Novel bergenre metropop dan chicklit kerap kali mengulang formula serupa. Perempuan urban sukses, romansa instan, konflik karier, dan cinta yang “rapi”. Novel ini mungkin terasa familiar namun menawarkan pendekatan berbeda. Judulnya pun unik, hanya satu huruf yaitu L karya Kristy Nelwan.
Satu judul ini menggelitik siapapun yang melihat covernya. Apa maksud dari judul yang hanya satu huruf ini? L for Last Love?
Sinopsis Novel
Tokoh utamanya, Ava Torino, adalah seorang produser televisi di Bandung: mandiri, keras kepala, perokok berat, cerdas, dan sukses secara karier. Namun di balik citra perempuan modern metropolitan itu, Ava menyimpan obsesi yang terdengar absurd sekaligus unik.
Ia ingin memiliki 26 pacar, masing-masing dengan inisial nama yang mewakili huruf alfabet A sampai Z. Sebuah proyek personal yang nyaris seperti permainan, sekaligus simbol kontrol atas hidup dan relasi.
Ambisi ini hampir tercapai. Ava telah mengoleksi 23 nama berbeda, termasuk inisial yang dianggap “langka” seperti Q dan X. Tinggal tiga huruf tersisa: J, O, dan L. Dua di antaranya berhasil ia dapatkan. Namun justru huruf L yang secara logika seharusnya paling mudah ditemukan, menjadi yang paling sulit.
Di titik inilah obsesinya berubah makna. Ava bahkan menyebut bahwa siapa pun laki-laki dengan inisial L itu kelak akan menjadi “The Last Love”-nya.
Dari premis ini, Kristy Nelwan membangun kisah yang tampak ringan, playful, dan romantis, tetapi perlahan berkembang menjadi narasi yang lebih reflektif tentang cinta, kehilangan, kesetiaan, dan keterbatasan manusia dalam mengontrol hidupnya sendiri.
Secara tematik, L berbicara tentang ilusi kendali. Ava adalah simbol manusia modern yang percaya bahwa hidup dapat direncanakan, cinta bisa dipetakan, dan perasaan dapat dikelola seperti daftar target. Namun semesta bekerja dengan logikanya sendiri.
Di sinilah novel ini menjadi reflektif: bahwa kecerdasan, kecantikan, kesuksesan, dan strategi hidup tidak selalu membuat seseorang bisa memiliki segalanya.
Kelebihan dan Kekurangan
Keunggulan utama novel ini terletak pada kemulusan alur dan gaya bertutur. Cerita mengalir tanpa hambatan, tidak terasa berlebihan meski memuat banyak elemen. Petualangan asmara, dinamika persahabatan, dunia kerja media, hingga tragedi cinta. Semua diracik dengan komposisi yang “pas”.
Romansa dalam L tidak dibangun lewat dramatisasi berlebihan atau klise dialog cinta yang bombastis. Pembaca diajak mengikuti perjalanan relasi para tokohnya secara natural, hingga akhirnya sampai sendiri pada kesimpulan bahwa cinta itu tumbuh. Karena pendekatan ini, kisahnya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tidak mengada-ada.
Namun, novel ini juga tidak bebas dari kontroversi pembacaan. Kristy Nelwan memasukkan unsur religius dan pluralisme yang bagi sebagian pembaca terasa sensitif.
Penyandingan dua keyakinan dalam narasi menjadi titik kritis yang memicu perdebatan, bahkan mengganggu pengalaman membaca bagi pembaca tertentu. Bagi sebagian orang, elemen ini memperkaya kompleksitas cerita; bagi yang lain, justru dianggap merusak harmoni narasi yang sebelumnya nyaris “sempurna”.
Dari sisi emosional, L bukan metropop yang ringan. Ending yang tragis, kehilangan yang tidak terelakkan, serta pesan tentang keterbatasan manusia membuat novel ini justru terasa “terlalu berat” untuk ukuran metropop. Tetapi di situlah kekuatannya: ia tidak hanya menawarkan hiburan, melainkan juga perenungan.
Ava Torino sendiri tampil sebagai karakter yang kompleks. Tampak seperti “player” dari luar, tetapi memiliki kesetiaan emosional di dalam. Ia bukan sosok sempurna, tetapi justru terasa manusiawi. Keras, rapuh, keras kepala, namun tulus dalam mencintai.
Pada akhirnya, L bukan sekadar kisah tentang alfabet cinta. Ia adalah cerita tentang takdir, kehilangan, dan kedewasaan emosional. Tentang bagaimana manusia sering kali harus kalah dari hidup, dan belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa direncanakan.
Sebuah novel metropop yang romantis, reflektif, menyakitkan, dan membekas.
Identitas Buku
- Judul buku: L
- Penulis: Kristy Nelwan
- Penerbit: Grasindo
- Tahun terbit: April 2012
- Tebal buku: 344 Halaman
- ISBN: 978-979-025-417-6
- Kategori: Novel Fiksi
- Genre: Chicklit, Metropop
Baca Juga
-
Novel Melukis Langit Dermaga: Pemulihan Diri di Kota Pelabuhan Kecil Jerman
-
Ulasan Novel Deuce: Tak Semua Remaja Tumbuh dengan Kenyamanan
-
Buku Jelek itu Ada dan Justru Penting untuk Ada!
-
Mau Intimate Dinner di Malam Valentine? Ini 4 Rekomendasi Tempat Kencan Romantis di Kota Malang
-
Ulasan Buku Julid Fi Sabilillah: Strategi Warganet Indonesia Membongkar Propaganda Israel
Artikel Terkait
Ulasan
-
Sultan Fattah: Perjalanan Hidup Raja Islam Pertama di Tanah Jawa
-
Film Rumah Tanpa Cahaya: Drama Keluarga yang Sederhana dan Menyayat Hati
-
Mengenang Penyintas PD II dan Tenggelamnya Gustloff dalam Salt to The Sea
-
Novel Melukis Langit Dermaga: Pemulihan Diri di Kota Pelabuhan Kecil Jerman
-
Misteri Patung Garam: Novel Lokal dengan Misteri yang Unik dan Menegangkan
Terkini
-
9 Drama China tentang Dunia Kerja yang Seru dan Edukatif
-
Long Weekend ke Sukabumi? 5 Spot Seru Dekat Stasiun yang Bisa Kamu Kunjungi
-
Gen Z Disebut Kalah Cerdas dari Milenial, Efek EdTech di Dunia Pendidikan?
-
Menulis dengan Tanggung Jawab demi Tingkatkan Literasi Digital Masyarakat
-
Jadi Ibu Tunggal, Asri Welas Tak Batasi Komunikasi Anak dan Mantan Suami