Di saat kita mengalami kesulitan finansial, secara alami kita akan terfokus pada hal-hal teknikal seperti berusaha mencari uang lebih banyak, berusaha menabung dengan ketat, atau berusaha menghemat semaksimal mungkin.
Cara-cara tersebut tidak sepenuhnya salah, hanya saja tindakan yang dilakukan terburu-buru dan disertai kecemasan serta rasa takut hanya akan membuat tubuh kita menyerap energi-energi negatif yang dihasilkan oleh pikiran kita sendiri, yang tanpa sadar akan terpancar keluar dan menarik energi dari luar yang sama negatifnya. Sebab manusia adalah makhluk hidup dengan jiwa yang berisi beragam emosi di dalamnya.
Sayangnya, selama ini kita dibesarkan di lingkungan yang meyakini bahwa kita akan merasa tenang jika rejeki dan urusan kita lancar. Padahal yang terjadi justru sebaliknya, ketenanganlah yang akan membawa kita pada kelancaran rejeki dan berbagai urusan lainnya.
Dalam buku The Having yang terbit pada 2021 ini, Suh Yoon Lee dan Jooyun Hong membagikan cara untuk mendapatkan ketenangan dan merasa kaya bahkan di saat seseorang hanya memiliki satu dolar sekalipun, sehingga mampu meraih kekayaan yang sesungguhnya. Mereka menyebutnya sebagai teknik memiliki. Berikut garis besar mengenai teknik memiliki yang sudah membantu banyak orang menggali potensi mereka untuk menjadi kaya.
Bersyukur
Kata "bersyukur" memang terdengar sangat klise, namun jika kita mau sedikit lebih rendah hati dalam memaknai kata ini, maka akan lebih mudah untuk kita pahami maknanya dengan baik.
Kita hidup di zaman di mana informasi begitu mudah didapat. Kita hanya perlu membuka gawai pintar dan mengakses media sosial kemudian terhubung dengan dunia luar. Tentu hal tersebut memudahkan kita dalam banyak hal. Namun tanpa disadari, jika kita tidak bijak dalam menyikapi kemudahan ini, maka kita akan terjebak. Kita akan dengan mudah membandingkan apa yang kita miliki dengan milik orang lain yang ditampilkan di media sosial, yang belakangan ini sering kita sebut dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out), yakni perasaan cemas dan takut tertinggal suatu tren atau momen tertentu.
Tentu bukan berarti kita dilarang untuk berambisi memiliki sesuatu seperti yang kita lihat di media sosial. Hanya saja, jika itu terlalu sering terjadi dan dibiarkan, tanpa sadar akan menyalakan sinyal "tidak cukup" di dalam otak sehingga tubuh menyerap informasi tersebut dan memunculkan reaksi berupa kecemasan, ketakutan, dan emosi negatif lainnya. Dengan emosi-emosi negatif tersebut, tentu sulit bagi alam bawah sadar manusia untuk fokus pada hal-hal baik.
Di sinilah peran bersyukur bekerja. Mensyukuri hal-hal yang sudah kita miliki membuat sinyal "cukup" di otak tetap aktif, sehingga energi positif yang terpancar dari tubuh kita akan mengikat energi positif dari luar kemudian membawa pengaruh baik pada rejeki dan urusan-urusan kita.
"Merasakan apa yang Anda miliki sekarang. Persis seperti makna kata itu sendiri." -hal 23.
Mindfulness
"Hidup untuk hari ini, itulah langkah awal untuk Memiliki." -hal 72.
Kita berlomba-lomba bekerja keras demi mempersiapkan masa depan yang gemilang. Tentu tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Namun tanpa sadar, kita terlalu sering menyia-nyiakan momen dalam kecemasan dan kekhawatiran tentang hal-hal yang belum terjadi.
Kita terlalu fokus pada "rasa takut gagal", sehingga kita mempersiapkan masa depan dengan dipenuhi ketakutan lalu memperlakukan diri sendiri seperti robot dan melupakan kenikmatan-kenikmatan yang ada hari ini.
Berbagi
Di dalam teknik memiliki, berbagi bukan hanya sekadar kebaikan atau bentuk peduli pada sesama, melainkan sebuah cara agar otak dan alam bawah sadar merekam bahwa kita selalu memiliki "lebih banyak" daripada apa yang kita butuhkan sehingga bisa memberi orang lain. Rasa itu lah yang kemudian akan meningkatkan energi positif dalam tubuh, lalu menarik berbagai hal positif juga dari luar.
Sinyal Tubuh
Setiap manusia dianugerahi naluri oleh Tuhan sebagai bentuk sinyal alami dari dalam tubuh. Anugerah tersebut sangat penting perannya dalam praktik teknik memiliki. Sebab di saat mengalami kesulitan finansial, seseorang cenderung menghemat semaksimal mungkin dan terkadang sampai melupakan kesehatan dan keselamatan karena selalu merasa boros setiap kali harus bertransaksi. Di sinilah peran penting naluri bekerja. Jika kita rutin mengasah kepekaan naluri, kita bisa dengan mudah membedakan mana pengeluaran yang aman dan mana yang bersifat boros, sehingga kita terhindar dari tindakan menghemat berlebihan yang justru membahayakan diri sendiri.
Itulah beberapa cara dari teknik memiliki yang hendak diajarkan oleh penulis pada pembaca, yang tentunya sudah mereka terapkan terlebih dahulu dalam kehidupan mereka sendiri. Selamat mencoba!
Judul: The Having: Seni Merasa dan Menjadi Kaya
Penulis: Suh Yoon Lee dan Jooyun Hong
Penerbit: TransMedia Pustaka (2021)
ISBN: 9786237100584
Tebal: 356 - 376 halaman
Bahasa: Indonesia (Alih bahasa: Stephanie Mamonto)
Genre: Pengembangan Diri, Motivasi, Spiritual
Baca Juga
-
Mengenal Displacement, Fenomena Psikologis dalam Novel The Liar Between Us
-
Ulasan Buku Orang Indonesia Tionghoa Mencari Identitas
-
Ulasan Buku Learning How to Learn: Kuasai Hal Baru Tanpa Buang Waktu
-
Ulasan Buku The Whole Brain Child: Strategi Kembangkan Kecerdasan Otak Anak
-
Ulasan Novel 172 Days: Aku Ikhlas, tapi Aku Rindu
Artikel Terkait
Ulasan
-
Menyelami Buku Empat Arketipe: Warisan Psikis Manusia Menurut Carl Gustav Jung
-
Review Film Warrior (2011): Drama Keluarga Mengharukan di Balik Ring MMA
-
Membaca Rumah Pohon Kesemek: Menemukan Bahagia di Tengah Kehilangan
-
Lebih dari Sekadar Bangunan: Makna Sesungguhnya "Rumah" dalam Novel J.S. Khairen
-
Mengulas The Psychology of Money: Pelajaran yang Jarang Diajarkan di Sekolah