Scroll untuk membaca artikel
Hernawan | Athar Farha
Poster Film Surga di Telapak Kaki Bapak (KlikFilm)

Lebaran biasanya identik dengan kumpul keluarga, makanan enak, dan tentu saja, tontonan yang menyentuh hati. Jika kamu sedang mencari film yang pas untuk menemani momen spesial ini, "Surga di Telapak Kaki Bapak" bisa jadi pilihan tepat. 

Ya, itu karena film ini nggak hanya menghadirkan cerita yang relatable bagi banyak orang, tapi juga menawarkan emosi yang kuat tentang keluarga, kehilangan, dan perjuangan untuk tetap bertahan.

Masih kurang yakin dengan rekomendasi film edisi lebaran yang ini? Kalau begitu, Sobat Yoursay baca dulu sampai tuntas biar tahu lebih banyak terkait cerita dan impresinya. 

Disutradarai Eman Pradipta dan skripnya ditulis Ari Keling, "Surga di Telapak Kaki Bapak" di bawah naungan Klikfilm Productions menampilkan jajaran bintang-bintang kece, di antaranya: Surya Saputra, Clarista Tauan, Muzakki Ramdhan, Ully Triani, dan masih banyak bintang pendukung lainnya. 

Sekilas tentang Film Surga di Telapak Kaki Bapak

Film ini mengisahkan tentang Nawawi (Surya Saputra), sosok ayah pekerja keras yang mendadak harus menghadapi kenyataan pahit, istrinya, Imah (Ully Trian) meninggal dunia dikarenakan kecelakaan.

Anak-anaknya, Dinar (Clarista Tauan) dan Adi (Muzakki Ramdhan), yang terbiasa mendapat perhatian dan kasih sayang dari sang ibu, tiba-tiba harus menghadapi dunia yang berbeda. 

Dinar mencari pelarian dengan menghabiskan waktu bersama pacarnya, sementara Adi sering menginap di rumah temannya sebagai pelarian buat menenyahkan kenangan di rumah yang penuh dengan jejak sang ibu. 

Sementara itu, Nawawi harus berjuang menyeimbangkan perannya sebagai pencari nafkah dan figur orangtua tunggal yang mendadak harus lebih dekat dengan anak-anaknya.

Impresi Selepas Nonton Film Surga di Telapak Kaki Bapak 

Dari menit pertama, film ini sudah berhasil membangun suasana yang akrab dan realistis. Aku nggak nyangka kalau film ini bakal menyentuh begitu dalam. Di awal, kupikir film ini akan menyoroti perjuangan Nawawi sebagai seorang ayah yang kurang dihargai anak-anaknya, tapi ternyata, justru sang ibu yang lebih dulu meninggalkan mereka. 

Momen ketika karakter Dinar dan Adi melihat bendera kuning berkibar di depan rumah, tuh salah satu adegan yang bikin jantung mencelos—relate banget buat siapa pun yang pernah mengalami kehilangan orang tersayang.

Dinar dan Adi masing-masing punya caranya sendiri mengatasi kehilangan. Aku gemas banget sama mereka karena di awal film, mereka terlihat nggak begitu menghargai perjuangan ayah mereka. Dinar terlalu sibuk dengan dunia pacarannya, sedangkan Adi malah memilih kabur dari rumah. 

Namun, justru di situlah letak kekuatan film ini, bagaimana setiap karakter diperlakukan dengan manusiawi dan realistis. Nggak ada yang sempurna, semua punya cara masing-masing dalam menghadapi duka.

Kalau harus memilih siapa yang paling bersinar di film ini, jawabannya jelas: Surya Saputra. Perannya sebagai Pak Nawawi benar-benar bikin hati remuk. Sebagai ayah yang berusaha tegar, dia nggak pernah menangis di depan anak-anaknya, tapi aku bisa melihat beban kesedihannya di setiap tatapan kosong dan napas beratnya. 

Salah satu adegan terbaik bagiku adalah saat Nawawi berdoa sendirian di kamar setelah semua anaknya tidur. Air mata yang akhirnya jatuh di wajahnya terasa begitu nyata, menggambarkan betapa sulitnya menjadi orang tua yang harus tetap kuat meski dunia terasa runtuh.

Selain akting Surya Saputra yang kece banget, chemistry antara tiga karakter utama juga sangat kuat. Film ini mungkin nggak punya banyak karakter pendukung yang menonjol, tapi itu justru membuat hubungan antara Nawawi, Dinar, dan Adi semakin intim dan mendalam. Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika mereka akhirnya bisa saling menerima dan berpelukan di akhir film. Momen itu terasa seperti pelepasan beban emosional bagi semua karakter, dan juga buat aku sebagai penonton.

Oh iya, buat visualnya terbilang sederhana, tapi justru itu yang bikin terasa nyata. Rumah kecil dalam gang, meja makan dengan kursi kosong milik ibu, hingga motor tua dengan kaca pecah—semua elemen di film ini terasa mendukung narasinya dengan baik. Nggak ada pengambilan gambar yang terlalu dramatis atau editing yang berlebihan, semuanya dibiarkan mengalir begitu saja. 

Untuk scoring, meskipun nggak terlalu dominan, musik dalam film ini selalu muncul di momen-momen yang tepat. Soundtrack yang dimainkan di beberapa adegan emosional berhasil menambah intensitas perasaan tanpa terasa dipaksakan.

Kalau kamu tertarik, film ini bisa ditonton di Klikfilm dengan harga langganan yang cukup terjangkau. Siapkan tisu sebelum nonton, karena perjalanan emosional di film ini pasti akan meninggalkan bekas di hati. Selamat nonton dan selamat Lebaran!

Skor: 4/5

Athar Farha