Buku kumpulan cerpen berjudul Perempuan yang Berhenti Membaca ini akan selalu relevan untuk segala zaman, terlebih situasi belakangan ini tengah tinggi angka kekerasan, baik fisik, seksual, maupun psikis, terhadap perempuan dan perdebatan tak kunjung selesai mengenai Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual.
Sosok perempuan yang digambarkan di dalam buku ini dari berbagai kelas, tingkat pendidikan dan ekonomi, serta latar dan konflik yang melingkupinya. Sosok seperti Kokom yang gigih dalam cerpen pertama bertajuk Ironi Kereta Api merupakan perempuan yang seringkali kita temui di sekitar tempat tinggal kita.
Bukan hanya sosok karakternya yang demikian dekat, namun konflik yang ia alami juga menjadi konflik yang kita hadapi sehari-hari. Bayangkan saja bagaimana perjuangan Kokom untuk menghidupi keluarganya, sementara suaminya hanya berleha-leha dengan buaian burung piaraannya. Bahkan, si Maman suami Kokom itu, lebih mengutamakan kehidupan burungnya daripada nyawa keluarganya.
Setiap bangun tidur kepala Kokom penuh seperti terdapat segerombolan lebah mengerubungi batok kepala yang tengah dibebani pikiran tagihan listrik, cicilan kompor gas, dan lain sebagainya. Belum lagi nyanyian Bu Endah pemilik warung kelontong yang tiap pagi menagih utang kepada Kokom.
Di antara daftar utang yang dicatat Bu Endah, selain sayur-mayur dan kebutuhan dapur lainnya, tertera juga nama merk rokok tekenal yang iklannya menyebutkan bahwa pria sejati tak pernah ingkar janji. Ya, rokok itu menjadi salah satu candu bagi suaminya, selain memelihara dua jenis burung yang namanya tak dihafal betul oleh Kokom.
Saat Kokom memprotes suaminya untuk tidak memelihara burung, ia malah kena damprat. Maman meyakinkan Kokom bahwa kelak burungnya ini akan laku mahal.
"Kamu ini tidak mengerti investasi ya? Burung ini nanti akan menghasilkan uang banyak, tahu! Dasar wanita tidak gaul."
"Tapi, Kang, hidup kita sudah pas-pasan begini, untuk apa memelihara burung? Belum tentu juga nanti akan ada yang mau beli. Untung kalau masih hidup, kalau keburu mati bagaimana?"
"Ah, wanita diam saja! Tahu beres sajalah!" (Halaman 9).
Sebelum azan Subuh berkumandang, kaki Kokom sudah berkutat dengan tanah becek di pasar desa dekat rumahnya. Memilih pisang nangka yang matang, terigu, minyak goreng, kol, wortel, dan cabai rawit. Barang belanjaannya itu akan Kokom buat bala-bala dan pisang goreng untuk ia jaja di dalam kereta api kelas ekonomi.
Sementara anaknya, Pipit, merengek sambil menangis minta diseduhkan susu setelah melihat iklan susu di koran bekas yang akan ia jadikan bungkus gorengan. Rupanya sudah tiga bulan Pipit tak pernah lagi dibelikan susu. Ya, sejak Maman berhenti bekerja dengan alasan yang tidak masuk akal, Pipit tak lagi memperoleh jatah minum susu.
Usai jualan Kokom sudah siap, ia jajakan jualannya tersebut ke para penumpang di gerbong kereta api. Suasana penjual bisa masuk gerbong ini, tentu dalam beberapa tahun terakhir ini sudah tidak bisa kita temui meski di dalam gerbong kereta api kelas ekonomi. Tapi, saya masih nututi zaman itu, jika tak salah, saat itu saya sedang duduk di bangku sekolah dasar. Maka, saya pun terbawa dan terbayang juga wajah kuyu dan penuh keringat Kokom saat menjajakan jualannya kepada para penumpang.
Tak lama dari itu, Kokom terperanjat dan panik setelah mengetahui petugas pemeriksa karcis masuk ke gerbong di mana Kokom sedang menjaja pisang goreng. Kokom pun main kucing-kucingan bersama petugas tersebut. Maklum, saking keburunya naik ke dalam kereta tadi, Kokom lupa kepada selembar karcis yang telah ia beli sebelumnya.
Cepat-cepat Kokom menyelinap di antara penumpang yang berdiri, menuju ujung gerbong berikutnya. Namun, sandalnya tersangkut pada karung di dekat pintu masuk, Kokom terjerembab, dagangannya pun berhamburan jatuh ke lantai kereta. Susah payah Kokom memunguti pisang goreng dan bala-bala itu.
Petugas semakin mendekat ke arah Kokom dan menanyakan karcis. Namun, dengan cepat Kokom lari ke arah pintu dan melompat. Kepalanya membentur batu di tanah tempat ia jatuh. Hal terakhir yang ia ingat adalah janjinya kepada Pipit untuk membelikan segelas susu sepulang berjualan di kereta. Ah, sungguh memilukan!
Kumpulan cerpen dengan konflik rumah tangga dan sosial yang menyangkut perempuan ini akan tetap relevan dengan kondisi zaman apapun dan kapan pun, sepanjang masa.
Selamat membaca!
Identitas Buku
Judul: Perempuan yang Berhenti Membaca
Penulis: Ratna Ayu Budhiarti
Penerbit: Langgam Pustaka
Cetakan: II, Desember 2020
Tebal: 180 Halaman
ISBN: 978-623-7461-36-4
Baca Juga
-
Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
-
Honor Pad X10 Mini Mengandalkan Layar 90 Hz, Bodi Metal, dan Baterai untuk Aktivitas Seharian
-
Tecno Spark 50S 5G Resmi Meluncur, Ponsel Terjangkau dengan Fitur FreeLink yang Menarik
-
Huawei FreeClip 2 Dual Color Rilis: TWS Unik dengan Desain Jepit Telinga dan Baterai Awet
-
Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua
Artikel Terkait
-
Ngobrol Santai Soal Pendidikan Indonesia dalam Buku Kopi Merah Putih
-
Ulasan Novel Satine: Merayakan Kesepian dalam Kehidupan yang Tampak Sempurna
-
Novel Out of My Heart, Perjalanan Melody Mencari Kebebasan dan Teman Sejati
-
Ulasan Buku Timun Jelita Volume 2: Suara Kecil yang Disimpan Diam-Diam
-
Hidup Lebih Bahagia dengan Berpikir Kritis Lewat Buku Makanya Mikir
Ulasan
-
Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
Ulasan Let Me Be Your Knight: Mengurai Burnout dan Sisi Rapuh Idol K-Pop
-
Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians
-
Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled
Terkini
-
Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
-
5 Exfoliating Toner Lokal yang Affordable dan Ramah untuk Kulit Sensitif