Produsen alutsista di era modern ini tentunya didominasi pabrikan yang berasal dari Amerika Serikat, Rusia, Cina dan beberapa negara Eropa. Namun, Indonesia melalui beberapa perusahaan di bidang militer tentunya juga mulai mengembangkan beragam sistem persenjataan untuk memenuhi kebutuhan pertahanan dalam negeri. Salah satu pabrikan persenjataan dalam negeri yang cukup populer adalah PT. Pindad.
PT. Pindad sendiri telah memproduksi beragam persenjataan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan TNI, Polri dan lembaga terkait di dalam negeri. Salah satu produk persenjataan unggulan dar terbaru dari PT. Pindad adalah Pindad Badak yang merupakan jenis kendaraan tempur untuk TNI-AD.
Dikembangkan Dari Pindad Anoa 6x6
Melansir dari situs pindad.com, ranpur Pindad Badak adalah kendaraan tempur baru yang dikembangkan dari Pindad Anoa 6x6 yang juga merupakan pengembangan dari kendaraan tempur VAB (Véhicule de l'Avant Blindé) buatan Prancis. Anoa sendiri merupakan salah satu produk unggulan produksi PT. Pindad yang telah sukses diproduksi sebanyak ratusan unit sejak tahun 2006 silam.
Ranpur Pindad Badak atau yang juga dikenal dengan nama Panser Badak mulai dikembangkan dari basis kendaraan Anoa sejak tahun 2008 silam. Kendaraan ini direncanakan akan menggantikan kendaraan tempur yang jauh lebih tua, yakni Alvis Saladdin buatan Inggris yang telah digunakan oleh TNI-AD sejak tahun 1962. Ranpur ini juga diproyeksikan sebagai ranpur pengganti dari Cadillac Cage Commando V-150 90 mm yang dibeli tahun 1970-an.
Memiliki Meriam Kaliber 90 mm
Sebagai kendaraan bantuan tembakan atau Fire Support Vehicle (FSV), Pindad Badak tentunya dilengkapi oleh turret yang mampu membawa meriam kaliber besar. Melansir dari situs pindad.com dan janes.com, Pindad Badak dipersenjatai meriam kaliber 90 mm buatan pabrikan Cockerill dengan tipe MkIII M-A1. Meriam ini tentunya lebih besar dibandingkan meriam Alvis Saladdin yang hanya memiliki kaliber 76 mm, namun masih seukuran dengan meriam V-150 yang juga mengusung kaliber 90 mm. Pindad Badak juga dilengkapi persenjataan sekunder, yakni senapan mesin kaliber 7.62 mm atau 12.7 mm yang terpasang pada bagian atas turret.
Ranpur ini sendiri dioperasikan oleh 3 orang untuk kondisi standar dan mampu dioperasikan oleh 2 orang apabila dalam kondisi terdesak. Ranpur ini juga dilengkapi dengan teknologi laser range-finder guna membantu mempercepat proses penargetan. Selain itu, Pindad Badak dilindungi oleh armor berjenis STANAG 4569 level 3 yang mampu menahan tembakan senapan mesin kaliner 7.62 mm.
Ranpur badak sendiri ditenagai oleh mesin diesel inline 6 yang mampu membuat kendaraan ini melaju dengan kecepatan 80 km/jam dan menempuh jarak hingga 800 km dengan bahan bakar penuh. Melansir dari situs pindad.com, pihak TNI-AD memesan sekitar 18 unit ranpur Badak ini dengan 7 unit telah diserahkan pada tahun 2022 lalu. Rencananya sisa dari pesanan tersebut akan diserahkan pada kurun waktu 2024-2025 nanti dengan proyeksi penambahan unit dipemesanan selanjutnya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Prancis Tersingkir, Taktik Individualis Didier Deschamps Resmi Gagal Total?
-
Lebih dari Sepak Bola, Inggris vs Argentina Jadi Laga Sarat Muatan Politik
-
Skandal Kartu Merah Piala Dunia: Bom Waktu yang Dipasang Sendiri oleh FIFA?
-
Dari Euro 1992 ke Piala Dunia 2026: Benarkah Skandinavia Sedang Menuju Masa Kejayaan Baru?
-
Comeback yang Berakhir Air Mata: Mengapa Piala Dunia 2026 Jadi Mimpi Buruk Neymar?
Artikel Terkait
-
Bacuya Maskot Piala Dunia U-17, Hewan yang Sudah Terancam Punah?
-
Rekam Jejak Ranpur Legendaris BTR-50 dalam Dinas Militer TNI
-
Soal Wacana Revisi UU Peradilan Militer, Busyro Muqoddas: Itu Lagu Lama
-
Mengenal Krasnopol, Peluru Artileri Berpemandu Andalan Militer Rusia
-
Sejarah Hari Ini: Berakhirnya Pertempuran Tannenberg, Prusia Tahun 1914
Ulasan
-
It Ends With Us, Novel yang Membuka Mata tentang Toxic Relationship
-
Ulasan Cek Khodam: Saat Tren Viral Berubah Jadi Komedi Horor yang Segar!
-
Lastri: Arwah Kembang Desa dan Perempuan yang Selalu Dikambinghitamkan
-
Review Serial Marc by Sofia: Estetika Sunyi Sofia Coppola yang Memesona
-
Belajar dari Bear di Film Obsession: Keinginan yang Tak Pernah Terpuaskan
Terkini
-
Dilema Guru Swasta: Gaji Kecil, tetapi Dianggap Sudah Beruntung
-
Ironi Kelas Menengah: Masihkah Menjadi Dokter Sebuah Mimpi yang Masuk Akal?
-
Lampaui Colony, HOPE Jadi Film Tercepat Raih 1 Juta Penonton di 2026
-
Avatar Aang Resmi Tayang Terbatas di Bioskop demi Lolos Kualifikasi Oscar
-
Escapism di Layar: Mengapa Konten Flexing Laku Keras di Media Sosial?