Gen Z sering disebut generasi paling “melek teknologi” karena sejak kecil sudah akrab dengan tablet, smartphone, Google, dan AI. Mereka hidup dalam era digital yang semua serba cepat, serba instan, dan semua tinggal klik.
Tapi ironisnya, di balik kemudahan itu, muncul satu anggapan yang bikin resah di mana Gen Z dinilai kalah cerdas dari Milenial. Secara logika, dukungan teknologi yang lebih canggih harusnya bikin Gen Z lebih pintar dari generasi sebelumnya.
Faktanya, dalam lansiran akun Instagram @pitravelers_idn, beberapa ahli saraf di Amerika Serikat menemukan adanya penurunan kualitas kognitif Generasi Z dalam hal kemampuan pemecahan masalah, fokus, literasi, dan numerasi.
Dan yang lebih mengejutkan, salah satu penyebab utamanya diduga berasal dari sesuatu yang selama ini dianggap solusi masa depan, yaitu Education Technology (EdTech). Tentu fakta ini jadi alarm serius bagi dunia pendidikan.
Sekolah Lebih Lama, Tapi Kemampuan Menurun?
Secara statistik, Gen Z justru menghabiskan waktu lebih lama di lingkungan pendidikan dibanding generasi sebelumnya. Lebih banyak sekolah formal, kursus online, aplikasi belajar, hingga video edukasi penunjang.
Harusnya fasilitas ini jadi keuntungan, bukan? Namun, data menunjukkan sebaliknya. Beberapa studi menemukan bahwa kemampuan deep thinking dan problem solving kompleks justru menurun dibanding generasi Milenial.
Banyak siswa cepat mencari jawaban, tapi kesulitan memahami prosesnya. Cepat tahu “apa”, tapi bingung “kenapa”. Fenomena ini jadi tanda adanya pergeseran cara kerja otak.
Titik Balik: Ledakan Teknologi 2010
Para peneliti mencatat bahwa penurunan kemampuan kognitif mulai terlihat masif sejak sekitar tahun 2010. Masa ketika smartphone booming, tablet masuk sekolah, e-learning berkembang pesat, dan kelas mulai serba digital.
Sejak saat itu, layar menggantikan banyak metode belajar tradisional seperti membaca buku fisik, menulis tangan, atau diskusi panjang. Belajar jadi lebih praktis, bahkan mungkin terlalu praktis. Semua serba instan sampai otak jarang “dipaksa bekerja keras”.
Otak Jadi Terbiasa Dangkal
Ahli saraf Jared Cooney Horvath menjelaskan bahwa paparan layar konstan mengubah cara otak memproses informasi. Kalau dulu kita membaca pelan, memahami paragraf demi paragraf, sekarang kita cenderung scrolling, informasi lompat-lompat, dan multitasking.
Akhirnya otak terbiasa dengan pemindaian cepat, bukan pemahaman mendalam. Akibatnya, malah jadi sulit fokus lama, cepat bosan, susah menganalisis masalah kompleks, dan gampang terdistraksi notifikasi.
Ini bukan soal malas, hanya pola kerja otaknya memang berubah. Dan perubahan ini bisa berdampak besar pada kemampuan berpikir kritis, terutama pada Gen Z yang kesehariannya banyak bersinggungan dengan teknologi praktis.
EdTech: Solusi atau Bumerang?
EdTech awalnya dibuat dengan niat baik. Tujuannya untuk mempermudah akses belajar, membuat materi lebih interaktif, dan memperluas jangkauan pendidikan. Namun, saat digunakan berlebihan, justru muncul efek samping.
Contohnya, kalkulator bikin jarang berhitung manual, autocorrect bikin jarang mengeja, Google bikin jarang mengingat, dan AI bikin jarang berpikir sendiri. Tanpa sadar, banyak fungsi kognitif “dialihkan” ke teknologi.
Otak jadi seperti otot yang jarang dilatih hingga akhirnya melemah. Bukan karena Gen Z bodoh, tapi karena terlalu dimanjakan sistem instan.
Fenomena Global, Bukan Cuma di Amerika
Masalah ini ternyata tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Lebih dari 80 negara yang mengadopsi digitalisasi masif di kurikulum sekolah menunjukkan gejala serupa. Artinya, ini bukan isu individu dan bukan salah Gen Z semata.
Fenomena ini sudah menjadi problem sistem pendidikan global. Selama ini teknologi dianggap jawaban untuk semua masalah belajar yang mulai menggantikan proses berpikir. Kalau semua diserahkan ke layar, kemampuan dasar manusia bisa terkikis pelan-pelan.
Jadi, Apakah Gen Z Benar-Benar Kalah Cerdas?
Jika ditanya apakah Gen Z benar-benar kalah cerdas dari Milenial, jawabannya belum tentu. Perlu dibedakan antara jenis kecerdasan yang berubah dan kecerdasan yang menurun.
Gen Z sebenarnya punya kelebihan lain, mulai dari lebih adaptif pada teknologi, visual learning kuat, multitasking, kreatif di media digital, dan jago cari informasi cepat. Hanya saja, tantangannya pada fokus panjang, membaca mendalam, analisis kompleks, dan kesabaran berpikir.
Jadi bukan “lebih bodoh”, tapi pola kecerdasannya saja yang berbeda. Masalahnya, sistem pendidikan dan dunia kerja masih butuh kemampuan fokus, analitis, dan pemecahan masalah mendalam. Kalau aspek ini melemah, tentu jadi alarm serius.
Alarm untuk Dunia Pendidikan
Fenomena ini jadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Digitalisasi memang penting, tapi kalau berlebihan justru bisa jadi bumerang. Kalau tidak segera dievaluasi, generasi masa depan berisiko kehilangan kapasitas kognitif dasarnya.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar tertinggal teknologi. Pada akhirnya, teknologi seharusnya membantu manusia berpikir lebih baik dan bukan menggantikan kemampuan berpikir itu sendiri.
Jadi mungkin pertanyaannya bukan “Gen Z kalah cerdas atau tidak?”, tapi “Sudahkah sistem belajar kita benar-benar melatih otak, bukan sekadar memudahkan tugas?”. Karena masa depan pendidikan bukan soal layar paling canggih, tapi otak paling tajam.
Baca Juga
-
Apri/Lanny Main Rangkap di China Masters 2026, Strategi atau Eksperimen?
-
Valentine Kelabu: Mengenali Gejala Mati Rasa atau Emotional Numbness dalam Hubungan
-
Jodoh Tidak Harus Selamanya: Pelajaran di Balik Pernikahan dan Perceraian
-
PBSI Beberkan Revolusi Baru BWF: Transformasi Besar Bulu Tangkis Global
-
Fenomena Cut Off Orang Tua: Self-Love atau Batasan yang Terlambat Dibuat?
Artikel Terkait
-
Majelis Pendidikan Dasar & Menengah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tawangsari Gelar Penguatan Ideologi
-
Jadwal Libur Sekolah Awal Puasa 2026, Sambung Imlek Sampai Satu Minggu
-
Pernikahan Impian Ala Gen Z: Intimate, Personal, dan Penuh Estetika
-
FOMO Sehat ala Gen Z, Mitos Obesitas, dan RS Tapi Homey
-
Bukan Sekadar Nilai Tambah: Inilah Standar Baru Kualitas Pengajar Bahasa Inggris yang Diakui Global
Kolom
-
Menulis dengan Tanggung Jawab demi Tingkatkan Literasi Digital Masyarakat
-
Hidup dari Standar Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kebahagiaan
-
Digital Detox dan Ilusi Putus Koneksi di Dunia Kerja Modern
-
Buku Jelek itu Ada dan Justru Penting untuk Ada!
-
Ekoterapi: Pentingnya Ruang Hijau Bagi Kesehatan Mental Masyarakat
Terkini
-
Mengenang Penyintas PD II dan Tenggelamnya Gustloff dalam Salt to The Sea
-
Jadi Ibu Tunggal, Asri Welas Tak Batasi Komunikasi Anak dan Mantan Suami
-
Valentine Tanpa Pasangan? Ini 5 Cara Seru Menikmatinya
-
Novel Melukis Langit Dermaga: Pemulihan Diri di Kota Pelabuhan Kecil Jerman
-
Bunga Matahari yang Gigih