Film 5 Centimeters Per Second (judul asli: Byousoku 5 Centimeter) adalah karya animasi Jepang yang disutradarai oleh Makoto Shinkai, dirilis pertama kali pada 3 Maret 2007 di Jepang. Film ini diproduksi oleh CoMix Wave Films dan memiliki durasi sekitar 77 menit. Sebagai salah satu karya awal Shinkai, film ini menonjol karena gaya visual yang memukau, menggabungkan animasi realistis dengan elemen alam seperti bunga sakura yang jatuh, hujan salju, dan langit malam yang luas.
Tema utamanya adalah cinta remaja yang terpisah oleh jarak dan waktu, diilustrasikan melalui metafora kecepatan jatuhnya bunga sakura—5 sentimeter per detik. Film ini bukanlah narasi linier panjang, melainkan terdiri atas tiga episode pendek yang saling terkait: Oukashou (Cherry Blossom), Cosmonaut, dan 5 Centimeters Per Second. Setiap bagian mengeksplorasi tahap berbeda dalam kehidupan protagonis, Takaki Tono dan Akari Shinohara, dari masa kecil hingga dewasa.
Kanae dan Perasaan yang Tak Sampai
Sinopsis dimulai dengan episode pertama, Oukashou. Takaki dan Akari adalah teman dekat di sekolah dasar, tetapi Akari harus pindah ke Tochigi karena pekerjaan orang tuanya. Mereka berjanji untuk bertemu lagi di stasiun kereta saat salju turun. Perjalanan Takaki yang tertunda oleh badai salju menjadi metafora hambatan dalam hubungan mereka. Adegan ini penuh emosi, dengan dialog minim tetapi visual yang menyentuh, menunjukkan bagaimana jarak fisik mulai memisahkan mereka.
Episode kedua, Cosmonaut, berlatar empat tahun kemudian. Takaki kini di SMA di Tanegashima, terlibat dalam proyek roket luar angkasa, sementara Akari berada di Tokyo. Mereka bertukar e-mail, tetapi Takaki bertemu dengan Kanae Sumida, gadis yang diam-diam mencintainya. Bagian ini menyoroti ketidakpastian mimpi dan perasaan tak terbalas, dengan latar peluncuran roket yang simbolis bagi aspirasi yang melayang jauh.
Episode terakhir, 5 Centimeters Per Second, melompat ke masa dewasa. Takaki bekerja sebagai insinyur luar angkasa di Tokyo, sementara Akari akan menikah. Mereka bertemu sekilas di rel kereta, tetapi kereta yang lewat menghalangi pandangan. Akhir cerita (ending) ini bersifat ambigu, meninggalkan rasa melankolis tentang peluang yang hilang.
Review Film 5 Centimeters Per Second
Dari segi analisis, menurut saya kekuatan film ini terletak pada estetika visual Shinkai. Animasi latar belakangnya seperti lukisan hidup, dengan detail cahaya dan bayangan yang membuat setiap frame layak dijadikan wallpaper. Misalnya, adegan bunga sakura jatuh di episode pertama bukan hanya dekorasi, melainkan simbol waktu yang berlalu tak terkejar. Musik oleh Tenmon, kolaborator tetap Shinkai, memperkuat emosi dengan piano lembut dan strings yang menyayat hati. Lagu penutup "One More Time, One More Chance" oleh Masayoshi Yamazaki menjadi ikonik, menyimpulkan tema penyesalan dengan sempurna.
Akan tetapi, kritik saya terhadap film ini ada pada narasi yang terlalu pasif; karakter jarang bertindak aktif terhadap perasaan mereka, membuat cerita terasa seperti observasi daripada drama intens. Ini mencerminkan budaya Jepang tentang mono no aware atau kesedihan atas hal-hal yang fana. Tema utama adalah bagaimana waktu dan jarak mengikis hubungan, mirip dengan karya Shinkai lain seperti Your Name atau Weathering with You, tetapi lebih introspektif dan kurang fantastis.
Karakter utamanya, Takaki dan Akari, digambarkan dengan nuansa realistis. Takaki adalah tipe pemimpi yang fokus pada karier, sehingga sering mengabaikan emosi pribadi. Akari lebih adaptif, tetapi tetap terikat pada kenangan masa lalu. Karakter pendukung seperti Kanae menambah lapisan, menunjukkan bagaimana cinta tak berbalas bisa menjadi katalisator pertumbuhan. Pengisi suara, termasuk Kenji Mizuhashi sebagai Takaki dan Yoshimi Kondou sebagai Akari, menyampaikan emosi halus melalui nada suara yang tenang. Intinya, 5 Centimeters Per Second adalah masterpiece bagi penggemar anime romansa yang menyukai cerita bittersweet.
Walaupun visualnya sangat bagus, sayangnya pacing film ini terasa agak lambat. Oh iya, film ini memenangkan penghargaan seperti Asia Pacific Screen Award untuk kategori Best Animated Feature Film. Bagi penonton Indonesia, film ini sangat relevan karena mengangkat tema universal tentang LDR (long-distance relationship).
Jika boleh jujur, akhir ceritanya mungkin membuat penonton merasa sedikit kecewa dan frustrasi karena kurang menonjolkan resolusi bahagia. Mengenai penayangan di bioskop Indonesia, film ini ditayangkan ulang secara resmi mulai 16 Januari 2026 di jaringan CGV dan bioskop lainnya, lengkap dengan bonus klip wawancara Makoto Shinkai. Ini adalah kesempatan langka untuk menikmati film ini di layar lebar setelah 19 tahun sejak rilis aslinya, menyusul kesuksesan versi live-action di Jepang.
Film ini sangat saya rekomendasikan untuk mereka yang mencari pengalaman emosional mendalam, bukan sekadar aksi atau plot twist. Jadi, kalau kamu suka cerita tentang kehilangan dan pertumbuhan, film ini wajib ditonton, ya, Sobat Yoursay!
Rating pribadi: 7.5/10
Baca Juga
Artikel Terkait
-
5 Anime Bertema Zero-to-Hero yang Wajib Ditonton Sambil Menunggu Drakor Solo Leveling
-
Usai 6 Tahun Tayang, Spin-off One Piece Resmi Berakhir 22 Januari
-
Promo Buy 1 Get 1 Tiket Film Esok Tanpa Ibu di m.tix, Simak Cara Belinya
-
Manga Supranatural Recommendation from Mr. Iwamoto Dapat Adaptasi Anime TV
-
Review Film Penerbangan Terakhir: Sisi Gelap Relasi Kuasa dan Manipulasi Emosional
Ulasan
-
Lebih dari Menahan Lapar, Ini Hikmah Puasa Menurut Buku 'Puasa: Kado Spesial untuk Allah'
-
Review Film Penerbangan Terakhir: Sisi Gelap Relasi Kuasa dan Manipulasi Emosional
-
Review Mens Rea Pandji Pragiwaksono: Saat Komedi Berani Menguliti Niat Penguasa
-
Film 28 Years Later: The Bone Temple, Horor Visceral Terbaik Sepanjang Masa
-
Menikmati Keindahan Gunung Buthak, si Cantik yang Dijuluki Miniatur Argopuro
Terkini
-
Dari Desain hingga Kenyamanan, Yamaha NMAX Buktikan Skutik Premium Ramah Perempuan
-
Jennie BLACKPINK Rayakan Ulang Tahun ke-30, Aksi Tiup Lilin Mirip Merokok Jadi Kontroversi
-
Kupu-kupu Dalam Kenangan
-
Lebih dari Sekadar Berkendara, Yamaha NMAX Hadirkan Riding Berkelas di MAXCLUSIVE Ride
-
Xiaomi Luncurkan Power Bank Magnetik Setipis Kartu Kredit, Harganya Cuma Rp400 Ribuan!