Sastra Indonesia sering kali menjadi ruang bagi suara-suara yang dibungkam oleh sejarah resmi, dan novel "Paya Nie" karya Ida Fitri adalah salah satu suara paling lantang sekaligus memilukan yang muncul belakangan ini. Novel yang meraih Juara III Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023 ini bukan sekadar fiksi, ia adalah sebuah saksi bisu atas luka kolektif masyarakat Aceh, khususnya kaum perempuan, di tengah kecamuk konflik bersenjata antara TNI dan GAM.
Paya Nie adalah sebuah rawa gambut di Bireuen, Aceh. Dalam novel ini, rawa tersebut bukan hanya latar tempat, melainkan saksi bisu yang menyimpan memori kekerasan. Cerita berfokus pada empat perempuan, Ubiet, Mawa Aisyah, Cuda Aminah, dan Kak Limah yang sedang mencari binyeut (purun danau) untuk dianyam menjadi tikar. Di sela-sela aktivitas harian yang tampak biasa ini, Ida Fitri merajut narasi yang mencekam tentang bagaimana sebuah wilayah berubah menjadi zona perang yang tidak mengenal belas kasih.
Rawa yang seharusnya menjadi sumber kehidupan bagi mereka, berubah menjadi tempat persembunyian yang penuh kecurigaan. Melalui percakapan para tokohnya, pembaca diajak menyelami ketakutan yang mengakar, ketakutan akan peluru nyasar, ketakutan akan dituduh sebagai mata-mata, dan ketakutan akan hilangnya orang-orang tercinta tanpa jejak.
Salah satu kekuatan utama novel ini adalah keberaniannya mengangkat isu patriarki di tengah militerisme. Ida Fitri dengan tajam menunjukkan bahwa bagi perempuan Aceh di masa konflik, ancaman tidak hanya datang dari moncong senjata di medan perang, tetapi juga dari dalam rumah mereka sendiri.
Tokoh-tokoh perempuan dalam Paya Nie mengalami beban berlapis. Mereka harus menjadi tulang punggung ekonomi ketika para lelaki bersembunyi atau tewas, namun di sisi lain, mereka tetap terjebak dalam budaya patriarki yang menindas. Kita melihat potret kekerasan domestik yang dilakukan oleh tokoh seperti Mail, yang dengan ringannya melakukan pelecehan dan KDRT terhadap istrinya, Khadijah. Di sini, Ida seolah ingin mengatakan bahwa perang tidak hanya terjadi di hutan atau rawa, tetapi juga di tubuh-tubuh perempuan yang diklaim dan dikuasai oleh kekuasaan laki-laki.
Secara naratif, Paya Nie menggunakan teknik kilas balik (flashback) yang efektif untuk menghubungkan masa lalu yang indah dengan masa kini yang hancur. Ida Fitri tidak mengeksploitasi kekerasan demi sensasi, melainkan menggunakannya untuk menunjukkan bagaimana kemanusiaan perlahan terkikis.
Simbolisme dalam novel ini sangat kuat. Penggunaan diksi-diksi lokal Aceh tidak hanya memberikan warna lokal yang kental, tetapi juga membawa pembaca masuk ke dalam psikologi masyarakat yang terbiasa hidup dalam "bahasa sandi" dan kehati-hatian. Kematian Cuda Aminah akibat peluru nyasar menjadi titik balik yang menyakitkan, mengingatkan kita bahwa dalam konflik, warga sipil sering kali hanyalah "statistik" bagi pemegang kuasa, namun merupakan "seluruh dunia" bagi keluarga yang ditinggalkan.
Sebagai seorang cerpenis yang kini merambah dunia novel, Ida Fitri mempertahankan gaya bahasa yang puitis namun tetap lugas. Ia berani membicarakan hal-hal yang selama ini dianggap tabu atau terlalu sensitif, seperti pelecehan seksual oleh aparat atau penggunaan tubuh perempuan sebagai alat untuk menunjukkan dominasi kekuasaan.
Meskipun novel ini cukup tipis sekitar 196 halaman, namun kepadatan emosinya luar biasa. Penulis berhasil menangkap suasana "masyarakat KTP Merah Putih", sebuah simbol nasionalisme yang dipaksakan dan penuh pengawasan. Melalui tokoh Ubiet, yang harus berjuang merawat ayahnya yang hampir buta di tengah kepungan militer, kita melihat potret ketangguhan yang luar biasa sekaligus keputusasaan yang sunyi.
"Paya Nie" adalah sebuah elegi. Ia adalah upaya untuk menuliskan kembali sejarah Aceh dari sudut pandang mereka yang tidak pernah duduk di meja perundingan damai para ibu, istri, dan anak perempuan yang mencuci darah dari pakaian mereka dan tetap menganyam tikar meski hari esok tidak pernah pasti.
Novel ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang ingin memahami kompleksitas konflik Aceh melampaui berita politik di koran. Ia adalah pengingat bahwa perdamaian yang kita nikmati hari ini dibangun di atas tumpukan trauma yang mungkin belum sepenuhnya sembuh. "Paya Nie" menuntut kita untuk tidak hanya bersimpati, tetapi juga mengakui bahwa luka-luka itu nyata dan masih berdenyut di balik rimbunnya tanaman purun di rawa-rawa Aceh.
Identitas Buku
Judul: Paya Nie
Penulis: Ida Fitri
Penerbit: Marjin Kiri
Tanggal Terbit: 1 Juli 2024
Tebal: 196 Halaman
Baca Juga
-
Novel The Lost Apothecary, Misteri Toko Obat Tersembunyi di London
-
Novel Saman: Pendobrakan Tabu Sosial di Tengah Politik Indonesia
-
Membedah Sisi Gelap Keadilan Manusia di Ulasan Novel The Hellbound
-
Novel Pukul Setengah Lima, Mencari Pintu Keluar dari Realitas Kehidupan
-
Ulasan Buku Empowered Me, Menjadi Ibu Berdaya Tanpa Kehilangan Identitas
Artikel Terkait
-
Lee Chae Min Digaet Bintangi Adaptasi Drama Korea dari Novel Jepang Populer
-
Monster Kepala Seribu: Saat Birokasi Asuransi Menghancurkan Kemanusiaan
-
Self-Love Terbaik Perempuan Modern, Prioritaskan Diri Tanpa Rasa Bersalah
-
Circo de Patrimonio: Ketika Luka Menjadi Pertunjukan yang Indah
-
Mau Belikan Sepeda untuk Anak Perempuan? Ini Tips Memilih dan 5 Pilihan yang Layak Dicoba
Ulasan
-
Buku Mengenal Diri Sendiri: Menemukan Jalan Pulang dalam Karya Eka Silvana
-
Novel The Old Man and the Sea: Memaknai Perjuangan Hidup sang Nelayan Tua
-
Menjaga yang Sudah Ada di Buku Bahagia Itu Sederhana
-
Buku Lost Connections: Depresi Tak Sekadar Masalah Otak, tetapi Cara Hidup
-
Circo de Patrimonio: Ketika Luka Menjadi Pertunjukan yang Indah
Terkini
-
Jadi Anggota Tetap, Young K DAY6 Resmi Gabung Variety Show Amazing Saturday
-
Belum Move On dari Drama Korea Love Me? Ini 4 Drakor Terbaik Seo Hyun Jin
-
Di Balik Tekanan Menikah: Ada Kecemasan Ekonomi Orang Tua
-
Ramalan Zodiak Terasa Selalu Relate? Bisa Jadi Ini Tanda Barnum Effect
-
Misteri Gema dari Peti Mati