Siapa sangka makhluk bertaring dari luar angkasa yang pertama kali muncul di hutan Amerika Tengah tahun 1987 bisa jadi seseru itu. Setelah sukses dengan Film Prey (2022), Dan Trachtenberg kembali bermain-main dengan waktu dan tempat dalam waralaba Predator.
Namun, kali ini, dia melangkah lebih jauh. Bersama Joshua Wassung, Dan Trachtenberg menyutradarai Predator: Killer of Killers, dalam bentuk animasi berdurasi ±90 menit yang kini tayang di Hulu termasuk Disney+ (Star) sejak 6 Juni 2025.
Diproduksi 20th Century Studios, film ini menggandeng Micho Rutare sebagai penulis skenario. Para pengisi suara yang terlibat juga nggak main-main lho, di antaranya: Lindsay LaVanchy, Louis Ozawa, Rick Gonzalez, bahkan Michael Biehn turut menyumbangkan suara.
Sekilas tentang Film Predator: Killer of Killers
‘Predator: Killer of Killers’ dibagi jadi tiga segmen (antologi) yang masing-masing berdiri sendiri, tapi secara mengejutkan terhubung di akhir. Setiap segmen mempertemukan ‘manusia’ dari era berbeda dengan sang Yautja—si pemburu alien berteknologi tinggi yang nggak kenal ampun.
Penasaran kilas kisah-kisahnya? Yuk, kepoin tiap-tiap segmennya.
- Segmen pertama, ‘The Shield’, membawa Sobat Yoursay ke era Viking. Ursa (disuarakan Lindsay LaVanchy), si prajurit perempuan yang kehilangan suaminya akibat ulah seorang panglima kejam, tengah berupaya balas dendam. Namun, di tengah darah dan besi, hadir makhluk asing yang menjadikan Ursa target berikutnya.
- Selanjutnya , ‘The Sword’, berlatar di Jepang feodal. Sosok ninja tanpa nama (Louis Ozawa) harus menghadapi saudaranya sendiri yang kini menjadi samurai elit. Di tengah duel keluarga yang penuh dendam, Predator muncul dan mengubah segalanya.
- Bagian terakhir, ‘The Bullet’ mengajak kita terbang ke belakang, ke era Perang Dunia II. Seorang pilot muda (Rick Gonzalez) terdampar sendirian di atas Samudera Atlantik dalam misi pengintaian yang salah arah. Dan ternyata menjadi arena duel udara antara manusia dan makhluk dari bintang lain.
Impresi Selepas Nonton Film Predator: Killer of Killers
Sebagai penonton yang juga mengikat waralaba ‘Predator’, aku cukup antusias. Dan benar, aku menemukan ‘Killer of Killers’ punya sesuatu yang jarang dimiliki film aksi, yakni jiwa.
Pertama-tama, animasinya luar biasa. Menggabungkan gaya 3D modern dengan estetika ‘digambar tangan’ ala ‘Spider-Verse’ dan ‘Arcane’, gerakan dalam film ini terasa hidup, kinetik, tapi juga ekspresif. Teknik animasi ‘on the twos’ (di mana satu frame digambar dua kali) membuat setiap pergerakan terasa teatrikal dan intens. Bayangkan lukisan bergerak yang penuh darah dan emosi.
Setiap segmen punya warna dan ritme yang unik. Dalam ‘The Shield’ tuh pesta brutal bagi pecinta aksi jarak dekat. Ursa, dengan dua perisai tajamnya, melibas musuh-musuhnya dalam koreografi yang mengingatkanku pada ‘The Northman’. Sedangkan ‘The Sword’ menyajikan duel indah ala film samurai klasik yang senyap, cepat, penuh ketegangan. Sementara ‘The Bullet’ ngasih pengalaman yang sangat segar. Dogfight melawan Predator? Aku belum pernah membayangkan itu, dan ternyata mereka berhasil melakukannya!
Namun di balik kekerasan dan darah, tiap karakter punya luka yang mendalam. Masing-masing membawa beban emosional: cinta yang hilang, pengkhianatan, ekspektasi keluarga. Dan di sinilah aku merasa film ini benar-benar bekerja. Kehadiran Predator nggak cuma pemicu konflik, tapi cerminan dari konflik internal mereka sendiri.
Aku juga suka bagaimana film ini nggak memaksakan bahasa Inggris. Setiap karakter berbicara dalam bahasa aslinya: Norwegia Kuno, Jepang, dan Inggris era 1940-an. Ini niat banget sih, apalagi ketika karakter dari era berbeda bertemu di klimaks film.
Dan ya, Sobat Yoursay nggak salah baca. Di akhir film, ketiga tokoh utama dibekukan dan dipindahkan ke arena gladiator antar-waktu milik para Predator. Di momen klimaks ini, muncul juga Naru dari Film Prey (2022), yang memperkuat hubungan antarlini waktu di waralaba ini.
Buat yang kepo wajib nonton deh!
Skor: 4/5
Baca Juga
-
Review Lingsir Wengi: Tembang Jawa, Mitos, dan Teror di Motel Tua Malioboro
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
-
Review The Disciple: A Wu-Tang Fable dan Ironi Album Eksklusif Wu-Tang Clan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Let Me Be Your Knight: Mengurai Burnout dan Sisi Rapuh Idol K-Pop
-
Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians
-
Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled
-
Malaikat Maut Juga Bisa Galau? Sisi Lain Kematian di Novel Setelah Melompat Aku Ingin Hidup
-
Menguak Andil Manusia, Benarkah Kepunahan Keenam akan Segera Tiba?
Terkini
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
-
5 Exfoliating Toner Lokal yang Affordable dan Ramah untuk Kulit Sensitif
-
Jangan Lewatkan! ENHYPEN Rilis Jadwal Teaser Single The Sin: Parallel World
-
Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!