Kalau Sobat Yoursay pernah nonton film yang rasanya kayak dibawa berkuda melintasi padang sepi sambil menyimpan banyak rahasia dalam hati, Film On Swift Horses adalah perjalanan yang bakal kamu ingat.
Disutradarai Daniel Minahan dan diangkat dari novel karya Shannon Pufahl, film ini bukan sekadar drama biasa lho. Ini melodrama yang serius, tapi bukan yang murahan.
Ibaratnya jenis film yang berani tampil penuh perasaan di era ketika sinisme lebih laku dijual. Percayalah, meskipun kisahnya berlatarkan pasca-Perang Korea dan lebih banyak warna cokelat daripada merah menyala, film ini tetap terasa panas.
Sekilas Kisahnya dan Impresi Selepas Nonton Film On Swift Horse
Cerita bermula di Kansas. Muriel (Daisy Edgar-Jones) wanita muda yang baru menikah dengan Lee (Will Poulter), veteran perang yang kelihatan baik-baik aja, tapi entah kenapa langsung terasa ada yang nggak sreg sejak awal.
Mereka tinggal bareng ibunya Muriel, hidup sederhana, dan agak membosankan. Namun ternyata, bukan cuma karena mereka baru nikah. Lho, memangnya ada apa?
Begini, Muriel, sejak awal, sudah menyimpan banyak hal. Mulai dari rokok yang disembunyikan, sampai mimpi dan hasrat yang nggak pernah benar-benar dia utarakan.
Lalu datanglah Julius (Jacob Elordi), adik dari Lee, yang juga baru pulang dari perang. Kedatangannya kayak angin panas yang datang menjelang badai.
Julius bukan tipe cowok “rumah dan anak dua.” Dia lebih mirip penjudi yang hidup dari satu permainan ke permainan lain, orang yang tahu dunia itu licik dan tahu cara ikut main, bahkan kalau itu berarti curang. Di balik mata dinginnya, dia juga menyimpan rahasia yang lebih dalam dari sekadar trik poker.
Nah, Muriel pelan-pelan jatuh ke dunia judi, dapet info dari pelanggan di restoran tempat dia kerja, dan diam-diam memenangkan uang yang nggak dia kasih tahu ke suaminya. Di sisi lain, Julius pindah ke Nevada dan kerja di kasino. Tempat yang literal, dia mengawasi orang-orang dari balik cermin dua arah.
Nah, dunia judi itu nggak cuma latar, tapi metafora buat hidup para karakternya. Ya, semua orang pasang taruhan, semua orang nyimpen kartu as.
Di sanalah Julius ketemu Henry (Diego Calva, yang sebelumnya main di Film Babylon). Pertemuan mereka bukan sekadar bromance. Ini cinta. Astaghfirullah!
Cinta yang meledak di ruang sempit yang pengap, cinta yang dilarang, cinta yang tahu dirinya salah tapi tetap tumbuh karena nggak ada pilihan lain. Elordi memainkan Julius dengan sangat halus—kayak versi pria dari Montgomery Clift—karismatik tapi rapuh. Tatapan kosongnya sering lebih jujur dari kata-kata. Ught!
Sementara itu, Muriel juga mulai terlibat dengan tetangganya, Sandra (Sasha Calle). Hubungan mereka juga intim, rahasia, dan membuat Muriel mempertanyakan segalanya. Tentang siapa dia sebenarnya, dan apa arti “rumah” kalau ternyata bukan tempat di mana dia bisa jadi dirinya sendiri. Sekali lagi, astaghfirullah!
Terlepas gimana panasnya kisah film ini, tapi sinematografi dari Luc Montpellier berhasil membuat film ini bernyawa. Ada nuansa klasik Hollywood ala Douglas Sirk, meskipun warna-warna cerah Sirk diganti dengan cokelat tua, emas kusam, dan sinar matahari yang terhalang debu. Namun, tetap terasa hangat dan mewah. Ini jenis film yang tahu kalau penonton kadang cuma ingin melihat orang cantik dan tampan terluka karena cinta di layar lebar. Dan ya, ini berhasil.
Satu-satunya kekurangan film ini adalah bagian akhirnya yang terasa kayak dipaksa selesai. Setelah satu jam pertama yang nyaris sempurna, babak akhir agak terburu-buru. Beberapa resolusi terlalu rapi untuk cerita yang sedari awal penuh kekacauan batin dan kompleksitas moral.
Intinya, Film On Swift Horses nggak cocok buat semua orang. Ini adalah film tentang cinta yang disembunyikan, tentang keinginan yang terlarang, dan tentang bagaimana hidup kadang terasa seperti permainan kartu.
Skor: 3/5
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Film Hokum: Menelisik Mitos yang Turun-temurun Hidup dalam Ingatan Kolektif
-
The Little Sister: Ketika Iman dan Jati Diri Terjebak dalam Konflik yang Tak Terucapkan
-
Ulasan Film Office Romance: Romansa Kantor dari Netflix yang Kurang Legit
-
Memahami Nasionalisme dalam Film Garuda di Dadaku
-
The Amazing Digital Circus: The Last Act, Memahami Penjara Berkedok Hiburan
Artikel Terkait
-
Cerita Cornelio Sunny Garap Film Rohtrip, Berawal dari Nongkrong Bareng Teman
-
Review Film Havoc: Aksinya Brutal tapi Ceritanya Lesu
-
Tak Sangka Bakal Jadi Aktris, Aurora Ribero Dulu Tak Tahu Film Ada Syutingnya
-
Pengepungan di Bukit Duri Capai 1 Juta Penonton dalam 10 Hari Tayang
-
Film Thailand The Red Envelope Ternyata Belum Lulus Sensor di Bioskop Indonesia, Gegara Unsur LGBT?
Ulasan
-
Ulasan Serial Zomvivor: Drama Horor Thriller dengan Efek Visual Luar Biasa!
-
Our Generation: Setting Lokasi Cakep dan Nuansa Psikologis Menggigit Abis!
-
Bentuk Entitled Parent pada Karakter Lee Ji Young di Teach You a Lesson
-
Film Hokum: Menelisik Mitos yang Turun-temurun Hidup dalam Ingatan Kolektif
-
Karya Legendaris Idrus: Menelanjangi Luka Sejarah dan Trauma Zaman Jepang
Terkini
-
Menyoal Tulisan di Bak Belakang Truk: Viral, Vulgar, Atau Puitis Saja Sih?
-
Sorotan Tajam Piala Dunia 2026: Kontroversi Visa AS dan Bayang-Bayang Kesuksesan Rusia 2018
-
Cowok Minimalis Merapat! 4 Daily OOTD ala Lee Jun Young yang Mudah Ditiru
-
Pesona WAGs Piala Dunia 2026, Ada Pasangan Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, hingga Kylian Mbappe
-
Beruang Kutub Dulu Putih Kini Kelabu: Tanda Alam yang Terabaikan dari Krisis Iklim Global