Saat minat baca menurun drastis atau yang biasa dikenal dengan istilah reading slump, keputusan terbaik adalah beralih ke bacaan yang ringan dan tipis. Itulah yang saya lakukan baru-baru ini.
Di tengah tumpukan buku, pandangan saya tertuju pada sebuah sampul kuning cerah dengan ilustrasi yang menggemaskan. Buku tersebut adalah Rumah Pohon Kesemek karya Sakae Tsuboi, sebuah pilihan yang ternyata sangat manjur untuk menyegarkan kembali semangat membaca saya.
Sinopsis
Novel ini memotret keseharian kakak beradik bernama Fumie dan Yoichi yang tinggal di sebuah rumah dengan pohon kesemek ikonik di halamannya.
Pohon tersebut adalah peninggalan sang kakek yang dirawat dengan penuh kasih sayang hingga mampu menghasilkan buah yang besar dan lezat.
Namun, cerita ini tidak melulu tentang kebahagiaan. Terselip sebuah tragedi kecil yang menyentuh saat kakek melakukan kesalahan teknis dengan menumpuk batu sisa pembuatan sumur di sekitar pohon, yang mengakibatkan pohon tersebut gagal berbuah.
Usaha keras kakek untuk memperbaiki kesalahannya justru berujung pada kejatuhan yang membuatnya sakit hingga akhirnya berpulang. Bagian ini terasa begitu emosional karena pembaca diajak merasakan kesedihan Fumie dan Yoichi saat harus kehilangan sosok pelindung mereka.
Kepolosan Masa Kecil dan Kehangatan Keluarga
Seiring berjalannya waktu, kesedihan itu perlahan terobati dengan kehadiran adik kembar, Hideo dan Shinnosuke. Salah satu bagian paling jenaka dan menghangatkan hati adalah interaksi mereka dengan Paman Santaro.
Sang paman, yang belum dikaruniai anak, sering kali menggoda Yoichi dengan meminta salah satu dari adik kembarnya. Reaksi Yoichi yang tegas menolak usulan tersebut menunjukkan betapa kuatnya ikatan persaudaraan yang dibangun oleh Tsuboi dalam narasi yang sederhana ini.
"Yoichi, kau tidak mau memberiku Shinnosuke? Kalau begitu Hideo juga boleh."
"Tidak mau. Dua-duanya tidak boleh!"
Kepolosan dialog seperti ini berhasil membawa pembaca bernostalgia ke masa kecil yang penuh harmoni. Ditambah lagi, buku ini dilengkapi dengan ilustrasi khas anak-anak yang gaya gambarnya mengingatkan saya pada buku pelajaran era 90-an.
Hal ini memberikan kenyamanan ekstra dan membuat saya seolah sedang melihat gambar-gambar tersebut bergerak dalam bayangan saya.
Penawar Jenuh yang Sempurna
Karena fisiknya yang tipis, Rumah Pohon Kesemek bisa diselesaikan dalam sekali duduk. Ceritanya yang ringan namun sarat makna menjadikannya penawar yang sempurna setelah kita berkutat dengan bahan bacaan yang berat. Buku ini berhasil menyegarkan pikiran sekaligus menjaga momentum minat baca agar tidak padam.
Saya sangat merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang mulai merasa malas membaca, apa pun penyebabnya. Rumah Pohon Kesemek bukan sekadar cerita anak, melainkan pengingat tentang keindahan dalam kesederhanaan hidup. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beri tahu!
Identitas Buku:
- Judul: Rumah Pohon Kesemek
- Penulis: Tsuboi Sakae
- Penerjemah: Asri Pratiwi Wulandari
- Ilustrasi sampul dan isi: Puty Puar
- Penerbit: Mai
- Terbit: November 2022, cetakan pertama
- Tebal: 64 hlm.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Jeritan dari Balik Kabut: Menagih Kehadiran Nurani saat Tanah Air Terbakar
-
Proposal Cinta di Bawah Proyek Mangkrak dan Halusinasi Negara
-
Jari ke Janji, saat Pena Menjadi Pedang dan Kata Kehilangan Makna
-
Teori Konspirasi di Warkop: Antara Hutan Terbakar dan BBM yang Langka
-
Di Bawah Lampu Loteng: KKN, Kenangan, dan Perpisahan
Artikel Terkait
-
Seni Mengelola Rasa Kecewa di Buku Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya?
-
Mengungkap Misteri Pulau Kirrin Bersama Lima Sekawan: Mengapa Mereka Minggat?
-
Membaca Pergerakan 1998 Lewat Novel Notasi: Saat Idealisme Diuji Waktu
-
Seni Regulasi Emosi Ala Zengo di Buku Jangan Cemas Karya Shunmyo Masuno
-
Novel Bumi Manusia: Luka Kolonialisme dalam Roman Klasik Pramoedya
Ulasan
-
Mengambil Pelajaran tentang Bahaya Perang Opini di Novel Bungkam Suara
-
Novel Tanah Para Bandit: Ketika Penegak Hukum Justru Terlibat Kejahatan
-
Langkah Awal Memahami Pasar Modal: Belajar Investasi Bersama New BIONS
-
Webtoon Ayah, Aku Tidak Mau Menikah: Ketika Salah Paham Jadi Komedi Terbaik
-
Estetika Kehancuran dan Perenungan di Serial Love, Death & Robots Volume 4
Terkini
-
Sinopsis The Palace Stewardess, Dracin Ding Yu Xi dan Song Zu Er di WeTV
-
Lama Tertunda, tvN Ungkap Jadwal Resmi Penayangan Sekuel The Second Signal
-
Film Sal Saeng Bu Rilis 2027, Ini Daftar Pemain Utama yang Penuh Bintang!
-
Wangi Bersih, Sopan, dan Elegan! 5 Pilihan Parfum yang Cocok untuk Ibu Guru
-
Birokrasi di Zona Nyaman: Mengapa Program Tak Efisien Terus Dipertahankan?