Setiap orang punya caranya masing-masing untuk bertahan dalam segala babak dan drama kehidupan. Kalau bagi Aya Canina, caranya bertahan adalah dengan menitipkan cerita yang menjadi bagian dari dirinya dalam bentuk puisi.
Sebagaimana judul yang tertera pada buku puisinya, 'Ia Meminjam Wajah Puisi' menghimpun rangkuman puisi yang merupakan refleksi kehidupan dari Aya Canina selama melalui proses pendewasaan.
Jika pada buku puisi lainnya kita sering kali menjumpai permainan diksi maupun penggunaan metafora di sana-sini dalam rangka memperindah kalimat, puisi dari Aya Canina justru tidak terpaku pada hal tersebut.
Sesekali ia memang menggunakan beberapa perumpamaan untuk menunjukkan apa yang ia rasakan, tapi tidak menjadikan hal tersebut sebagai sebuah keharusan. Bagi saya, Aya Canina menuangkan perasaannya dengan amat jujur dengan ungkapan yang proporsional.
Kadang ia berterus terang dengan kalimat-kalimat langsung yang tidak butuh penafsiran, kadang pula ia bermain dengan istilah-istilah dalam dunia mitologi, spiritual, dan keagamaan sebagai unsur yang membangun puisinya.
Dari sini, saya beberapa kali harus berhenti sejenak untuk merenungi apa yang sebenarnya dirasakan oleh penulis lewat perumpamaan maupun keterusterangan yang diungkapkan silih berganti.
Sebagaimana dalam puisi berjudul Riwayat Puan Kelana dengan tokoh mitologi Isthar dan Tammuz yang dicantumkan dalam puisinya.
"Kini kau pensiun pada bulan keempat
dalam kalender masehimu yang bergerak mundur,
menjelma Isthar dan menunggu perang usai.
—tapi tidak pernah ada Tammuz.
Tidak di pagi atau petang,
tidak di mana-mana"
(hal. 46)
Adapun pada puisi berjudul Nirmala, menghadirkan nostalgia tentang kenangan masa kecil tentang kisah-kisah, dongeng, dan tontonan dengan nilai-nilai yang dulu diajarkan oleh orang dewasa kepada anak-anak. Namun ironisnya, hal tersebut rupanya menjadi sesuatu yang sering kali dilanggar oleh orang dewasa itu sendiri.
Secara umum, saya menangkap bahwa buku puisi ini merangkum proses pendewasaan dari penulis. Ada banyak aspek yang disinggung dalam puisinya. Mulai dari luka masa lalu, hubungan dengan orang-orang terkasih, hingga sisi spiritual.
Kesan yang ditinggalkan sebenarnya cukup kelam. Tapi entah kenapa, setelah membacanya saya justru menemukan kelegaan dari cara Aya Canina mengungkap perasaannya yang jujur tapi terasa indah lewat puisi-puisinya.
Jadi, bagi para pembaca dan penikmat buku puisi, kumpulan sajak dari Aya Canina dalam buku ini adalah salah rekomendasi bacaan yang menarik untuk disimak!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat
-
Potret Kelam Perundungan dan Kejahatan Digital dalam Novel 'Mel, Melatiku'
-
Atasi Burnout Lewat Buku When Your Life Keeps Moving but Your Energy Stops
-
Paradoks Bingar: Dunia Remaja, Bisbol, dan Pertandingan Melawan Ketakutan
-
What's Keeping You Broke: Kebocoran Finansial yang Sering Tidak Disadari
Artikel Terkait
-
Karena Hidup Membutuhkan Penyemangat dalam Buku Cinta Itu Motivasi
-
Menemukan Motivasi Hidup dari Buku Melelahkan, Tapi Semua Demi Masa Depan
-
Upaya Menjaga Kesehatan Mental dalam Buku Mendukung Orang yang Kita Cintai
-
Mengatasi Batasan Diri dengan Konsep dari Buku Summary of Mindset
-
Ulasan Buku Kakeibo: Seni Cerdas Finansial ala Jepang
Ulasan
-
The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat
-
Review SCTV: The Greatest Show You've Never Heard Of, Jejak Tawa Legendaris
-
Mendidik Anak dengan Kasih Sayang ala Nabi dalam Happy Islamic Parenting
-
MobLand Season 2: Menguak Sisi Gelap Dinasti Kriminal Keluarga Harrigan!
-
Sentilan Isu Sosial dan Arti Ketulusan Keluarga di Novel Kado Terbaik
Terkini
-
Bye Kusam dan PIH! 4 Moisturizer Alpha Arbutin Cuma di Bawah Rp50 Ribuan
-
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
-
Jika Presiden Saja Bisa Disadap, Seberapa Aman Privasi Digital Kita?
-
Dari Tagar ke Aksi Nyata: Bukti Gen Z Vocal Awasi Isu Negara, Bukan FOMO!
-
Belajar dari KHW 400: Ini 5 Insight Storytelling Nadia Omara Bagi Kreator