Sejarah sering kali ditulis oleh pemenang, namun kebenaran yang paling murni terkadang harus digali dari tempat yang paling sunyi: "dalam kubur".
Melalui novel terbarunya, Dari Dalam Kubur, Soe Tjen Marching tidak hanya menyajikan sebuah fiksi, melainkan sebuah upaya untuk memulihkan ingatan kolektif kita tentang tragedi 1965, kerusuhan 1998, dan kekerasan sistemik terhadap tubuh perempuan yang selama ini bungkam.
Sinopsis: Karla dan Luka yang Tak Terucap
Cerita bermula dari sudut pandang Karla, seorang gadis di Surabaya yang tumbuh dalam kebingungan identitas etnis Tionghoa di tengah bayang-bayang rasisme sehari-hari. Namun, konflik utama dalam hidupnya bukanlah sekadar sentimen rasial, melainkan hubungan dingin dengan ibunya, Lydia Maria.
Bagi Karla, Lydia adalah sosok "ibu monster" yang menakutkan dan menyeramkan. Kebencian ini membuat Karla menjaga jarak dari akar identitasnya, bahkan bersikap acuh tak acuh saat kerusuhan Mei 1998 meletus.
Namun, tembok kebencian itu runtuh ketika Karla membaca autobiografi ibunya yang diberikan oleh seorang peneliti feminis. Di sanalah terungkap bahwa Lydia Maria sebenarnya adalah Djing Fei, seorang penyintas tragedi 1965.
Djing Fei mengganti namanya setelah menjadi tahanan politik selama empat tahun—sebuah pengorbanan demi melindungi keluarga. Dari catatan Djing Fei, pembaca diajak melihat sisi manusiawi dari Gerwani, yang selama puluhan tahun telah menjadi korban stigmatisasi dan propaganda hitam yang keji.
Kelebihan
Salah satu poin paling kuat sekaligus memilukan dalam novel ini adalah penggambaran kekerasan berlapis yang dialami perempuan saat konflik. Djing Fei mengalami kekerasan seksual di penjara yang berujung pada kehamilan. Di sini, Soe Tjen dengan tajam memotret bagaimana rahim perempuan dijadikan alat penyiksa dan instrumen kontrol dalam masyarakat patriarkis. Bahkan setelah bebas, Djing Fei tetap terpenjara oleh tuntutan moral masyarakat yang melarangnya menggugurkan kandungan hasil perkosaan tersebut.
Refleksi Djing Fei saat melahirkan sangatlah provokatif: ia mempertanyakan mengapa dunia begitu memuliakan kelahiran sebagai "kodrat" yang suci, sementara mata semua orang seolah buta terhadap robeknya tubuh dan darah perempuan yang berceceran.
Bagian ini membawa ingatan kita pada Diary of a Void karya Emi Yagi; keduanya sama-sama menggugat narasi bahwa perempuan harus selalu bersahabat dengan rasa sakit fisik demi menjadi "ibu yang sempurna".
Soe Tjen Marching sangat piawai dalam membalikkan perspektif pembaca. Sosok Lydia yang tadinya terlihat monster di mata Karla, perlahan bermutasi menjadi Djing Fei yang penuh luka namun tegar. Penulis seolah berbisik bahwa perempuan yang dicap "jahat" sering kali hanyalah korban yang kehilangan suara.
Melalui metode penulisan sejarah yang menggunakan autobiografi dan sudut pandang feminis, novel ini menegaskan bahwa sejarah selalu bersifat subjektif dan harus selalu dikritisi. Penulisan sejarah bukan sekadar urusan angka dan data, melainkan kerja sama empati antara peneliti dan subjek yang diteliti.
Dari Dalam Kubur adalah sebuah perenungan intelektual yang menggugah. Ia memaksa kita untuk menengok kembali luka-luka sejarah yang belum kering dan menyadari bahwa penderitaan perempuan sering kali disembunyikan di balik kata "kodrat". Melalui narasi yang lugas namun penuh tenaga, Soe Tjen Marching berhasil membuktikan bahwa meskipun sebuah kisah coba dikubur dalam-dalam, ia akan selalu menemukan cara untuk bersuara dan menuntut keadilan. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beri tahu!.
Identitas Buku:
- Judul: Dari Dalam Kubur: Sebuah Novel
- Penulis: Soe Tjen Marching
- Penerbit: Marjin Kiri
- Genre: Fiksi Sejarah / Novel
- Tema: Tragedi 1965, Dampak Politik, Trauma Keluarga, Diskriminasi
- Tahun Terbit: Pertama kali terbit sekitar tahun 2020-2021
Baca Juga
-
Kejujuran yang Diadili: Membaca Absurditas dalam 'Orang Asing' karya Albert Camus
-
Tanah Gersang: Kritik Tajam Mochtar Lubis Tentang Moral di Ibukota
-
Review Novel O Eka Kurniawan: Satir Pedas Tentang Monyet Berambisi Jadi Manusia
-
'Katri': Menenun Sisa Hidup dari Puing Tragedi 1965
-
Tanah Tabu: Suara Perlawanan Perempuan dari Jantung Papua
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bandung After Rain: Tentang Cinta, Jati Diri, dan Persahabatan
-
Obat Overthinking: Mengapa Lagu 'Kan Terus Kutulis' dari Banda Neira Wajib Kamu Dengar
-
Review Buku How to Master Your Habits: Panduan Praktis Kehidupan dari Ustaz Felix Siauw
-
Atasi Kecanduan Gadget Anak Lewat Baca Nyaring dalam The Book of Read Aloud
-
Novel 14 Days Isabella: Seni Mencintai Diri di Tengah Keluarga yang Retak
Terkini
-
Relasi Kuasa di Tempat Kerja dan Maraknya Kekerasan Berbasis Gender
-
Resmi Rilis, Trailer The Devil Wears Prada 2 Hadirkan Miranda-Andy-Emily
-
Sinema Inklusi Nusantara: Mendobrak Standar Kerja Kaku Melalui Ruang Kreatif
-
Tips Persiapan Ramadan 2026: 4 Langkah Cerdas Siapkan Stok Makanan Anti Boncos
-
Bukan Flagship! Ini 7 HP Kamera OIS Termurah yang Layak Dibeli 2026