Yang menyedihkan, para perawan remaja yang tidak pernah sampai di tempat yang dijanjikan tersebut telah mati dalam penderitaan. Mereka tidak pernah mendapat kesempatan belajar seperti yang dijanjikan, tidak disaksikan oleh orang-orang yang mereka sayangi, dan meninggal di negeri yang jauh.
Pernahkah kita ingin tahu bagaimana nasib perempuan remaja pada tahun 1943? Apakah mereka dapat bersenang-senang menghabiskan masa remajanya dengan bersekolah seperti kita sekarang, atau justru mengalami hal yang sebaliknya? Buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer menjawab pertanyaan tersebut secara lengkap dan mendalam.
Buku ini berisi catatan Pramoedya tentang gadis-gadis Indonesia yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. Ironisnya, Jepang yang semasa kekuasaannya mengajarkan semangat satria dan bushido, dalam praktik justru tidak berani bertanggung jawab atas akibat dari perbuatan mereka sendiri.
Sinopsis Novel
Diceritakan munculnya perintah dari pemerintahan Dai Nippon di Jawa agar remaja perempuan melanjutkan sekolah ke Tokyo dan Shonanto. Perintah ini tidak diumumkan secara resmi dan tidak tercantum dalam Osamu Seirei (Lembaran Negara), yang sengaja dilakukan untuk menghilangkan jejak. Melalui janji-janji manis berupa kesempatan sekolah gratis ke Jepang, para perawan remaja—yang tentu memiliki cita-cita untuk memajukan masyarakat dan bangsanya—direkrut secara halus. Orangtua mereka pun serta-merta setuju, selain karena rasa bangga, juga karena tekanan. Bahkan, kepala keluarga yang menolak menyerahkan anak gadisnya mendapat ancaman dari pihak Jepang.
Para perawan remaja yang telah diberangkatkan meninggalkan kampung halaman dan keluarga menempuh perjalanan laut dengan kapal. Namun, setelah kapal berlayar jauh, kenyataan pahit pun terungkap. Mereka tidak dikirim untuk menjadi pelajar di Tokyo maupun Shonanto, melainkan dipaksa memenuhi nafsu seksual para serdadu Jepang. Mereka dijadikan Jugun Ianfu atau comfort women, sebutan bagi perempuan penghibur tentara Kekaisaran Jepang pada masa Perang Asia Pasifik.
Pramoedya menyusun catatan ini berdasarkan keterangan teman-teman seperjuangannya di Pulau Buru pada tahun 1979 mengenai kelanjutan nasib para Jugun Ianfu yang ditinggalkan begitu saja tanpa pesangon maupunfasilitas setelah Jepang menyerah pada tahun 1945. Setelah ditinggalkan, nasib mereka ternyata tidak lebih baik. Mereka harus berjuang menghadapi kerasnya alam Pulau Buru serta kehidupan bersama penduduk asli setempat.
Catatan ini menjadi bukti nyata kepedulian para tahanan politik pemerintah Indonesia untuk bertemu saudara-saudara senasib mereka—yang terbuang dan dilupakan. Para Jugun Ianfu kini telah berusia 80–90 tahun; sebagian mungkin tak memiliki waktu hidup yang panjang lagi dan akan terlupakan seandainya Pramoedya tidak mencatat kisah mereka sebagai bentuk penghormatan dan pengingatan. Saat persoalan ini mencuat, Pemerintah Jepang menganggap para Jugun Ianfu sebagai pelacur komersial, sementara Pemerintah Indonesia menilai masalah ini telah selesai.
Kelebihan Buku
Buku ini diceritakan dengan sangat detail dan kaya referensi. Wawancara-wawancara yang disajikan penuh perjuangan dan petualangan, menggambarkan usaha teman-teman tapol Pramoedya dalam mengunjungi para perempuan tersebut yang tinggal di wilayah terpencil, di perkampungan pegunungan Pulau Buru.
Kekurangan Buku
Bagian yang menurut saya paling menarik adalah dari pembukaan hingga bab lima. Setelah itu, narasi lebih banyak berfokus pada kehidupan masyarakat Alfuru (penduduk asli Pulau Buru), dengan berbagai istilah bahasa yang sulit dipahami serta penggambaran geografis Pulau Buru yang cukup panjang. Bagian tengah hingga akhir terasa berjalan lambat.
Namun, pada bab-bab terakhir, esensi utama yang saya cari—yakni kisah para perempuan “buangan” Jepang—tidak terasa kuat. Hanya sekitar 10% dari keseluruhan halaman yang membahas mereka secara langsung. Sisanya lebih banyak berisi perjuangan dan petualangan teman-teman tapol Pramoedya dalam menjangkau lokasi para perempuan tersebut di pedalaman Pulau Buru.
Akhir kata, dengan berlinang air mata, saya berdoa semoga para perawan remaja yang mimpi dan hidupnya dicengkeram watak fasisme-militerisme Jepang—yang tetap tersiksa dan menderita bahkan setelah Indonesia merdeka, dilupakan keluarga karena dianggap beban moral bangsanya sendiri—kini dapat tersenyum di surga dan merasakan nikmat serta kebahagiaan yang tidak pernah mereka peroleh semasa hidup di dunia.
Identitas Buku
Judul: Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tanggal Terbit: 31 Agustus 2015
ISBN: 9786026208828
Jumlah Halaman: 250 halaman
Bahasa: Indonesia
Ukuran Buku: 21,0 cm × 14,0 cm
Berat: 0,45 kg
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel Cahaya Cinta di Manchester: Ketulusan Terbukti oleh Perjuangan
-
Buku Home Learning, Belajar Seru Meski dari dalam Rumah
-
Sinopsis Titip Bunda di Surga-Mu, Drama Keluarga Penuh Penyesalan
-
Terasing di Rumah Sendiri: Kisah Pilu di Novel Serenity Karya Ajeng Puspita
-
Review Film Two Seasons, Two Strangers: Kisah-kisah Kemenangan Kecil yang Menyentuh
Terkini
-
SudahTawarkan Diri, John Herdman Selayaknya Jadikan El Loco Gonzales Asisten Pelatihnya di Timnas
-
Mengenal Otoritas Geospasial: Alasan di Balik Penyesuaian Nama Thailand Jadi Tailan
-
Red Magic 11 Pro Golden Saga Edition, Desain Serat Karbon dan Sistem Pendingin Lapis Emas
-
Warisan
-
5 Upcoming Drama Korea Februari 2026, Ada Drakor Baru Ryeo Un