Pernahkah kamu merasa tidak enak untuk menolak permintaan orang lain yang sebenarnya kamu enggan untuk menerimanya? Mereka menggunakan kata-kata yang halus dan tampak memanfaatkan perasaanmu untuk memenuhi keinginan pribadinya. Jika iya, maka buku 'Emotional Blackmail' karya Zhou Mu Zi menjadi bacaan yang tepat buat kamu.
Emotional Blackmail pada buku ini adalah bentuk pemerasan emosional yang dilakukan seseorang (baik secara sadar atau tidak) dengan cara meminta, menekan, dan memeras perasaan orang lain hingga membuatnya takut atau merasa bersalah untuk menolak permintaan yang diajukan.
Buku ini rasanya akan sangat relate untuk kondisi banyak orang, mungkin termasuk kamu.
Ulasan buku 'Emotional Blackmail'
Saat membaca buku ini, isinya sangat relate dengan apa yang saya rasakan. Buku ini tidak terlalu tebal dan dibagi menjadi 3 bagian.
Buku Emotional Blackmail ditulis sesuai dengan budaya dan emosi orang Asia. Beberapa contoh kasus yang ditulis juga erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia.
Misalnya seperti budaya strict parents hingga membuat anak dicap "durhaka" jika menolak, budaya pengenalan di sekolah atau kampus oleh senior dengan melakukan hal aneh, dan sebagainya.
Dampak Emotional Blackmail yang dijelaskan pada buku ini adalah membuat korban merasa tidak enak hati untuk menolak permintaan orang lain.
Sering kali, orang yang melakukan emotional blackmail menggunakan kata-kata halus seperti "kamu nggak sayang ya sama aku?, kamu seharusnya bersyukur bisa melakukan ini, sekarang tolong kamu lakukan itu ya..", dan lain sebagainya.
Kata-kata tersebut bersifat manipulatif dan dapat membuat emosi korban terperas untuk memenuhi kebutuhan pribadi orang tersebut.
Alih-alih merasa bahagia, sikap emotional blackmail dari orang lain justru membuatmu merasa bersalah dan kebahagiaan mereka menjadi tanggung jawabmu. Sementara hal ini tentu sangatlah keliru.
Memang, di Indonesia sendiri sudah terbentuk budaya sopan santun yang tinggi hingga mengakibatkan mendebatkan suatu hal dianggap tidak sopan (untuk beberapa situasi). Hal ini dapat membuat seseorang merasa rendah diri, tidak mau menyampaikan pendapat, hingga merasa menuruti semua keinginan orang lain.
"Aku bertanggung jawab atas emosi diriku sendiri, tapi tidak bertanggung jawab atas emosi orang lain" menjadi salah satu kalimat di buku ini yang cukup memberikan makna mendalam.
Kita harus memahami diri sendiri dan membuat batasan emosional, sehingga segala keputusan yang kita pilih adalah sesuai hati nurani, bukan karena takut atau merasa bersalah.
Buku ini tidak hanya menyoroti masalah emosional yang sering terjadi, tapi juga memberikan tips untuk menghindari adanya pemerasan emosi dari orang lain.
Buku ini mengajarkan kamu untuk lebih menghargai dirimu sendiri dan membuat sadar bahwa kepentinganmu juga perlu diutamakan.
Kekurangan buku ini hanya ada pada beberapa topik yang terus diulang-ulang, sehingga pembaca akan merasa bosan.
Secara keseluruhan, buku ini sangat bagus untuk membuka pikiranmu serta menambah wawasan untuk meningkatkan kepercayaan diri. Bagi kamu yang sering merasa lelah karena membahagiakan orang lain, buku ini akan sangat cocok untuk kamu baca.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Buku Tenang Semua Akan Baik Baik Saja, Menemukan Tenang dalam Semesta Kecil
-
Kisah Inspiratif Mengejar Mimpi ke Negeri Kanguru Bersama Neng Koala
-
Rumah Lebah: Ketika Imajinasi Anak Menjadi Teror Nyata
-
Journal of Gratitude, Jurnal Cantik yang Mengajarkan Arti Bersyukur
-
Novel Teka-Teki Terakhir: Ketika Matematika Menjadi Petualangan Seru
Artikel Terkait
-
Ada Ernest Hemingway hingga Eka Kurniawan, Ini 5 Rekomendasi Buku yang Bisa Dijadikan Bantal Saking Tebalnya
-
Review Buku 'Nikola Maldini' Karya Kale: Mengukir Cerita Mimpi dan Keraguan
-
Review Novel 'Clover': Kisah Unik tentang Keajaiban dan Pertimbangan Hidup
-
Posisi Matahari Tepat di Atas Ekuator, Hati-Hati Naik Motor Cepat Emosi
-
Review Love for Imperfect Things: Memeluk Ketidaksempurnaan dengan Cinta
Ulasan
-
Novel When My Name Was Keoko, Perjuangan Identitas di Bawah Penjajahan Jepang
-
Menjaga Kesehatan Mental dengan Bercerita dalam Buku Psikologi Cerita
-
Dinamika Kehidupan dan Filosofi Man Shabara Zhafira dalam Karya Ahmad Fuadi
-
Na Willa, Film yang Berhasil Bikin Orang Dewasa Merasa Jadi Anak Kecil Lagi
-
Film Penerbangan Terakhir: Kritik Arrival Fallacy dalam Karier yang Sukses
Terkini
-
Bukan soal Nominal, Ini Alasan Pentingnya Menghargai Nilai dari Uang Kecil
-
HP Panas Padahal Gak Main Game? Waspada, Mungkin Ada "Tamu Tak Diundang" Lagi Ngintip
-
OPPO Watch X3 Mini Bocor, Siap Jadi Smartwatch Andalan dengan Fitur Premium
-
Klaim 100 Persen Rampung di Aceh: Keberhasilan Nyata atau Tabir Pencitraan?
-
4 Inspirasi Outfit Jaket ala Ian Hearts2Hearts, Youthful dan Trendy Abis!