"Hazel Says No", debut novel fiksi oleh Jessica BergerGross, hadir sebagai kisah keluarga kontemporer yang hangat, cerdas, dan penuh ketegangan. Diterbitkan pada Juni 2025 oleh Hanover Square Press, karya ini mengeksplorasi tema-tema berat seperti pelecehan kekuasaan, antisemitisme, radikalisasi anak-anak, serta pencarian identitas personal, namun tetap dibawakan dengan rasa humor dan kehangatan emosional yang menawan.
Kisah berawal ketika keluarga Blum pindah dari Brooklyn ke kota kecil Riverburg, Maine, setelah ayah mereka, Gus, mendapatkan posisi sebagai profesor di perguruan tinggi setempat. Ibu mereka, Claire, seorang desainer pakaian, berharap bisa menemukan kembali kreativitasnya di lingkungan baru, sementara Hazel yang berusia 18 tahun mempersiapkan diri menyelesaikan tahun terakhir sekolah menengah, dan Wolf yang berusia 11 tahun sibuk mencoba beradaptasi dan mengikuti audisi drama sekolah.
Pada hari pertama tahun ajaran baru Hazel, ia dipanggil oleh kepala sekolah dan menerima pesan mengerikan, sang kepala sekolah memiliki kebijakan “memilih satu gadis setiap tahun” untuk hubungan intim, itu merupakan sesuatu yang jelas tak bisa diterima. Saat Hazel dengan tegas menolak, ia memulai perjalanan panjang yang akan menguji prinsipnya, menyatukan sekaligus memecah keluarganya, serta mengubah seluruh komunitas Riverburg selamanya.
Struktur novel ini mengutamakan sudut pandang bergilir dari empat anggota keluarga Blum, Hazel, Claire, Gus, dan Wolf. Teknik ini bukan hanya memberikan kedalaman emosional yang kaya, tapi juga menunjukkan bagaimana dampak besar dari satu peristiwa bisa menyebar dan memengaruhi seluruh unit keluarga.
Di setiap titik pandang, suara karakter terasa autentik, dari kepedulian Hazel yang selalu introspektif dan tajam, kecemasan Claire sebagai ibu yang protektif, hingga Wolf yang mengisi ruang kesendiriannya dengan filsafat online dan hasrat kuat agar bisa termasuk dalam drama sekolah.
Konfliknya bukan hanya mengenai kekuasaan atau pelecehan semata, melainkan tentang bagaimana komunitas dan institusi melindungi tokoh berkuasa dibanding korban dan bagaimana stigma hingga antisemitisme digunakan untuk menggoyahkan keluarga Blum. Mereka mengalami ancaman pesan kebencian, grafiti swastika di pintu depan rumah, serta kecaman sosial yang sangat menyakiti.
Salah satu kekuatan terbesar novel ini adalah bagaimana Berger Gross menggambarkan transformasi Hazel dari remaja yang percaya diri menjadi sosok yang rapuh, lalu berkembang menjadi pribadi yang tahu batas akan dirinya. Ia menolak tawaran buku memprofitkan kisahnya, memperlihatkan integritas moral dan kesadaran bahwa suara suara pribadi tidak seharusnya dieksploitasi demi ketenaran atau materi.
Penggambaran Wolf sebagai subplot juga sangat menonjol, peralihannya dari anak pecinta teater menjadi rentan terhadap paham libertarian ekstrem yang menggambarkan bagaimana kaum muda bisa tersedot oleh komunitas daring saat mereka merasa tidak punya tempat nyata. Proses ini ditulis dengan hati-hati dan menunjukkan dampak ketidakpastian identitas serta pencarian makna di era modern.
Di balik ketegangan dan isu-isu berat yang dihadirkan, novel ini tidak pernah kehilangan rasa humor dan optimisme. Dialog-dialognya tajam dan menggelitik, penggambaran setting Riverburg dan hidup di Maine terasa sangat atmosferik, sebuah dunia hangat penuh salju, percakapan komunitas, dan koloni kolam renang lokal yang diceritakan dengan penuh warna dan detail.
Meski beberapa bagian mengenai media dan proses hukum terasa sedikit panjang dan kadang mengganggu momentum emosional utama. Tokoh pendukung di komunitas Riverburg kadang digambarkan datar atau seperti stereotype. Namun hal ini tidak mengurangi dampak keseluruhan cerita yang kuat dan memikat.
Kesimpulannya, "Hazel Says No" adalah debut novel yang memukau, menyatukan drama keluarga, komentar sosial, dan perjalanan pribadi dalam satu narasi yang cerdas dan emosional. Gaya penulisan Berger Gross lugas namun menyentuh, karakter-karakternya mendalam dan sangat manusiawi. Novel ini memberi ruang untuk refleksi tentang keberanian, identitas, serta konsekuensi memilih berbicara kebenaran, semuanya dibungkus dengan optimism dan harapan. Cocok dibaca oleh pembaca remaja hingga dewasa, khususnya mereka yang menghargai cerita dengan keberanian moral dan hati yang kuat.
Identitas Buku
Judul: Hazel Says No
Penulis: Jessica Berger Gross
Penerbit: Hanover Square Press
Tanggal Terbit: 17 Juni 2025
Tebal: 352 Halaman
Baca Juga
-
Novel The Lost Apothecary, Misteri Toko Obat Tersembunyi di London
-
Novel Saman: Pendobrakan Tabu Sosial di Tengah Politik Indonesia
-
Membedah Sisi Gelap Keadilan Manusia di Ulasan Novel The Hellbound
-
Novel Pukul Setengah Lima, Mencari Pintu Keluar dari Realitas Kehidupan
-
Ulasan Buku Empowered Me, Menjadi Ibu Berdaya Tanpa Kehilangan Identitas
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel Soul Machine: Perjalanan Kakak Beradik Melawan Kendali MCorp
-
Ulasan Novel Satu Kelas: Dilema Ketika Sekelas dengan Mantan dan Gebetan
-
Ulasan Novel Overruled: Ambisi Dua Pengacara dalam Memperebutkan Kemenangan
-
Eks Pimpinan KPK Ungkap Latar Belakang Kasus Penyiraman Novel Baswedan
-
Kecewa ke Prabowo, Novel Baswedan Sebut Amnesti Hasto Tak Adil: Bagaimana dengan Pelaku Lain?
Ulasan
-
Membaca Lebih Putih Dariku: Perjuangan Identitas di Tengah Rasisme
-
Novel Di Tanah Lada: Ketika Kepolosan Anak Bertemu Dunia yang Kejam
-
Bedah Buku Stolen Focus: Rahasia di Balik Algoritma yang Membuat Kita Kecanduan
-
Drama China Unforgettable Love: Keluarga Lahir dari Kasih Sayang
-
Seni Meraih Doktor Berasa Healing di Eropa: Sebuah Perjalanan yang Menginspirasi
Terkini
-
Niat Cari Jajanan Kaki Lima, Turis di Tailan Malah Disuguhi Makanan di Acara Duka
-
Harga Terjun Bebas! 5 Flagship Ini Makin Masuk Akal Dibeli
-
4 Serum Anti-Aging Tanpa Pewangi dan Alkohol yang Gentle untuk Kulit Sensitif
-
Mengenal Legenda Putri Mandalika di Balik Tradisi Bau Nyale 2026 di Lombok Tengah
-
Bikin Tensi Naik! Ini 5 Biang Kerok Anime Hobinya Nge-Prank Teman Sendiri