbedaan umur, nasab, ketenaran, atau bahkan agama sekali pun.
Sementara etika guru dalam mengajar, salah satunya, yaitu mengajar harus diniatkan untuk mencari ridha Allah, tidak menghalangi siapapun untuk belajar, mendidik murid secara bertahap sesuai dengan kadar kemampuan murid, harus mencintai ilmu yang akan diajarkan, peduli terhadap keadaan murid-muridnya, dan lain sebagainya.
BACA JUGA: Meniru Semangat Belajar Tiga Ulama Nusantara yang Mempengaruhi Dunia
Sedangkan etika murid dalam belajar, antara lain: menyucikan hati dari hal-hal yang akan mengotori niatnya, harus menyingkirkan segala sesuatu yang mengganggu konsentrasi belajarnya, harus rendah hati terhadap ilmu yang dipelajari, harus melihat guru dengan tatapan kemuliaan, harus mencari keridhaan gurunya, tidak bisa sesuka hati masuk ke ruangan guru tanpa seizinnya, memasuki ruang majelis dengan mengucapkan salam, dan seterusnya.
Inilah adab ulama-ulama terdahulu yang lebih mendahulukan adab daripada ilmu. Semoga bermanfaat.
Baca Juga
-
Bangkit dari Post Holiday Blues Usai Mudik Lebaran: 7 Cara Cerdas Balik ke Realita Tanpa Drama
-
OPPO Watch X3 Mini Bocor, Siap Jadi Smartwatch Andalan dengan Fitur Premium
-
Samsung Galaxy A57 Segera Rilis: Tipis, Kencang, dan Makin Ngegas di KelasMid-Range
-
Batal Debut September 2026, Ini Bocoran Tanggal Peluncuran iPhone Fold Terbaru
-
Cari Tablet Murah yang Bisa Telepon? 4 Rekomendasi Tablet dengan SIM Card 2026 yang Layak Dipinang
Artikel Terkait
-
4 Manfaat Baca Buku saat Hamil, Bisa Mengasah Otak Bayi di Dalam Kandungan!
-
Dari RUPST Astra 2023: Laporan Tahunan untuk Tahun Buku 2022 Disetujui
-
5 Adab Bertamu dalam Islam, Yuk Amalkan saat Hari Raya Idulfitri!
-
Meniru Semangat Belajar Tiga Ulama Nusantara yang Mempengaruhi Dunia
-
Studi Analisis Tentang Konsep Jiwa Melalui Psikologi Islam Karya Ibnu Sina
Ulasan
-
Khusus Dewasa! Serial Vladimir Sajikan Fantasi Erotis Profesor Sastra yang Tak Terkendali
-
Review Abang Adik: Siap-siap Banjir Air Mata dari Kisah Pilu Dua Saudara
-
Novel When My Name Was Keoko, Perjuangan Identitas di Bawah Penjajahan Jepang
-
Menjaga Kesehatan Mental dengan Bercerita dalam Buku Psikologi Cerita
-
Dinamika Kehidupan dan Filosofi Man Shabara Zhafira dalam Karya Ahmad Fuadi
Terkini
-
Annyeonghaseyo! Korea Gratiskan Visa Liburan WNI, Syaratnya Cuma Gak Boleh Pergi Sendiri
-
Rahasia Hutan Ajaib
-
Bangkit dari Post Holiday Blues Usai Mudik Lebaran: 7 Cara Cerdas Balik ke Realita Tanpa Drama
-
HP Panas Padahal Gak Main Game? Waspada, Mungkin Ada "Tamu Tak Diundang" Lagi Ngintip
-
Bukan soal Nominal, Ini Alasan Pentingnya Menghargai Nilai dari Uang Kecil