Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis merupakan cerpen legendaris dalam sastra Indonesia yang hingga kini tetap relevan dan menggugah. Karya ini bukan sekadar kritik sosial, melainkan tamparan keras terhadap cara manusia memaknai agama, ibadah, dan tanggung jawab sosial.
Dengan gaya satir yang tajam, Navis menghadirkan pertanyaan mendasar: apakah beribadah saja sudah cukup untuk disebut sebagai manusia beriman?
Cerita ini disampaikan melalui sudut pandang tokoh "Aku" yang menceritakan kisah sebuah surau tua yang roboh, bersamaan dengan runtuhnya semangat hidup sang penjaganya, Kakek. Kakek dikenal sebagai sosok saleh yang mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk beribadah di surau dan menjauh dari urusan dunia.
Puncak cerita hadir melalui kisah yang diceritakan Ajo Sidi tentang Haji Saleh, seorang lelaki yang sepanjang hidupnya hanya beribadah tanpa bekerja atau berbuat apa pun bagi sesama. Dalam dialog imajiner di akhirat, Tuhan mempertanyakan pilihan hidup Haji Saleh. Tuhan menegur keras sikapnya yang membiarkan dirinya miskin, membiarkan keturunannya teraniaya, dan membiarkan kekayaan negeri dikuasai orang lain. Tuhan menegaskan bahwa ibadah tanpa amal dan tanggung jawab sosial adalah kesalahan besar.
Kesadaran pahit itu datang terlambat. Haji Saleh dan orang-orang sepertinya tersadar bahwa jalan yang diridai Tuhan bukan hanya soal sujud dan doa, melainkan juga kerja, usaha, dan kebermanfaatan bagi sesama manusia. Hal ini mungkin menyindir beberapa orang yang dalam kehidupannya sangat fokus kepada ibadah (hal yang sebenarnya sangat baik). Namun, perlu ditekankan bahwa dalam beramal untuk kebaikan yang disarankan agama pun tetap membutuhkan materi. Itulah mengapa manusia diperintahkan untuk bekerja demi mencari rezeki. Dalam Islam pun ditekankan bahwa bekerja termasuk salah satu ibadah.
Alur cerpen ini maju, disampaikan secara bertahap dengan teknik cerita berbingkai. Pembaca dibawa dari kondisi surau yang sepi menuju kisah Kakek, lalu masuk ke cerita alegoris tentang Haji Saleh. Klimaks terjadi pada dialog Tuhan dan Haji Saleh yang sangat kuat secara moral dan emosional. Alurnya ringkas, tetapi efektif dalam membangun pesan hingga akhir cerita yang menyisakan renungan mendalam.
A.A. Navis menggunakan gaya bahasa satir, lugas, dan ironis. Tidak ada kalimat bertele-tele, setiap dialog dan narasi memiliki bobot makna. Sindiran terhadap kemalasan, kemunafikan, dan pemahaman agama yang sempit disampaikan dengan cerdas dan berani. Bahasa yang digunakan terasa sederhana, tetapi justru itulah kekuatannya; mudah dipahami dan langsung menusuk kesadaran pembaca.
Kelebihan utama cerpen ini terletak pada keberanian kritiknya. Navis tidak ragu mengkritik cara beragama yang pasif dan individualistis. Dialog antara Tuhan dan Haji Saleh menjadi salah satu bagian paling ikonik dalam sastra Indonesia karena mampu menggugah sekaligus mengguncang pemahaman iman pembaca. Selain itu, tema yang diangkat bersifat universal dan lintas zaman. Kritik tentang kemalasan, ketergantungan pada ritual semata, dan pengabaian tanggung jawab sosial masih sangat relevan hingga hari ini.
Bagi sebagian pembaca, nada kritik yang sangat tajam bisa terasa “keras” atau mengusik keyakinan personal. Cerita ini juga minim pengembangan karakter secara emosional karena fokus utamanya adalah pesan moral. Pembaca yang menyukai cerita dengan konflik psikologis mendalam mungkin merasa cerpen ini terlalu simbolis.
Robohnya Surau Kami cocok untuk pembaca dewasa, pelajar, mahasiswa, serta siapa pun yang tertarik pada sastra kritik sosial dan keagamaan. Cerpen ini sangat tepat bagi pembaca yang ingin melihat agama dari perspektif reflektif dan kontekstual, bukan sekadar ritual.
Cerpen ini ideal dibaca saat ingin merenung, misalnya pada bulan Ramadan, akhir pekan yang tenang, atau ketika sedang mempertanyakan makna ibadah dan kontribusi diri terhadap masyarakat. Meski singkat, dampaknya panjang dan membekas.
Baca Juga
-
Perjuangan Haia Meraih Mimpi dan Konflik Poligami dalam Novel Laut Tengah
-
Realitas dan Mitos: Menyusuri Narasi Jawa dalam Novel Kereta Semar Lembu
-
Novel Langit Goryeo: Konflik Cinta dan Keimanan Mualaf Korea di Tanah Asing
-
Jejak Sejarah di Pasar Timurid dan Laut Arab dalam Novel Samiam 2
-
Novel Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa, Peta Jawa dan Misteri Samiam
Artikel Terkait
-
Merayakan Hidup Orang Biasa dalam Novel Kios Pasar Sore
-
Merawat Luka Keluarga dalam Novel 7 Our Family Karya Kusdina Ain
-
CERPEN: Sketsa di Halaman 127
-
Ulasan Novel Perfect Partner: Menjadi Pasangan Tak Cukup dengan Cinta
-
Ulasan Buku Nak, Belajar Soal Uang Adalah Bekal Kehidupan: 4 Tahap Bangun Kekayaan
Ulasan
-
Perjuangan Haia Meraih Mimpi dan Konflik Poligami dalam Novel Laut Tengah
-
Novel Kuda: Dendam dan Pengkhianatan yang Menembus Zaman
-
Yang Telah Lama Pergi: Persatuan Perompak di Balik Runtuhnya Sriwijaya
-
Ketika Cinta Terbentur Adat: Belajar Ketulusan dari Kisah Layla Majnun
-
Film Pocong Merah: Debut Horor Hendra Lee yang Kuat dan Menyeramkan!