Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Novel Salt Tho The Sea. (Dokumentasi Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Selama ini, kisah tentang Hitler, Stalin, dan Perang Dunia II (PD II) sering kita kenal hanya melalui buku sejarah yang kaku dan penuh angka. Namun lewat Salt to the Sea, pembaca diajak hadir langsung menyaksikan bagaimana ribuan warga sipil dari Jerman, Polandia, Latvia, Cekoslovakia, dan Prusia berusaha bertahan hidup di tengah desingan meriam, pesawat tempur, serta ambisi dua penguasa paling kejam dalam sejarah.

Ruta Sepetys memadukan riset sejarah yang kuat dengan kisah fiksi yang menyayat hati. Novel ini berlatar tragedi nyata tenggelamnya kapal MV Wilhelm Gustloff, dan disampaikan melalui sudut pandang orang pertama dari empat tokoh remaja. Dengan cara ini, penulis seakan menyuarakan populasi besar yang hilang tanpa sempat tercatat dalam sejarah. Hasilnya adalah cerita perang yang sangat manusiawi dan mengguncang emosi.

Sinopsis

Cerita dimulai dari Joanna, gadis Latvia yang melarikan diri di tengah kekacauan perang pada tahun 1941. Ia dihantui rasa bersalah yang terus membayangi langkahnya. Lalu ada Emilia, gadis Polandia yang menjadi korban kekejaman tentara Rusia. Dalam pelariannya, ia diselamatkan oleh Florian, seorang pemuda pembelot Jerman. Tokoh keempat adalah Alfred, pelaut malas yang bekerja untuk  Hitler dan memandang perang dengan cara yang aneh sekaligus menyebalkan.

Keempat tokoh ini perlahan bertemu dalam perjalanan panjang menuju kapal Wilhelm Gustloff, masing-masing membawa luka, rahasia, dan harapan untuk selamat.

Pada Januari 1941, musim dingin terasa begitu kejam. Para pengungsi berjalan tanpa makanan, tanpa tempat berlindung, dan hanya bertahan dengan sisa-sisa tenaga. Mereka beristirahat di sebuah lumbung bekas, sampai akhirnya Florian dan Emilia datang dalam keadaan terluka. Joana mengoperasi pecahan meriam di dalam tubuh Florian di atas salju, di tengah musim dingin yang kejam, tanpa anestesi.

Di saat seperti itu, batas antara kawan dan lawan semakin kabur. Joanna bahkan menyimpan amarah besar terhadap bangsa Jerman. Dalam benaknya hanya ada pertanyaan: mengapa perempuan dan anak-anak harus ikut menjadi korban, mengapa hanya orang Jerman. 

Perjalanan berlanjut menuju sebuah vila besar peninggalan ningrat Eropa yang telah dibantai oleh tentara Jerman. Di sana, terungkap bahwa Emilia ternyata sedang hamil. Florian terkejut melihat bagaimana para pengungsi yang nyaris tidak memiliki apa-apa masih sanggup berbagi. Bahkan hanya sepotong kentang pun dibagi rata. Di tengah penderitaan, kemanusiaan tetap hidup.

Mereka akhirnya menuju Operasi Hannibal, yaitu evakuasi besar-besaran para pengungsi yang didata dan diangkut oleh pihak Jerman. Dalam perjalanan itu, suasana sempat menghangat berkat kehadiran klaus pengembara kecil dan pujangga pembuat sepatu. Namun perjalanan tetap dipenuhi horor: mereka harus melewati danau es beku, diiringi tembakan meriam, serta mayat-mayat yang tergeletak di sepanjang jalan.

Joanna berhasil masuk ke daftar evakuasi sebagai perawat karena kapal kekurangan tenaga medis. Dari sepuluh ribu penumpang, hanya tersedia satu dokter. Banyak orang terpaksa memalsukan identitas demi bisa naik kapal. Mereka yang tertinggal hanya bisa pasrah. Tentara dengan luka parah dan tubuh terpotong tidak akan diangkut ke kapal karena dianggap tidak berguna bagaikan kubis buduk. Bahkan ada ibu yang melemparkan bayinya ke kapal demi memberi peluang hidup.

Di kapal, mereka bertemu Alfred. Alih-alih menunjukkan sisi kemanusiaan, Alfred justru lebih banyak bersembunyi di toilet dan menulis surat-surat panjang kepada kekasihnya, Hannelore.

Kapal MV Wilhelm Gustloff sendiri memiliki panjang sekitar 208,5 meter dan lebar 23,5 meter. Kapal pesiar ini dialihfungsikan menjadi kapal pengungsi dalam Operasi Hannibal, yaitu operasi evakuasi terbesar Jerman pada Perang Dunia II untuk menyelamatkan ratusan ribu pengungsi dan tentara dari wilayah Prusia Timur

Di tengah perjalanan, Emilia melahirkan dalam keadaan putus asa. Masa lalunya pun terungkap ia pernah diserahkan oleh pamannya dan dijadikan budak seks oleh tentara Rusia. Luka batin yang ia simpan membuat kisahnya semakin tragis.

Sementara itu Florian ternyata menyimpan rahasia besar. Ia adalah ahli pemalsuan dan duplikasi, yang dimanfaatkan oleh Lange, orang kepercayaan Koch (tokoh penting Nazi). Florian membawa peta Ruang Amber, harta karun Eropa yang dicuri Nazi, termasuk permata amber berbentuk angsa. Semua itu ia simpan sebagai bentuk dendam terhadap Hitler dan rezimnya.

Konflik di antara mereka sempat memanas karena setiap orang berjuang demi bertahan hidup, bahkan sampai muncul niat saling melaporkan. Namun Florian juga menyimpan rahasia Joanna—tentang bagaimana Joanna diam-diam menyelamatkan gadis Polandia di ruang bersalin yang seharusnya hanya untuk orang Jerman. Perlahan mereka mulai berdamai.

Pada pukul 21.15 malam, torpedo Rusia menghantam kapal dari bawah. Kapal bocor, miring, dan berubah menjadi neraka terapung. Adegan kepanikan digambarkan begitu detail: buritan ambruk, jeritan manusia bercampur suara ledakan, hingga kapal akhirnya tenggelam membawa sekitar sepuluh ribu jiwa.

Tragedi ini disebut enam kali lebih dahsyat daripada tenggelamnya Titanic. Wilhelm Gustloff hanya memiliki sebelas sekoci, jauh dari cukup untuk menampung semua penumpang. Mayat-mayat mengambang di laut gelap dalam suhu yang membekukan.

Joanna dan Florian berhasil melompat ke sekoci bersama Klaus serta bayi Emilia yang sempat dilemparkan. Namun Emilia tertinggal. Tas berisi harta Ruang Amber yang dibawa Florian justru berada di tangan seorang pelaut di atas kapal, bersama Emilia.

Hari-hari di sekoci adalah siksaan. Salju terus turun, angin menusuk tulang, dan satu per satu orang mati karena hipotermia dan kelaparan. Dalam kondisi itulah Florian akhirnya sadar: pelariannya selama ini sebenarnya untuk siapa? Joanna pun merasakan bahwa mereka semua hanyalah menjadi garam di laut. Manusia kecil yang hilang tapa jejak. Hingga selarik cahaya kapal nelayan menyelamatkan mereka.

Sementara itu, Emilia berhasil naik ke rakit bersama Alfred. Namun Alfred menunjukkan sisi gelapnya sebagai sosok sosiopat. Pertikaian pun terjadi, hingga akhirnya Emilia membunuh Alfred demi menyelamatkan dirinya.

Kisah ditutup dengan sebuah surat dari Denmark yang datang kepada Florian dua puluh tahun kemudian. Dari berita-berita yang ia ikuti, akhirnya diketahui bahwa merekalah yang menemukan Emilia bersama harta Ruang Amber, serta menguburkan Emilia dengan penuh cinta.

Kelebihan

Kekuatan terbesar novel ini adalah kemampuan Ruta Sepetys menggambarkan detail perang dengan sangat hidup, tanpa kehilangan sisi kemanusiaan. Penderitaan, rasa lapar, dingin, ketakutan, hingga trauma psikologis para pengungsi terasa nyata dan dekat.

Riset yang dilakukan penulis pun luar biasa. Ruta Sepetys mengunjungi banyak tempat di berbagai belahan dunia untuk  mewawancarai penyintas Operasi Hannibal demi menyusun cerita yang kuat. Ia tidak hanya ingin menulis fiksi, tetapi ingin menghubungkan sejarah dengan emosi manusia, sekaligus menyuarakan mereka yang hilang dan terlupakan.

Terjemahan bahasa Indonesia juga terasa sangat nyaman dibaca dan tidak kaku, sehingga emosi cerita tersampaikan dengan baik.

Kekurangan

Satu bagian yang terasa kurang kuat adalah sudut pandang Alfred. Hampir seluruh bab Alfred hanya berisi surat-suratnya yang mendayu- dayu filosofis kepada Hannelore, yang sangat panjang dan terasa bertele-tele, bahkan ditulis dengan gaya miring kecil yang tidak nyaman dibaca.

Identitas Buku

Judul: Salt to the Sea
Penulis: Ruta Sepetys
Tahun terbit: 2016 (Cetakan ke-6: Maret 2025)
Alih bahasa: Putri Septiana Kurniawati
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 978-602-04-5415-3