Buku Anoa dan Tikus merupakan bagian dari Seri Fabel Nusantara yang mengangkat kisah satwa khas Indonesia, khususnya di daerah Sulawesi Tenggara. Kisah ini menampilkan pertolongan tanpa kenal pamrih dan menghindar dari sifat dendam dan angkuh.
Cerita bermula ketika Anoa gemar menghina fisik Tikus sebagai binatang yang menjijikkan, hitam, jorok dan mainnya di tempat kotor. Tikus tak menggubris hinaan Anoa, ia tetap menjalani hidup ala kadarnya. Anoa tak bisa menahan diri, setiap berjumpa dengan Tikus, ia merasa jengkel, padahal Tikus tak punya salah apa-apa terhadap Anoa.
Suatu hari, saat Tikus mencari makan ke tengah hutan, ia menemukan mangga ranum yang tergeletak di tanah. Ketika hendak ia ambil, terdengar suara Anoa menyebut namanya. Baru saja Tikus mau kabur, ia dengar suara Anoa lagi minta tolong. Mata Tikus menangkap Anoa sedang kena perangkap jaring pemburu. Jaring itu tergantung di dahan pohon mangga yang tinggi.
Meski sering dihina oleh Anoa, Tikus tetap menolongnya. Dengan giginya yang tajam, Tikus menggigit kuat jaring yang membungkus tubuh Anoa. Tikus tak peduli sekalipun Anoa sering berbuat jahat kepadanya. Yang terlintas dalam hatinya adalah hanya ingin menyelamatkan Anoa.
Saat jaring perangkap sudah putus dan Anoa jatuh ke tanah, Tikus heran karena Anoa terburu-buru melepaskan diri dari jaring dan segera berlari ke hutan tanpa mengucapkan terima kasih kepada Tikus. Bahkan, Anoa tetap mengganggu Tikus, suka menginjak makanan Tikus, menutup lubang rumahnya, mengejar-ngejar Tikus dan anak-anaknya.
Lalu, tatkala hutan tempat Anoa tinggal mengalami kebakaran, ia berlari mencari tempat berlindung dari lalapan api. Ia meminta Tikus dan teman-temannya agar dibuatkan lubang untuk tempat berlindung. Para Tikus mulai menggali tanah. Dalam sekejap, lubang besar pun tersedia untuk Anoa. Ia pun segera masuk hingga api melewatinya.
Saat sudah aman, Anoa keluar dari dalam tanah tempat perlindungannya, lalu meminta maaf dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Sejak saat itu, Anoa bersahabat dengan Tikus. Tak jarang, Anoa membawakan Tikus buah-buahan. Tikus pun senang. Hidupnya kini aman dan nyaman.
Buku ini mengandung pesan moral yang mendalam tentang pentingnya berterima kasih, menghindari dari sifat angkuh, dendam, dan berbuat baik tanpa batas. Dengan ini, anak-anak diajarkan bahwa mengucapkan terima kasih antara dua karakter yang berbeda dapat membawa hasil yang baik. Selamat membaca!
Identitas Buku
Judul: Seri Fabel Nusantara Sulawesi Tenggara - Anoa dan Tikus
Penulis: Dian K.
Ilustrator: Dian Ovieta
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: II, September 2023
Tebal: 32 Halaman
ISBN: 978-623-04-1387-2
Baca Juga
-
Yurizal, BPJS, dan Harga Sebuah Empati
-
Jutaan Buku Dihancurkan, AI Bertambah Pintar: Haruskah Kita Merayakannya?
-
Merdeka Bukan Sekadar Bebas: Menyelami Makna Kemerdekaan Lewat Novel Karya Putu Wijaya
-
5 HP Paling Hot Agustus 2026: Vivo, Honor, Google, Oppo, hingga Poco Siap Sikat Pasar!
-
Vivo S2 5G Resmi Hadir, Usung Baterai 7.050 mAh dan Bodi Tangguh untuk Aktivitas Ekstrem
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku 'Cempala Kuneng Tinggal di Istana': Kasih Ibu Sepanjang Masa
-
Ulasan Buku 'The Dignity of Writing', Makna Kehidupan Lewat Sebuah Tulisan
-
Heartwarming! Ulasan Novel My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
-
Ulasan Novel Game Over, Kisah Romansa Dua Manusia dengan Sifat yang Berbeda
-
Ulasan Novel Antologi Rasa: Kisah Rasa yang Tak Terucap
Ulasan
-
Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan
-
Review Deep Water: Kendati Klise, Film Serangan Hiu Selalu Seru Ditonton!
-
Tokyo Schoolgirl Karya Osamu Dazai: Potret Kecemasan Remaja yang Mengusik
-
The Manipulated: Ketika Pria Lugu Melawan Konspirasi Kejam, Penuh Aksi dan Kritik Sosial
-
Life After Whale: Perpaduan Ilustrasi Spektakuler dan Sains yang Memikat
Terkini
-
Di Balik Polemik UKT dan Roh Pendidikan Tinggi: Saatnya Kampus Elite Berbagi dengan Kampus Daerah
-
Tune In to the Midnight Heart Season 2 Rilis 2027, Hadirkan 2 Karakter Baru
-
Ketika Oposisi Mati, Akademisi Turun Gunung: Lahirkan Kabinet Bayangan Demi Selamatkan Demokrasi
-
Bukan Ventela Saja! Ini Sepatu Sekolah Lokal Terbaik untuk Sekolah
-
Desa Les Buleleng: Saat Tradisi Garam Kuno Berpadu dengan Inovasi Modern