Pendidikan menjadi bekal bagi setiap orang untuk menjalani kehidupan lebih baik. Dengan pendidikan, hidup akan menjadi lebih terarah dan teratur. Oleh karenanya, pendidikan menjadi sebuah hal yang harus terus diprioritaskan dalam hidup ini.
Bicara tentang begitu pentingnya pendidikan dalam hidup ini, kita bisa membaca kisah Malala, gadis kecil yang begitu gigih memperjuangkan pendidikan. Demi bisa terus sekolah, dia tak gentar melewati rintangan yang membahayakan dirinya dan teman-teman sekolahnya.
Kita bisa membaca kisah tentang Malala yang begitu inspiratif dalam memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan dalam buku "I Am Malala, Gadis Kecil Ditembus Peluru Demi Sekolah" karya Nur Ihsan, diterbitkan oleh Kata Media (2013). Berikut ringkasan kisahnya:
Nama lengkapnya Malala Yousafzai. Usianya masih sangat belia, tetapi keberaniannya melebihi singa gurun. Dia adalah pelajar kelahiran Mingora, Lembah Swat, Pakistan, 12 Juli 1997. Sejak berusia 11 tahun, dia telah aktif menjadi aktivis pendidikan anak perempuan. Bahkan, dia menyatakan dirinya sebagai seorang aktivis pembela hak-hak perempuan. Dia sangat peduli terhadap isu-isu perempuan, terutama pendidikan anak perempuan.
Dengan keberanian luar biasa, kepandaian menulis, kecakapan berkomunikasi dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris, Malala memperjuangkan hak perempuan Pakistan untuk bersekolah dan menentang represi Taliban terhadap kaum perempuan di Lembah Swat. Dengan gigih, dia terus menyuarakan hak anak perempuan dalam mendapatkan pendidikan.
Dalam pemikiran Malala, pendidikan adalah hak dasar bagi setiap orang. Maka, hanya dengan bersenjata keyakinan dan dukungan kuat dari ayahnya, dia menolak dibungkam. “Aku harus bersuara. Jika aku diam, siapa yang akan berbicara?” ujarnya. Dia juga pernah berpidato dengan berani bahwa perempuan harus memiliki akses pendidikan yang sama dengan laki-laki.
Tindakan Malala tentu bukan tanpa risiko. Taliban semakin gerah dengan sepak terjangnya. Tengah hari, Selasa, 9 Oktober 2012, dia ditembak di dalam bus sekolah oleh kelompok Taliban. Dua buah peluru bersarang di tubuhnya, satu di kepala dan satu lagi di tenggorokan. Kondisinya sangat kritis. Ajaibnya, ia selamat. Keadaannya pun berangsur semakin baik.
Kisah Malala yang begitu gigih dalam memperjuangkan hak perempuan mengenyam pendidikan begitu inspiratif dan bisa memompa semangat siapa saja untuk terus belajar, mencari ilmu setinggi-tingginya.
Semoga kita semua menjadi pribadi pembelajar. Jangan pernah lelah untuk terus mencari ilmu di mana pun kita berada, selama hayat masih di kandung badan.
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
-
Tanggapan Kemendikbud Soal Ramai Orang Tua Murid Protes Wisuda SD-SMA
-
CEK FAKTA: Nonton Timnas di Surabaya, Ribuan Suporter Teriakkan Anies Presiden
-
6 Pemain Timnas Indonesia yang Layak Bermain Lawan Argentina Setelah Absen Lawan Palestina
-
Keren! Suporter Indonesia Pungut Sampah usai Laga Kontra Palestina di GBT
-
Ulasan Buku Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar karya Richard Carlson
Ulasan
-
Teach You A Lesson vs Study Group: Drakor Mana yang Paling Recommended?
-
Review Drama Filing For Love: Angkat Isu Fatherless yang Bikin Mewek
-
Review Drama Korea Your Honor: Ketika Keadilan Tak Lagi Hitam Putih
-
Novel Bandung Menjelang Pagi: Sisi Gelap Kota Kembang ala Brian Khrisna
-
Menyusuri Lorong Rindu dalam Antologi Puisi Bertemu di Temaram
Terkini
-
Tak Harus Daur Ulang, Merawat Barang Juga Bentuk Gaya Hidup Less Waste
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Saat Stabilitas Negara Dibayar oleh Dapur Rumah Tangga
-
Piala Dunia 2026 dan Tantangan Menjaga Tempat Nobar agar Tetap Bersih
-
Kematian Ruang Diskursus: Mengembalikan Roh Penny University di Tengah Bisingnya Kafe Estetik
-
Sekilas Mirip Vario, Brusky 125 Jadi Skutik Pertama Kawasaki di Indonesia