Film Indonesia Jangan Seperti Bapak yang dirilis pada 12 Februari 2026 langsung menyita perhatian penikmat sinema Tanah Air. Disutradarai oleh Daniel Tito Pakpahan—sutradara yang sebelumnya sukses dengan Gereja Setan—film ini hadir sebagai perpaduan sempurna antara drama keluarga yang emosional dan aksi gangster yang brutal.
Dengan durasi 100 menit, film bergenre drama-aksi ini diproduksi oleh Jayashree Movie Production bekerja sama dengan Amazing Grace Production. Tayang serentak di bioskop-bioskop Indonesia seperti Cinema XXI, CGV, Cinépolis, dan jaringan lainnya, Jangan Seperti Bapak menjadi pilihan tepat bagi yang mencari hiburan akhir pekan yang tidak hanya menghibur, tapi juga menyentuh hati. Film ini masih ramai diputar di berbagai lokasi, termasuk Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Rahasia Kelam Masa Lalu yang Terungkap
Sinopsis film berpusat pada Angel (Zee Asadel), seorang gadis berusia 20 tahun yang hidupnya berubah drastis pada hari ulang tahunnya. Ayahnya, Pablo (Verdi Solaiman), seorang pemimpin geng Red Dragon yang karismatik, ditemukan tewas secara sadis dan misterius.
Kehilangan ini memaksa Angel melangkah ke dunia gelap yang selama ini ia hindari. Dibantu oleh paman dan tante dari Red Dragon—Vincent (Zack Lee), Sisca (Aulia Sarah), Chandra (Irwan Chandra), dan Hans (Hendric Shinigami)—Angel memulai perburuan dalang pembunuhan.
Akan tetapi, perjalanan balas dendam ini membawanya ke perseteruan sengit dengan geng rival, South Wild, yang dipimpin oleh Bara (Donny Damara) dan orang kepercayaannya seperti Martin (Marsyel Ririhena) serta Boy (Damara Finch), mantan kekasih Angel.
Rahasia masa lalu yang kelam pun perlahan terungkap, mengguncang fondasi keluarga dan identitas Angel sendiri. Judul Jangan Seperti Bapak bukan sekadar peringatan, melainkan cerminan perjuangan Angel untuk memutus rantai kekerasan yang diwarisi ayahnya.
Secara naratif, Jangan Seperti Bapak unggul dalam membangun ketegangan emosional. Cerita tidak hanya soal aksi balas dendam ala film gangster Hollywood, tapi lebih dalam mengeksplorasi dinamika ayah-anak.
Pablo digambarkan sebagai figur protektif yang berlebihan—mengawasi Angel seperti tahanan emas, yang membuat putrinya merasa terkungkung. Tema ini sangat relatable bagi banyak penonton Indonesia, di mana budaya patriarki sering kali membungkus cinta dengan kontrol.
Sutradara Daniel Tito berhasil menyisipkan pesan moral yang kuat: seorang ayah mungkin mencintai anaknya dengan cara yang salah, tapi cinta itu tetap abadi. Plot twist di akhir film memberikan kejutan yang memuaskan, meski beberapa pengungkapan rahasia terasa sedikit dipaksakan. Akan tetapi, keseimbangan antara drama pribadi dan aksi kelompok gangster membuat film ini tidak monoton, cocok untuk kamu yang suka film seperti The Godfather versi lokal yang lebih ringkas.
Ulasan Film Jangan Seperti Bapak
Performa akting menjadi salah satu pilar kekuatan film ini. Zee Asadel, yang dikenal sebagai aktris dan penyanyi, melakukan debut gemilang di genre aksi. Sebagai Angel, ia tidak hanya menyampaikan emosi rapuh seorang gadis yang kehilangan, tapi juga tampil meyakinkan dalam adegan fighting. Persiapan Zee selama sebulan latihan Mixed Martial Arts (MMA) dan Brazilian Jiu-Jitsu bersama Max Metino (yang juga berperan sebagai Mike) terlihat jelas. Tubuhnya yang ramping berubah menjadi mesin tempur yang lincah, dengan gerakan koreografi yang presisi.
Verdi Solaiman sebagai Pablo memberikan penampilan ikonik—karakter ayah yang tangguh namun rapuh di balik topeng gangster. Donny Damara sebagai Bara musuh bebuyutan juga solid, membawa aura intimidasi yang meyakinkan.
Pendukung seperti Zack Lee dan Aulia Sarah menambah warna, meski dialog beberapa karakter terasa kaku, terutama di adegan emosional awal. Cameo dari Mongol Stres dan Millen Cyrus singkat tapi menghibur, sayangnya kurang dimanfaatkan secara maksimal.
Elemen aksi menjadi daya tarik utama. Adegan perkelahian tangan kosong dan baku hantam di lorong gelap atau gudang terbengkalai disutradarai dengan baik, mengingatkan pada film aksi Indonesia seperti The Raid.
Sinematografi oleh tim produksi menangkap kekerasan secara realistis tanpa berlebihan, dengan pencahayaan gelap yang memperkuat nuansa noir. Soundtrack yang intens, dipadukan dengan musik latar yang tegang, semakin membangun atmosfer. Tetapi , ada catatan kecil nih, beberapa transisi adegan aksi ke drama terasa agak mendadak, membuat ritme film sedikit goyah di pertengahan.
Meski demikian, Jangan Seperti Bapak bukan film sempurna. Dialog yang kadang terlalu klise dan pengembangan karakter pendukung yang kurang dalam menjadi kelemahan. Beberapa plot point tentang intrik geng terasa predictable bagi penggemar genre ini. Tapi, kekurangan itu tertutupi oleh pesan universal tentang warisan keluarga dan pilihan hidup. Film ini mengajakku dan penonton yang lain merenung: apakah kita harus mengulang kesalahan orang tua, atau belajar darinya?
Intinya, Jangan Seperti Bapak adalah film yang layak ditonton di bioskop. Rating pribadiku 7.8/10, karena ia berhasil menyatukan hiburan massal dengan kedalaman emosional.
Bagi penggemar Zee Asadel, ini adalah bukti talenta aktingnya yang serba bisa. Bagi yang mencari cerita keluarga di tengah kekerasan, film ini memberikan pelajaran berharga. Jangan lewatkan kesempatan menonton di bioskop terdekat, sebelum masa tayangnya berakhir. Jangan Seperti Bapak bukan hanya film, tapi pengingat bahwa cinta ayah bisa menjadi pedang bermata dua.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Belajar Rela saat Takdir Tak Selalu Memihak di Novel L Karya Kristy Nelwan
-
Sultan Fattah: Perjalanan Hidup Raja Islam Pertama di Tanah Jawa
-
Film Rumah Tanpa Cahaya: Drama Keluarga yang Sederhana dan Menyayat Hati
-
Mengenang Penyintas PD II dan Tenggelamnya Gustloff dalam Salt to The Sea
-
Novel Melukis Langit Dermaga: Pemulihan Diri di Kota Pelabuhan Kecil Jerman
Terkini
-
9 Drama China tentang Dunia Kerja yang Seru dan Edukatif
-
Long Weekend ke Sukabumi? 5 Spot Seru Dekat Stasiun yang Bisa Kamu Kunjungi
-
Gen Z Disebut Kalah Cerdas dari Milenial, Efek EdTech di Dunia Pendidikan?
-
Menulis dengan Tanggung Jawab demi Tingkatkan Literasi Digital Masyarakat
-
Jadi Ibu Tunggal, Asri Welas Tak Batasi Komunikasi Anak dan Mantan Suami