Film horor Indonesia kembali menggebrak layar lebar dengan sekuel Qorin 2, yang tayang perdana di seluruh bioskop Indonesia mulai 11 Desember 2025.
Diproduksi oleh Gope T. Samtani di bawah bendera IDN Pictures, film ini disutradarai oleh Ginanti Rona, yang dikenal dengan sentuhan emosionalnya dalam genre horor seperti Dasim.
Ditulis oleh Lele Laila, Qorin 2 melanjutkan warisan film pertama tahun 2022 yang sukses membahas isu sosial di balik teror gaib, kali ini dengan fokus lebih dalam pada perundungan (bullying) dan balas dendam.
Dengan durasi sekitar 110 menit, film ini menjanjikan perpaduan horor mencekam, drama keluarga yang menyayat hati, dan pesan moral tentang batas antara keadilan dan kegelapan. Bagi penggemar horor lokal yang haus akan cerita bermakna, Qorin 2 layak ditonton. Yuk, simak ulasannya!
Sinopsis: Dendam Ayah vs Jin Qorin yang Mengerikan
Cerita Qorin 2 berlatar di Desa Sukajadi, sebuah kampung kecil yang tampak damai namun menyimpan rahasia kelam.
Tokoh utama, Makmur (diperankan apik oleh Fedi Nuril), adalah seorang pemulung miskin yang hidup pas-pasan bersama putranya, Jaya (Ali Fikry), seorang remaja polos yang baru saja pindah sekolah.
Kehidupan mereka berubah tragis ketika Jaya menjadi korban perundungan brutal dari sekelompok siswa senior yang dipimpin oleh sosok antagonis seperti Rizal (Muzakki Ramadhan) dan Darma (Gilang Devialdy).
Laporan Makmur ke pihak sekolah diabaikan, meninggalkan luka batin yang semakin dalam. Dalam keputusasaan, Makmur menemukan jalan pintas berbahaya: bersekutu dengan Jin Qorin, makhluk gaib yang dikenal sebagai bayangan gelap diri manusia, untuk mendapatkan kekuatan supranatural demi balas dendam.
Sejalan dengan itu, Fitri (Wavi Zihan), guru BK muda yang idealis, curiga ada kasus bullying di sekolahnya. Diam-diam ia kumpulkan bukti dari saksi dan warga desa, tapi investigasinya malah ungkap misteri lebih horor: penduduk desa satu per satu dirasuki Jin Qorin, bertingkah seperti sisi jahat diri mereka.
Alur ganda ini—balas dendam ayah versus pencarian fakta guru—membuat cerita makin menegangkan, dengan puncak yang menyatukan keduanya dalam emosi dan teror.
Tanpa spoiler, film ini bahas bullying bukan cuma fisik, tapi juga hancurkan jiwa, hingga dorong korban atau keluarga ke tepi kegilaan. Tema ini sangat relevan di zaman medsos, di mana perundungan remaja sering diabaikan, dan Qorin 2 hadirkan dengan sentuhan gaib yang memorable.
Review Film Qorin 2
Dari segi plot, Qorin 2 jago bangun suspense bertahap. Awal cerita tekankan drama keluarga Makmur secara realistis—rutinitas pemulungan hingga kehangatan ayah-anak yang rapuh.
Ini kontras kuat dengan lonjakan horor di babak kedua, saat elemen supernatural Jin Qorin muncul lewat bisikan, bayangan kabur, dan jumpscare pas.
Ginanti Rona cerdik manfaatkan setting desa gelap, didukung sinematografi Rudi Soedjarwo yang mainkan cahaya-bayangan untuk atmosfer mencekam. Sound design juga top; suara angin mendesis dan jerit halus Jin Qorin bikin merinding, mirip Pengabdi Setan tapi lebih personal.
Akting para pemain jadi kekuatan utama film ini. Fedi Nuril sukses perankan ayah desperado dengan sisi gelap, ekspresi mata penuh amarah, bersalah, dan takut saat bersekutu jin—sangat menghantam emosi.
Ali Fikry sebagai Jaya tampil subtil gambarkan trauma bullying remaja tanpa berlebihan. Wavi Zihan beri kesegaran sebagai Fitri, heroine biasa yang lawan sistem sekolah cuek. Pendukung seperti Epy Kusnandar (kepsek korup) dan Muzakki Ramdhan (pelaku bullying) tambah bobot, walau peran minor kurang digali.
Meski begitu, ada kekurangan. Ending terasa antiklimaks, resolusi cepat dan ambigu, bikin getir. Plot hole soal asal Jin Qorin di desa tak dijelaskan dalam, mungkin mengecewakan fans film pertama. Adegan kekerasan grafis berlebih, berisiko traumatis buat penonton muda. Pacing tengah lambat, tapi justru bantu bangun empati karakter.
Secara keseluruhan, Qorin 2 adalah evolusi cerdas dari sekuel horor Indonesia yang tak hanya mengandalkan teror visual, tapi juga pesan sosial mendalam tentang empati dan konsekuensi dendam.
Film ini mengingatkan kita bahwa monster sesungguhnya seringkali lahir dari ketidakadilan manusia, bukan hanya dari dunia gaib. Dengan rating 7.5/10. Dan sangat aku rekomendasikan untuk ditonton di bioskop—terutama XXI atau CGV—karena efek suara dan visualnya optimal di layar besar.
Buat yang belum nonton Qorin pertama, tak masalah; sekuel ini cukup mandiri kok. Di tengah banjir film horor impor, Qorin 2 bangga jadi representasi sinema lokal yang berkualitas. Jangan lewatkan, sebelum Jin Qorin "merasuki" trending topic besok!
Baca Juga
-
Review Film Minions & Monsters: Mendobrak Batasan Komedi Lewat Mantra Kuno
-
Avatar: The Last Airbender Season 2, Misi Menemukan Guru Pengendali Bumi
-
Review Hungry: Potret Bahaya Alam Liar melalui Serangan Predator Mematikan!
-
Review Husbands in Action: Detektif dan Dokter Hewan Lawan Sindikat Jahat!
-
Review Film How to Make a Killing: Ambisi Mematikan Pewaris yang Kaya Raya
Artikel Terkait
Ulasan
-
About 7 Memories: Sebuah Potret Persaudaraan Toksik yang Menghancurkan Jiwa
-
Bisakah Komedi Menggantikan Buku Sejarah? Ini Pendapat Saya Setelah Menonton Serial Larry David
-
Review Film Minions & Monsters: Mendobrak Batasan Komedi Lewat Mantra Kuno
-
Cantik tapi Kelam: Merasakan Perihnya Luka Sejarah Lewat Kebaya Merah di Tebing Kanal
-
Single Mom Melawan Stigma Janda Lemah: Bagaimana Irene Mengubah Luka Menjadi Kekuatan?
Terkini
-
Budget Cuma Rp30 Ribuan? Ini 4 Sunscreen Cica Murah untuk Kulit Berjerawat
-
Harry Kane CS Harus Waspada, RD Kongo Punya Ambisi Lolos Babak 16 Besar
-
Membongkar Borok Kerja Kelompok yang Cuma Bikin Jinak Si Pemalas
-
Pertemanan di Era Media Sosial: Dekat Secara Online, Jauh di Dunia Nyata
-
Takluk dari Meksiko, Ekuador Gagal Ulang Sejarah Indah 20 Tahun Silam