Dalam kehidupan ini tidak ada hal yang abadi. Semua pergerakan kita akan dibatasi oleh waktu, dan setiap kelahiran akan menanti kematiannya. Agar segala sesuatu menjadi berharga, maka Tuhan membatasi hari-hari kita dengan waktu yang ditentukan.
Hal itulah yang kemudian menjadi premis utama dalam novel Sang Penjaga Waktu, atau 'The Time Keeper' karya Mitch Albom. Selain populer dengan novel Tuesday With Morrie-nya, The Time Keeper ini juga menjadi salah satu novel international bestseller dari penulis.
Novel ini bercerita tentang 3 tokoh utama, yakni Dor, Sarah, dan Victor, dengan mengambil latar yang berbeda-beda. Dikisahkan bahwa Dor adalah Sang Penjaga Waktu yang memiliki kemampuan untuk memperlambat dan mempercepat waktu.
Kemudian nasib mempertemukannya dengan Sarah, gadis yang hendak hendak bunuh diri. Sarah merasa depresi karena perundungan dan ditolak oleh seorang pemuda yang begitu ia cintai. Ia merasa tidak berharga dan tidak diinginkan di dunia ini.
Adapun Victor adalah seorang pengusaha yang berada diambang kematian namun berniat untuk melakukan krionika (pengawetan lewat medium es) terhadap tubuhnya. Hal itu dilakukan tak lain agar ia bisa kembali hidup di masa depan, ketika ilmu pengetahuan telah menemukan pengobatan yang canggih untuk penyakit mematikan yang ia derita.
Lalu datanglah Dor yang menggunakan kemampuannya dalam mengendalikan waktu untuk menolong Sarah dan Victor. Satu benang merah yang Dor simpulkan dari kasus dua sosok ini adalah mereka sama-sama orang yang kesepian. Dan Dor sangat familiar dengan hal itu karena ia pun merasa sangat kesepian dalam hidup.
"Saat kita sedang sangat sendirian, saat itulah kita bisa memahami kesepian orang lain." (Halaman 265)
Secara umum, novel ini memiliki jalan cerita yang unik. Alur berjalan maju mundur namun tetap tertata dengan baik. Meskipun ada 3 kisah yang mengangkat konflik yang berbeda-beda, namun penulis mampu meramunya dengan sangat apik.
Saya sangat terkesan dengan pesan-pesan moral yang diangkat oleh penulis mengenai makna waktu dan mengapa kita harus mensyukuri kehadiran orang-orang yang mencintai kita dalam kehidupan ini.
Sebab, terkadang kita begitu teobsesi dengan sesuatu yang belum kita miliki, sampai melupakan hal-hal yang sudah hadir dalam kehidupan kita sebelumnya.
"Bila kita diberi waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya" (Halaman 288)
Bagi kamu yang suka membaca novel yang mampu mengajakmu merenung dan memperbaiki sudut pandang tentang kehidupan, The Time Keeper karya Mitch Albom ini jangan sampai kamu lewatkan!
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ulasan Buku Berpikir Non-Linier, Mekanisme Pengambilan Keputusan dalam Otak
-
Ulasan Buku The Little Furball, Kisah Manis tentang Menghadapi Perpisahan
-
Ulasan Buku I'm (not) Perfect, Menyorot Ragam Stigma tentang Perempuan
-
Ulasan Buku Dolpha: Empat Anak Sahabat Laut, Petualangan Seru Anak Pesisir
-
Ulasan Buku 365 Ideas of Happiness, Ide Kreatif untuk Memantik Kebahagiaan
Artikel Terkait
-
Bikin Hati Adem, Ini 3 Novel Jepang Berlatar Toko Buku dan Perpustakaan
-
Review Novel 'TwinWar': Pertarungan Harga Diri di Balik Wajah yang Sama
-
Novel The Good Part: Makna Perjuangan yang Menjadikan Hidup Lebih Sempurna
-
Film Waktu Maghrib 2: Teror Baru di Desa Giritirto
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
Ulasan
-
3 Rekomendasi Novel Penulis Indonesia tentang Pendakian Gunung, Sudah Baca?
-
Review Film Holland: Misteri yang Gagal Mengembang dan Meledak
-
Bikin Hati Adem, Ini 3 Novel Jepang Berlatar Toko Buku dan Perpustakaan
-
Review Film A Minecraft Movie: Petualangan Konyol dan Penuh Imajinasi
-
Review Article 370: Film Thriller yang Bikin Kamu Nggak Mau Berkedip!
Terkini
-
Start Manis di Piala Asia U-17, Bukti Indonesia Punya Bibit Bertalenta?
-
Piala Asia U-17 Matchday 1: Pasukan Garuda Muda Berjaya di Tengah Raihan Minor Wakil ASEAN
-
Sinopsis Film 'Virus', Bae Doona Terjangkit Virus yang Bikin Jatuh Cinta
-
Tarif Baru AS: Pukulan Telak bagi Ekspor Indonesia?
-
Ubisoft Tutup Studio di Leamington, Strategi Bertahan atau Tanda Krisis?