Scroll untuk membaca artikel
Hernawan | Athar Farha
Poster Qodrat 2 (Dokumentasi Pribadi/ Athar Farha)

Film Qodrat 2 yang tayang Lebaran, 31 Maret 2025, merupakan horor religi yang nggak cuma mengandalkan jumpscare, tapi juga punya cerita yang kuat dan dengan karakter utama yang punya kedalaman emosional. 

Dari awal, film ini sudah menunjukkan kesan yang berbeda. Jika di film pertama Qodrat (Vino G. Bastian) lebih banyak didera konflik batin, kali ini dalam Qodrat 2 dia tampil lebih percaya diri. Sosoknya nggak lagi terlihat rapuh atau terbebani masa lalu. Sebaliknya, dia menghadapi setiap pertarungan dengan mantap, seolah-olah sudah tahu bahwa dia akan menang atas bantuan Allah. 

Jumpscare pun dikurangi, digantikan dengan adegan aksi yang lebih intens dan koreografi pertarungan yang lebih lincah. Baku hantamnya terasa seperti tontonan superhero, hanya saja dengan bumbu religius. Mantap deh!

Sekilas tentang Film Qodrat 2

Cerita film ini berpusat pada pencarian Azizah (Acha Septriasa), istri Qodrat, yang menghilang setelah tragedi yang menewaskan anak mereka, Alif. 

Film ini dibuka dengan cara yang menarik lho, Sobat Yoursay. Jadi, tuh, dibuka dengan scene yang memperlihatkan kembali adegan eksorsisme dari film pertama, tapi kali ini dari sudut pandang Azizah. Jika sebelumnya kita hanya melihat Qodrat yang berjuang merukiah anaknya, kali ini kita melihat bagaimana Azizah mengalami trauma mengerikan di kamar sebelah. 

Momen itu sangat kuat secara emosional, dan membuatku langsung tersedot ke dalam cerita selanjutnya. 

Nah, seiring berjalannya film, cerita mulai bercabang. Qodrat mencari istrinya, sementara Azizah—yang mengira suaminya sudah meninggal—bekerja di sebuah pabrik yang ternyata menyimpan misteri gelap. 

Misterinya apa sih? Pabrik itu diduga menumbalkan para pekerjanya, dan di sanalah Azizah harus menghadapi ketakutan dan dosanya sendiri. Semenarik itu deh!

Kalau Sobat Yoursay mau tahu lebih banyak impresi terkait Film Qodrat 2, yuk dilanjut baca sampai tuntas ya!

Impresi Mendalam Selepas Nonton Film Qodrat 2

Gila banget sih, Acha Septriasa memerankan karakternya dengan mantap jiwa deh! Salah satu adegan yang paling membekas di benakku adalah saat Azizah mencoba salat tobat. 

Scene-nya tuh, Azizah berulang kali mencoba melafalkan ayat suci, tapi gagal menyelesaikannya karena beban yang terlalu besar. Aku bisa merasakan betul betapa sulitnya dia menghadapi rasa bersalah dan gangguannya. 

Charles Gozali, sebagai sutradara, sekali lagi membuktikan keahliannya dalam mengolah horor dengan pendekatan yang lebih subtil lho. Ya, dia nggak berlebihan ngasih musiknya, justru banyak bermain dengan keheningan. 

Keputusannya membuat beberapa adegan terasa lebih mencekam, karena kita benar-benar dipaksa untuk fokus pada ekspresi para pemain. Ditambah lagi adanya long take dan close-up menyorot wajah-wajah yang menyimpan rasa takut dan kepedihan, dan energinya terasa sampai banget ke aku. 

Namun, meskipun ada banyak hal yang aku suka dari Qodrat 2, nggak bisa dipungkiri film ini kehilangan elemen kejutan yang ada di film pertamanya. Jika dulu aku terpukau dengan konsep eksorsisme ala ustaz yang dikemas seperti film superhero, kali ini novelty-nya sudah agak pudar. Apalagi, dalam tiga tahun sejak Qodrat pertama, jumlah film horor religi di Indonesia sudah semakin banyak. Akibatnya, cerita di babak kedua terasa kurang menegangkan. 

Gitu deh. Yang jelas aku sudah bisa menebak Qodrat akan menang dalam setiap pertarungan. Bahkan saat dia ditangkap sama Safih (Septian Dwi Cahyo), bos pabrik yang jadi antagonis tambahan, rasa-rasanya tuh nggak ada rasa gentar yang cukup besar karena aku tahu Qodrat akan keluar dari situ tanpa masalah berarti.

Namun untungnya, naskah yang ditulis Charles Gozali bersama Gea Rexy dan Asaf Antariksa tetap menawarkan kreativitas di aspek lain. Salah satunya tuh, gimana cara para korban di pabrik itu menemui ajal mereka, yang digambarkan dengan cara yang cukup unik dan mengerikan. 

Begitu pula dengan adegan kerasukan, terutama yang melibatkan Sukardi (Donny Alamsyah). Dan lagi, scene perkelahian di dalam truk, yang juga sempat diperlihatkan dalam trailer, berhasil dieksekusi dengan sangat baik dan ngasih sensasi tegang yang nyata. Mantaplah!

Di sisi lain, sosok Zhadhug, makhluk bertanduk yang jadi ancaman utama di film ini, mungkin nggak intimidatif sosok Assuala di film pertama. Namun, aku harus mengapresiasi efek praktikal yang digunakan menghidupkan karakter ini. Efek praktikalnya nggak terlihat murahan, dan justru nambah kesan mistis yang lebih khas ketimbang bila dikasih efek CGI berlebihan.

Yang aku suka lagi dari Film Qodrat 2 tuh, gimana film ini nggak mencoba menggambarkan Qodrat sebagai sosok yang terlalu istimewa. Ya, dia memang punya kekuatan dari iman yang kuat, tapi film ini menegaskan kalau kekuatan itu bukan sesuatu yang eksklusif. Setiap orang bisa memilikinya, selama mereka memiliki iman yang cukup kuat. Nah, itu jelas pesan yang sederhana, tapi disampaikan dengan cara yang oke banget. 

Dan akhirnya, Film Qodrat 2 mencapai klimaksnya dengan cara yang mengingatkanku pada bagaimana film pertamanya menangani elemen religiusnya. Jika di film pertama kita diajak memahami makna mendalam dari kalimat ‘Inna Lillahi wa inna ilayhi raji’un’, kali ini filmnya lebih menekankan pada esensi salat sebagai tiang agama. Ini tuh sesuatu yang jarang dilakukan sama horor religi lain di Indonesia, yang seringkali cuma menggunakan adegan salat sebagai tempelan tanpa makna mendalam.

Jujurly, masih ingat rasanya pas aku keluar dari bioskop, perasaanku tuh campur aduk. Ada bagian dari diriku merasa puas dengan aksi-aksi seru yang ditampilkan, tapi ada juga bagian lain merasa film ini bisa saja lebih baik jika ada lebih banyak elemen kejutan. 

Jadi, apakah Film Qodrat 2 lebih baik dari film pertamanya? Menurutku, nggak sepenuhnya. Ada beberapa aspek yang terasa kurang greget, terutama dari sisi alur cerita dan ketegangan di babak kedua. Namun, sebagai sekuel, film ini masih ngasih pengalaman yang seru. 

Skor: 4/5

Athar Farha