Lintang Siltya Utami | Taufiq Hidayat
Novel Puya ke Puya. (Gramedia)
Taufiq Hidayat

“Kebudayaan adalah produk manusia, manusia dan kebudayaan itu dinamis sesuai ruang dan waktu...” (hal. 20).

Kutipan ini menjadi fondasi yang kuat bagi Faisal Oddang dalam merajut Puya ke Puya, sebuah novel yang memaksa kita melihat sisi lain dari megahnya tradisi Tana Toraja. Novel ini bukan sekadar fiksi, melainkan sebuah dokumentasi sosiologis yang memotret bagaimana sebuah etnik berjuang mempertahankan identitas di tengah gempuran kapitalisme.

Sinopsis: Kematian, Hutang Adat, dan Pilihan Sulit Allu Ralla

Kisah ini diawali dengan wafatnya Rante Ralla, seorang bangsawan sekaligus pemimpin adat di Kampung Kete’. Dalam budaya Toraja, kematian seorang bangsawan harus dirayakan melalui Rambu Solo, yakni sebuah upacara pemakaman megah agar jiwa yang meninggal dapat mencapai Puya (dunia spiritual) dan berjumpa dengan Puang Matua.

Permasalahannya, Rambu Solo membutuhkan dana yang sangat besar. Sementara itu, Rante Ralla hanya meninggalkan Rumah Tongkonan dan sedikit lahan warisan, yang lainnya sudah habis diakibatkan oleh kebiasaan berjudi dan mengonsumsi ballo. Allu Ralla, anaknya yang merupakan mahasiswa "abadi" di Makassar, terpaksa kembali untuk menghadapi tanggung jawab adat ini. Di tengah kebingungan mencari dana untuk pemakaman, ia terjebak dalam dilema besar: pemerintah dan perusahaan tambang ingin membeli tanah serta rumah mereka untuk akses penambangan. Tawaran ini dapat menyelesaikan biaya adat, namun berarti mengkhianati nenek moyang.

Analisis: Sudut Pandang yang Unik dan Kritik Satir

Faisal Oddang menggunakan teknik penceritaan yang sangat unik. Ia memberikan suara kepada tiga karakter: Rante Ralla (arwah ayah), Allu (anak yang hidup), dan Maria (bayi yang berada di Passiliran atau makam pohon). Melalui simbol khusus seperti tanda bintang dan tanda kurung, kita diajak berpindah dunia secara halus namun emosional.

Lebih dari sekadar narasi budaya, novel ini adalah kritik pedas terhadap fenomena sosial kita. Faisal menyisipkan satir tentang pemerintah yang "tak pernah punya stok kata maaf buat rakyatnya" (hal. 157) hingga skeptisisme terhadap gelar sarjana. Kita melihat bagaimana sengketa tanah adat vs korporasi tambang sering kali memakan korban rakyat kecil yang tak berdaya.

Kelebihan: Tokoh yang Manusiawi

Salah satu kekuatan ulasan ini adalah bagaimana kita, sebagai pembaca, mengalami pergeseran rasa terhadap tokoh utama. Allu Ralla digambarkan sangat manusiawi, dari seorang idealis yang mempertahankan tanah warisan, menjadi sosok egois saat cinta lamanya, Malena, kembali hadir dan menuntut kepastian finansial. Allu adalah potret kita semua saat logika mulai lumpuh dikalahkan oleh tekanan sosial dan hasrat pribadi.

Di sisi lain, tokoh Maria Ralla memberikan nuansa magis yang indah namun perih. Kehadirannya di pohon Passiliran selama 17 tahun menjadi simbol kesucian sekaligus saksi bisu rahasia-rahasia keluarga Ralla yang dipendam rapat oleh sang Ibu (Indo).

Puya ke Puya adalah paket utuh yang menggabungkan kemegahan tradisi dengan getirnya modernitas. Faisal Oddang membuktikan bahwa menulis tentang adat tidak harus membosankan seperti membaca buku kuliah. Novel ini adalah cermin bagi kita: sejauh mana kita bersedia berkorban demi "kehormatan" keluarga, dan apakah surga memang diciptakan hanya agar manusia mau beragama?

Bagi Anda yang menyukai karya dengan lokalitas kental namun sarat akan isu sosial yang "ngajak ribut", novel pemenang Sayembara DKJ ini adalah bacaan wajib. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beri tahu!.

Identitas Buku:

  • Judul: Puya ke Puya
  • Penulis: Faisal Oddang
  • Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
  • Tahun Terbit: Oktober 2015 (Cetak 1), 2016 (Cetak 2)
  • ISBN: 9789799109507 atau 978-602-424-126-1