Memiliki ketinggian 2.868 meter di atas permukaan laut (mdpl). Secara geografis, Gunung Buthak terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar. Menjadi bagian dari rangkaian Pegunungan Putri Tidur bersama Gunung Kawi dan Gunung Panderman, Buthak dikenal cukup ramah pada pendaki pemula.
Jangan tertipu dulu ya. Maksud dari ramah pendaki pemula ini adalah untuk para anggota pencinta alam dan atlet trail running yang memang sudah terbiasa akan medan gunung dan olahraga ekstrem. Karena biasanya mereka akan mendaki gunung dengan ketinggian di atas 3000 mdpl.
Jadi kalau kamu adalah rakyat sipil yang hobinya goleran di kasur. Gunung Buthak akan jadi trek yang cukup menantang buat kamu. Belum lagi banyaknya cabang jalur, cukup masuk akal kalau masih banyak pendaki yang tersesat. Maka dari itu, jangan menganggap enteng dan terlena dengan label "ramah pemula".
Kenapa Dijuluki Miniatur Argopuro?
Bagi para pendaki, Butak dikenal sebagai gunung dengan karakter trek panjang, lanskap beragam, dan suasana alami yang masih terjaga. Popularitas Gunung Butak tidak terlepas dari jalur pendakiannya yang relatif ramah namun tetap menantang.
Jalur Panderman melalui Kota Batu menjadi rute paling umum dan favorit, baik bagi pendaki pemula yang ingin naik level, maupun pendaki berpengalaman yang merindukan perjalanan panjang dengan pemandangan sabana luas.
Tak heran, Gunung Butak dijuluki sebagai “miniatur Argopuro” karena kemiripan karakter trek dan bentang alamnya. Jadi kalau sedang rindu tapi tak punya jadwal libur panjang, pendaki bisa menjadikannya sebagai pemanasan atau lepas kangen tipis-tipis pada Gunung Argopuro yang terkenal sebagai gunung dengan trek terpanjang.
Dari Basecamp-Pos 3: Jalur Awal dan Akses Ojek yang Diizinkan
Pendakian via Panderman dimulai dari basecamp dengan fasilitas yang cukup lengkap, termasuk sistem registrasi online. Dari basecamp menuju Pos 1, jalur cenderung landai dan nyaman. Ojek masih dapat diakses hingga titik tertentu, dan di Pos 1 tersedia warung serta sumber mata air. Namun, pendaki perlu waspada karena area ini dikenal sebagai habitat monyet liar yang cukup aktif.
Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 mulai menguras tenaga. Terdapat tanjakan yang kerap disebut “tanjakan PHP” karena terlihat pendek namun terasa panjang dan melelahkan. Alternatifnya adalah jalur lama yang kini sering dilalui ojek; jalurnya lebih landai namun jaraknya lebih panjang. Di Pos 2, pendaki kembali menemukan sumber air dan mulai disambut kabut khas pegunungan, dengan pemandangan yang semakin terasa magis.
Segmen Pos 2 ke Pos 3 merupakan salah satu bagian paling bersahabat. Jalurnya relatif landai dan memanjang, melewati hutan lumut yang lembap, sunyi, dan indah, meski sering memberi kesan horor bagi sebagian pendaki. Pos 3 sendiri menyediakan area camp yang cukup nyaman, dan menjadi titik akhir akses ojek. Di sini, suasana hutan benar-benar mendominasi.
Sabana-Puncak: Bagian Paling Eksotik Gunung Buthak
Dari Pos 3 menuju Pos 4 atau Sabana Butak, pendaki mulai memasuki lanskap terbuka. Awalnya jalur masih landai, dengan banyak area datar di pinggir jalur yang bisa digunakan sebagai tempat mendirikan tenda darurat.
Namun, semakin mendekati sabana, jalur menjadi lebih menanjak. Pendaki disarankan membaca peta atau navigasi dengan saksama karena terdapat beberapa jalur buntu. Tanda bahwa sabana sudah dekat adalah jalur yang mulai berada di tepi jurang dengan pandangan terbuka.
Sabana Butak merupakan daya tarik utama gunung ini. Hamparan rumput luas dengan latar pegunungan menciptakan panorama yang sering disandingkan dengan Sabana Merbabu. Area camp di sini sangat luas dan jarang penuh, dilengkapi sumber mata air. Namun, suhu malam hari cukup ekstrem; angin dingin bisa terasa menusuk hingga ke tulang.
Perjalanan dari Sabana menuju puncak adalah bagian indah. Meski begitu hati-hati karena oleng sedikit bisa langsung meluncur ke jurang. Jalurnya lebih terjal dan menguras stamina.
Pendaki disarankan membawa air yang cukup dari sabana. Meski melelahkan, usaha tersebut terbayar lunas oleh pemandangan sunrise dan lautan awan yang spektakuler dari puncak Gunung Butak. Sebuah hadiah alam yang membuat trek panjang terasa sepadan.
Baca Juga
-
Mengapa Kritik Akademik Lebih Sibuk Dipersoalkan daripada Masalahnya?
-
Standar Kinerja Harusnya Berlaku untuk Semua Penyelenggara Negara
-
Kebencian Salah Sasaran: Mengapa Perempuan Memusuhi Perempuan Lain?
-
Tangki Cinta yang Kosong: Sulitnya Anak Broken Home Mengenal Hubungan Sehat
-
Membaca Ways to Live Forever: Bagaimana Anak Kecil Melihat Sebuah Kematian?
Artikel Terkait
-
Prabowo Resmikan SMA Taruna Nusantara Kampus Malang
-
6 Rekomendasi Tas untuk Tektok Gunung, Merek Lokal Mulai Rp100 Ribuan
-
10 Tips Pendakian Gunung yang Aman: Panduan Lengkap bagi Pendaki
-
Ingin Coba Mendaki? Inilah Daftar 10 Gunung di Indonesia Paling Ramah Pemula
-
10 Rekomendasi Oleh-Oleh Malang Selain Apel, Unik dan Anti Mainstream
Ulasan
-
Satu Terbang dari Sarang Burung Kukuk:Perjuangan Kebebasan di Balik Rumah Sakit Jiwa
-
Review The Hawk: Saat Will Ferrell Nggak Lagi Cukup Mengundang Tawa
-
The Maidens: Novel Psychology Thriller yang Melibatkan Dosen dan Mahasiswi
-
Review Film Zola: Ketika Kisah Media Sosial Berubah Menjadi Momen Mencekam!
-
Ulasan Novel Burung-Burung Berkisah: Keindahan Alam dalam Sastra Klasik
Terkini
-
Membaca Jadi Privilese Mewah: Mengapa Harga Buku Makin Tak Terjangkau?
-
Masihkah Pendidikan Menjadi Tiket Keluar dari Kemiskinan?
-
Prabowo Ngaku Diserang karena MBG: Salah Kaprah Pemimpin Memahami Kritik
-
Kaum Rebahan dan Era Serba Klik: Kemudahan Zaman atau Jebakan Kemalasan?
-
Berkaca dari Kasus Hotman Paris: Popularitas dan Jabatan Bukan Alasan Merendahkan Profesi Lain