Human Resource adalah film drama Thailand terbaru garapan sutradara Nawapol Thamrongrattanarit, dikenal lewat karya-karya seperti Fast and Feel Love dan Happy Old Year.
Film ini tayang perdana dunia di Orizzonti section 82nd Venice International Film Festival pada 3 September 2025, kemudian muncul di festival lain termasuk Jakarta World Cinema 2025.
Di bioskop Indonesia, film ini akhirnya tayang reguler terbatas mulai 6 Februari 2026 di beberapa jaringan seperti CGV dan Cinépolis dan di kota-kota besar, sebagai bagian dari KlikFilm Showcase.
Sinopsis: Pilihan Antara Karier dan Kehamilan
Cerita berpusat pada Fren (diperankan apik oleh Prapamonton Eiamchan), seorang staf HR di perusahaan besar yang penuh tekanan.
Fren sedang hamil satu bulan secara diam-diam sambil mewawancarai kandidat karyawan baru yang masih muda. Kehamilannya menjadi konflik internal utama: memilih melanjutkan kehamilan di tengah lingkungan kerja yang keras, ekspektasi sosial, dan ketidakpastian masa depan.
Perusahaan digambarkan sebagai tempat yang dingin dan mekanis, di mana karyawan diperlakukan lebih sebagai "resource" daripada manusia.
Fren mengamati kehidupan para pelamar melalui wawancara, yang secara paralel mencerminkan dilemanya sendiri tentang keluarga, karier, dan definisi kebahagiaan modern.
Nawapol menyajikan narasi dengan gaya minimalis khasnya: lambat, sunyi, tapi penuh hantaman emosional. Sinematografi menggunakan aspect ratio 1.37:1 yang sempit, menciptakan rasa terkurung dan intim.
Dialog minim, digantikan ekspresi wajah, gestur halus, dan keheningan yang berbicara banyak. Suasana dingin dan terstilisasi membuatku merasakan ketegangan psikologis Fren tanpa perlu teriakan atau drama berlebih.
Prapamonton Eiamchan tampil luar biasa sebagai Fren—enigmatik, rapuh tapi kuat, membuat karakternya terasa nyata dan relatable bagi perempuan karier di era sekarang.
Review Film Human Resource
Tema utama film ini sangat relevan, bagaimana masyarakat modern terutama di Asia memandang kehamilan dan anak sebagai beban bagi perempuan pekerja, bukan hak personal. Punya anak bukan lagi pilihan bebas, melainkan keputusan yang dipengaruhi norma perusahaan, ekonomi, dan pandangan sosial.
Film ini mengkritik kapitalisme yang menjadikan manusia sebagai aset, serta norma patriarkal yang masih kuat meski tersembunyi di balik profesionalisme. Ada juga sentuhan tentang perubahan definisi keluarga di dunia yang semakin individualis.
Kelebihan film ini terletak pada pendekatan subtil dan atmosfer yang kuat. Penonton diajak merenung tanpa dipaksa. Akting pendukung seperti Paopetch Charoensook dan Pimmada Chaisaksoen juga solid, mendukung nuansa realis. Durasi 122 menit terasa pas karena pacing lambat justru memperkuat rasa sesak yang ingin disampaikan.
Kekurangannya mungkin bagi penonton yang suka plot cepat atau twist besar—film ini lebih ke drama karakter daripada entertainment ringan. Beberapa momen terasa terlalu dingin atau bertele-tele jika tidak sabar. Akan tetapi, justru itulah kekuatannya: sunyi tapi menghantam.
Intinya, Human Resource adalah karya matang yang menggugah pikiran tentang work-life balance, hak reproduksi, dan kemanusiaan di era korporat. Rating IMDb sekitar 6.9 menunjukkan apresiasi positif.
Bagi penggemar slow cinema atau isu sosial kontemporer, ini wajib tonton sih. Rekomendasi tinggi untuk ditonton di bioskop agar nuansa sunyinya lebih terasa.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Review Film Minions & Monsters: Mendobrak Batasan Komedi Lewat Mantra Kuno
-
Avatar: The Last Airbender Season 2, Misi Menemukan Guru Pengendali Bumi
-
Review Hungry: Potret Bahaya Alam Liar melalui Serangan Predator Mematikan!
-
Review Husbands in Action: Detektif dan Dokter Hewan Lawan Sindikat Jahat!
-
Review Film How to Make a Killing: Ambisi Mematikan Pewaris yang Kaya Raya
Artikel Terkait
-
Anime Cosmic Princess Kaguya! Dapat Penayangan Terbatas di Bioskop Jepang
-
Sinopsis The Shawshank Redemption, Film IMDB Rating Tertinggi Sepanjang Masa
-
Film Mardaani 3: Pesan Keras Melawan Eksploitasi Anak yang Keji!
-
Sinopsis Film This is Not a Test: Kiamat Zombie dan Survival di Tahun 2026
-
Chun Woo Hee dan Lee Junho Berpeluang Bertemu di Film Veteran 3
Ulasan
-
About 7 Memories: Sebuah Potret Persaudaraan Toksik yang Menghancurkan Jiwa
-
Bisakah Komedi Menggantikan Buku Sejarah? Ini Pendapat Saya Setelah Menonton Serial Larry David
-
Review Film Minions & Monsters: Mendobrak Batasan Komedi Lewat Mantra Kuno
-
Cantik tapi Kelam: Merasakan Perihnya Luka Sejarah Lewat Kebaya Merah di Tebing Kanal
-
Single Mom Melawan Stigma Janda Lemah: Bagaimana Irene Mengubah Luka Menjadi Kekuatan?
Terkini
-
Budget Cuma Rp30 Ribuan? Ini 4 Sunscreen Cica Murah untuk Kulit Berjerawat
-
Harry Kane CS Harus Waspada, RD Kongo Punya Ambisi Lolos Babak 16 Besar
-
Membongkar Borok Kerja Kelompok yang Cuma Bikin Jinak Si Pemalas
-
Pertemanan di Era Media Sosial: Dekat Secara Online, Jauh di Dunia Nyata
-
Takluk dari Meksiko, Ekuador Gagal Ulang Sejarah Indah 20 Tahun Silam