Ada sebuah fenomena yang terkadang banyak dikeluhkan oleh para orang tua saat memiliki anak. Yakni ketika segala upaya parenting, khususnya ajaran tentang kedisiplinan yang mereka terapkan diintervensi secara sewenang-wenang oleh kakek dan nenek dengan dalih menyayangi cucu mereka.
Salah satu novel yang mengangkat fenomena tersebut saya temukan dalam novel berjudul My Grandmother Asked Me To Tell You She's Sorry karya Fredrick Backman.
Novel ini terbilang unik karena mengangkat isu mengenai keluarga. Khususnya hubungan antara ibu dan anak serta nenek dan cucunya. Selain itu, novel ini juga mengangkat tentang isu perundungan yang dialami oleh gadis cilik bernama Elsa.
Di sekolah, Elsa kerap mendapatkan perlakuan buruk dari teman-temannya. Elsa yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata anak usianya membuat ia lebih nyaman bergaul dengan orang dewasa. Terkhusus dengan neneknya, sosok manusia eksentrik yang kerap dianggap menyebalkan oleh orang-orang.
Menurut sudut pandang Elsa, neneknya adalah seseorang yang selalu mampu menerabas setiap hal-hal yang dianggap normal oleh orang dewasa. Dan tentu hal tersebut amat menyenangkan bagi Elsa yang menganggap orang dewasa, khususnya ibunya, begitu membosankan.
Neneknya punya kebiasaan menceritakan dongeng kepada Elsa mengenai kisah-kisah heroik di Tanah Setengah Terjaga dan Pulau Miamas. Kisah rekaan tersebut mampu membuat Elsa menjelajah dalam pengalaman yang membangkitkan imajinasinya.
Elsa yang sering mendapat perlakuan kurang menyenangkan di dunia nyata seolah menemukan tempat pelarian ketika neneknya mulai menceritakan dongeng-dongeng tersebut.
Ketika Neneknya meninggal dunia, saat itulah Elsa menemukan surat-surat yang berisi permohonan maaf neneknya tentang banyak hal. Dengan mengaitkan kisah dongeng dan pesan-pesan neneknya itulah, akhirnya Elsa menyadari banyak fakta baru tentang neneknya yang sebelumnya tidak ia ketahui.
Surat-surat tersebut tidak hanya berisi permohonan maaf yang membawa Elsa mengenal orang-orang dan lingkungan terdekatnya lebih dalam, tapi juga menguak sisi kelam kehidupan sang nenek, serta betapa beratnya hal yang dilalui oleh kedua orang tuanya yang telah bercerai.
Secara umum, cerita ini lumayan heartwarming. Konflik keluarga dan pertemanan yang dialami oleh Elsa sebenarnya cukup berat secara psikologis untuk ditanggung oleh anak usia 7 tahun.
Namun, sungguh beruntung karena ia pernah memiliki nenek yang sangat hebat dengan pelajaran dan kasih sayangnya.
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry tidak hanya menyajikan kisah yang mampu menghangatkan hati, tapi juga kaya akan pesan moral yang layak untuk direnungkan.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Pahlawan Ekonomi Kreatif: Tetap Cuan Meski Tanpa Kerja Kantoran
-
Pecandu Buku, Gerak Laku Penuntut Ilmu: Literasi untuk Membangun Peradaban
-
Resep Kaya ala Orang Cina: Ketika Strategi yang Tepat Terlihat Seperti Hoki
-
Jangan Kalah Sama Monyet: Kumpulan Gagasan di Era Disrupsi
-
Atasi Kecanduan Gadget Anak Lewat Baca Nyaring dalam The Book of Read Aloud
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel Game Over, Kisah Romansa Dua Manusia dengan Sifat yang Berbeda
-
Ulasan Novel Antologi Rasa: Kisah Rasa yang Tak Terucap
-
Menjalani Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan untuk Keseimbangan Emosi
-
Ulasan Buku 'Berdamai dengan Air Mata', Merayakan Kesedihan Lewat Puisi
-
Review Novel Perempuan Bayangan, Cerita dengan 3 Sudut Pandang
Ulasan
-
Tak Semua Cinta Bisa Diselamatkan: Tragedi Nara dan Jindo dalam Eye Shadow
-
Memahami Dunia Anak Spesial: Review Novel Ikan Kecil yang Mengajarkan Empati Tanpa Menggurui
-
Lawan di Sungai, Kawan dalam Kehidupan: Mengintip Sisi Humanis Pacu Jalur
-
Kalau Jelek Gak Boleh Marah? Maaf Sal Priadi, Saya Tidak Setuju
-
Mortal Kombat II: Kembalinya Scorpion dengan Dendam yang Lebih Kuat!
Terkini
-
Bocoran Samsung Galaxy S27 Ultra: Kamera Dipangkas, Teknologi Makin Cerdas
-
Dosa Lingkungan di Balik Label 'Ramah Bumi' yang Estetik
-
Bawa Identitas Neo! Taeyong NCT Perluas Genre Musik di Comeback Album WYLD
-
Gentrifikasi Piring: Saat Makan Murah Menjadi Barang Mewah
-
Mampu Bertahan Adalah Prestasi: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengejar Puncak yang Salah