Kadang, malam nggak selalu tenang lho. Ada kesunyian paling sunyi, sampai-sampai rasanya kayak ada yang ngetuk pintu dan cukup bikin jantung berhenti sepersekian detik. Dari suasana seperti itulah Film Vicious dimulai. Horor terbaru dari Bryan Bertino ini terasa kayak perjalanan yang gelap banget.
Eits, bukan cuma soal teror yang datang dari luar ya, tapi juga soal luka yang nggak pernah sembuh di dalam diri manusia.
Bertino sendiri, selaku sutradara, sudah identik dengan jenis horor yang nggak butuh darah atau monster buat bikin ngeri. Misalnya, dalam Film The Strangers yang bikin banyak orang takut kalau ada suara di depan rumah, atau bahkan ‘The Dark and the Wicked’ yang bikin kita merasa ‘kehilangan bisa jadi bentuk setan paling nyata’.
Nah, lewat Film Vicious, Bertino kayak mau balik ke akar yang sama dengan cerita yang lebih intim dan depresif, tapi ….
Cek Bareng Kisahnya Dulu, Yuk!
Dikisahkan Polly (Dakota Fanning) hidup sendirian di rumah besar yang dingin dan terlalu sunyi buat ukuran manusia normal. Dari pesan suara yang sesekali terdengar, kita tahu hidupnya lagi berantakan. Hubungan dengan ibunya retak, pekerjaan kacau, dan rokok jadi satu-satunya teman yang tersisa.
Sampai suatu malam, ada yang ngetuk pintu.
Ada wanita tua (Kathryn Hunter) berdiri di sana, kelihatan kebingungan dan lemah, katanya sedang mencari rumah anaknya. Polly, mungkin karena iba atau lagi butuh interaksi manusia, akhirnya mempersilakan dia masuk. Awalnya, semua terasa normal, sampai sang wanita tua bilang dengan nada datar, “I’m going to start now.”
Wanita tua ngeluarin kotak hitam kecil dari tas, meletakkannya di meja, dan bilang kalau malam itu Polly akan mati. Kotak itu, katanya, harus diisi dengan tiga hal. Sesuatu yang Polly benci, sesuatu yang dia butuhkan, dan sesuatu yang dia cintai. Sebelum Polly sempat bereaksi, wanita itu hilang begitu saja.
Setelah itu, rumah Polly berubah jadi ruang penyiksaan psikologis. Ada suara langkah kaki, telepon dari ayah yang sudah meninggal, dan bayangan yang makin lama makin nyata. Kotak hitam itu seolah-olah menelan isi jiwanya satu per satu. Sengeri itu memang, tapi ….
Sangat Disayangkan Deh!
Sejak tayang 10 Oktober 2025 di Paramount+, asli deh, sempat berharap banyak sama performa film ini. Bertino tuh aslinya jago membangun nuansa mencekam tanpa perlu efek berlebihan. Jujurly, di paruh pertama film, film ini tampil kece banget.
Kamera bergerak lambat, pencahayaannya dingin, dan rumah tempat Polly tinggal terasa hidup, seolah-olah dindingnya punya rahasia yang nggak mau diceritakan.
Dakota Fanning juga luar biasa di sini. Tatapan kosongnya pelan-pelan berubah jadi delusi, bikin merasa terjebak di kepala karakter yang sudah kehilangan arah.
Sayangnya makin lama, film ini kayak kehilangan napasnya. Naskahnya terlalu sibuk bikin teka-teki, sampai lupa ngasih fondasi yang jelas buat emosinya. Sang sutradara kayak bingung mau mengedepankan horor psikologis atau horor biasa. Alhasil, beberapa bagian terasa timpang. Ada adegan yang menegangkan, tapi diikuti jumpscare yang nggak perlu.
Metafora kotak hitam sebenarnya keren, semacam simbolisasi ‘apa yang kamu simpan di dalam dirimu bisa membunuhmu’, tapi film ini nggak kasih cukup konteks buat bikin semua terasa berarti. Ending-nya pun dibiarkan terbuka, bukan dalam arti ‘wah keren banget, bikin mikir’, tapi lebih ke ‘hah, gitu doang?’
Dari sini kita paham, ya? Ini adalah contoh film yang punya visi tapi kehilangan keseimbangannya. Cantik, suram, dan punya sesuatu untuk dikatakan, tapi nggak tahu gimana cara mengatakannya dengan utuh.
Meski begitu, buat Sobat Yoursay yang suka horor psikologis yang lebih menekan daripada menak-nakuti, film ini tetap layak dicoba.
Baca Juga
-
Review Film Renoir: Ketika Kita Terlalu Remehkan Perasaan Anak
-
Monster Sesungguhnya Adalah Trauma: Mengulas Sisi Gelap Film 'Badut Gendong'
-
Writing with Fire Bukan Film, Mengulik Orang-Orang yang Menolak Dibungkam
-
Horor Komedi Rasa Tragedi: Sekawan Limo 2 Berani Angkat Isu Sosial yang Sensitif?
-
Amazon MGM Studios Pakai AI, Industri Kreatif Sedang Masuk Fase Kritis
Artikel Terkait
-
Sinopsis Pangku: Perjuangan Wanita Hamil di Warung Pantura
-
Good Fortune Banjir Pujian, Bukti Kemenangan Sutradara Aziz Ansari Lewati Rintangan Produksi Film
-
Totalitas Fedi Nuril di Film Pangku, Bawa Pulang Truk Pengangkut Ikan ke Rumah
-
Fedi Nuril Sorot Gaya Reza Rahadian Sutradarai Film Pangku: Gabungan Hanung Bramantyo dan Garin
-
Review Film No Other Choice yang Dibayang-bayangi Kemenangan Parasite di Oscar, Lebih Lucu?
Ulasan
-
Review Novel Di Tanah Berhala: Teror Desa Kerti Swara dan Kutukan Berdarah
-
Dilema Ketika Cinta Lama Datang Kembali di Novel Endless Love
-
Review Film Renoir: Ketika Kita Terlalu Remehkan Perasaan Anak
-
Tanpa Romansa Guru dan Murid: Sisi Menarik di Absolute Value of Romance
-
Review Film Masters of The Universe: Adaptasi Modern Franchise Legendaris!
Terkini
-
Perempuan, Self-Care, dan Isu Lingkungan: Bisakah Semua Berjalan Bersama?
-
4 'Less Waste Lifestyle' yang Sudah Aku Terapkan di Rumah
-
Tampil Cantik Tanpa Merusak Lingkungan, Ini 5 Brand Skincare Sustainable yang Patut Dilirik
-
Belanja, Pakai, lalu Retur: Sisi Gelap yang Menghancurkan 'Green Logistics'
-
Fatherless dan Krisis Tanggung Jawab yang Disembunyikan di Balik Kata Nafkah