Film horor "Kajiman: Iblis Terkejam Penagih Janji" tayang 18 Mei 2023, mengisahkan kisah mencekam yang disutradarai oleh Adriyanto Dewo dan dibintangi oleh Aghniny Haque, Jourdy Pranata, dan Tyo Pakusadewo. Film ini juga diperkaya dengan kolaborasi talenta di balik layar: termasuk penata musik Rahadian Winursito, sinematografer Tri Adi Prasetyo, dan tim penyunting yang terdiri dari Kelvin Nugroho dan Arifin Cu'unk. Produksi film ini dibawakan oleh Relate Films dan Visionari Capital.
Kisahnya mengenai Asha (Aghniny Haque), seorang perawat yang baru saja kehilangan ibunya, berusaha melanjutkan hidupnya meskipun masih terasa kesedihan mendalam. Keputusannya untuk bekerja sebagai perawat homecare membawanya ke rumah Ismail (Tyo Pakusadewo), yang menderita penyakit misterius.
Namun, pekerjaan Asha nggak berjalan semulus yang diharapkan. Sebagai perawat di rumah Ismail, Asha mengalami gangguan dan kejadian mistis yang mencekam. Suara ibunya yang telah meninggal pun sering terdengar olehnya. Teror gaib yang Asha alami semakin intens, mendorongnya untuk mencari tahu lebih lanjut tentang kejadian misterius tersebut.
Asha nggak menghadapi tantangan ini sendirian. Dia meminta bantuan dari temannya, Rama (Jourdy Pranata), untuk bersama-sama menyelidiki situasi yang menakutkan di rumah Ismail. Keputusan mereka untuk mengungkap misteri ini membuka lapisan-lapisan ketegangan dan kengerian yang menguji keberanian mereka.
Ulasan:
Film Kajiman: Iblis Terkejam Penagih Janji, berhasil menjaga elemen horornya mulai dari awal hingga akhir. Filmnya menawarkan pengalaman yang menegangkan dan seru bagi penontonnya. Efek CGI yang digunakan untuk menampilkan penampakan iblis dapat dianggap cukup memuaskan, alias nggak norak bentuknya.
Sayangnya, pilihan tone warna yang cenderung gelap dalam film ini menjadi suatu hambatan. Bagi beberapa penonton, suasana yang terlalu gelap mungkin membuat pengalaman menonton kurang nyaman. Meskipun demikian, aspek teknis pengambilan gambar film ini patut diapresiasi karena berhasil mengekspresikan nuansa yang diinginkan.
Salah satu kelebihan film ini terletak pada pengembangan cerita, yang membuatku penasaran tetap penasaran hingga akhir. Ending yang dihadirkan juga memberikan wawasan tambahan dan menyiratkan kompleksitas. Yah, biasanya film dalam penyuguhan ‘ending’ selalu di antara ‘bad’ atau ‘good’ ending, tapi untuk film ini kalian bisa tonton sendiri saja nanti pas tayang di Platform Streaming, ya.
Aksen dialog yang terasa alami ketika karakter harus berbicara dalam bahasa Jawa, terutama dalam adegan-adegan kerasukan, merupakan nilai tambah yang memberikan keaslian pada keseluruhan produksi. Namun, tetap saja film ini memang nggak dapat dinikmati oleh semua penonton, terutama yang merasa terganggu oleh suasana gelap dan ritme yang lambat. Meski demikian, penilaian pribadi dariku: 6/10. Skor ini menunjukkan bahwa filmnya masih memiliki daya tariknya sendiri, walaupun dengan kekurangan yang dimilikinya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Obsesi Viral: Bagaimana Film Baru Warkop DKI Menyentil Fenomena 'Haus Validasi' di Medsos?
-
Bagaimana Backrooms dari Foto Anonim Jadi Fenomena Horor Psikologis Dunia?
-
Dibalik Estetika yang Memanjakan Mata, Another World Mengajarkan Cara Berdamai dengan Masa Lalu
-
Film Colony dan Kaitannya dengan Sains yang Hilang Nurani dan Moralitas
-
Film Ghost in the Cell Kini Tayang di 148 Negara, Masa Kamu Nggak Mau Tahu?
Artikel Terkait
-
3 Film dan Series Bima Azriel, Kerap Jadi Anak dalam Keluarga Bermasalah
-
8 Adu Pesona Shin Dong Mi dan Kang Mina di Welcome to Samdalri, Drakornya Langsung Curi Perhatian
-
Review Film A Quiet Place II, Perjuangan Melawan Monster dalam Diam
-
Perbandingan antara Novel dan Series 'Gadis Kretek', Dua-duanya Bombastis!
-
Episode Terakhirnya Raih Rating di Atas Rata-rata, Intip 8 Potret di Balik Layar Castaway Diva
Ulasan
-
Teach You A Lesson vs Study Group: Drakor Mana yang Paling Recommended?
-
Review Drama Filing For Love: Angkat Isu Fatherless yang Bikin Mewek
-
Review Drama Korea Your Honor: Ketika Keadilan Tak Lagi Hitam Putih
-
Novel Bandung Menjelang Pagi: Sisi Gelap Kota Kembang ala Brian Khrisna
-
Menyusuri Lorong Rindu dalam Antologi Puisi Bertemu di Temaram
Terkini
-
Tak Harus Daur Ulang, Merawat Barang Juga Bentuk Gaya Hidup Less Waste
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Saat Stabilitas Negara Dibayar oleh Dapur Rumah Tangga
-
Piala Dunia 2026 dan Tantangan Menjaga Tempat Nobar agar Tetap Bersih
-
Kematian Ruang Diskursus: Mengembalikan Roh Penny University di Tengah Bisingnya Kafe Estetik
-
Sekilas Mirip Vario, Brusky 125 Jadi Skutik Pertama Kawasaki di Indonesia