Bimo Aria Fundrika | Chairun Nisa
Novel Gadis Kretek
Chairun Nisa

Gadis Kretek merupakan sebuah novel fiksi historis karya Ratih Kumala yang menelusuri sejarah rokok kretek di Indonesia dengan latar waktu lintas zaman, mulai dari masa pendudukan Jepang, awal kemerdekaan, hingga Orde Baru. Di balik aroma tembakau dan cengkeh, novel ini tidak hanya meramu sejarah dengan kisah cinta yang rumit, tetapi juga menghadirkan keberdayaan seorang perempuan yang berani terjun ke dunia bisnis kretek, membangun merek dagangnya sendiri, serta meracik saus kretek terbaik di tengah dominasi laki-laki.

Perempuan dalam Dunia Kretek dan Patriarki

Lebih dari sekadar cerita tentang kretek, Gadis Kretek menghadirkan potret perempuan yang tidak hanya berada di pinggir sejarah. Mereka tampil sebagai subjek yang berdaya: berani melawan, memilih, dan menegosiasikan peran hidupnya di tengah dunia bisnis dan sistem patriarki yang selama ini didominasi laki-laki.

Gambaran tentang perempuan dan dunia kretek dalam novel ini tidak muncul begitu saja. Ia berakar dari cara pandang masyarakat pada masa itu yang meyakini perempuan hanya pantas berada di “dapur, sumur, dan kasur”. Jika perempuan bekerja, maka perannya dianggap cukup sebagai buruh linting, bukan pengambil keputusan.

Harapan Idroes Moeria dan Anak Laki-laki

Idroes Moeria, ayah dari Jeng Yah, menaruh harapan besar kepada anak laki-laki untuk meneruskan bisnis kreteknya. Harapan ini lahir dari keyakinan yang lazim pada zamannya. Dua tahun tinggal di Koblen, sebuah penjara pada masa pendudukan Jepang di Surabaya, membuat Idroes semakin percaya bahwa laki-laki adalah sosok kuat, dapat diandalkan, dan layak menjadi penerus usaha.

Dalam cara berpikir seperti itu, anak perempuan nyaris tidak diperhitungkan. Mereka hadir, tetapi tidak benar-benar diharapkan, hanya dianggap sebagai pelengkap atau pendamping laki-laki. Cara pandang inilah yang menjadi latar lahirnya tokoh Dasiyah atau Jeng Yah.

Dasiyah dan Dunia Kretek

Sejak usia sepuluh tahun, Jeng Yah sudah mahir melinting kretek. Hari-harinya berputar di pabrik kretek milik Idroes Moeria, bergaul dengan para buruh linting. Kedekatan itu perlahan menumbuhkan cita-citanya: menciptakan formula saus sendiri, bagian terpenting yang menentukan rasa sebuah kretek, sekaligus memiliki merek dagang miliknya sendiri.

Namun mimpi itu tumbuh di zaman yang membatasi ruang saus hanya untuk laki-laki, sementara perempuan dianggap cukup berada di meja linting.

Keinginan tersebut bahkan tidak pernah ia sampaikan langsung kepada ayahnya. Dari kejauhan, Jeng Yah hanya bisa memandang ruang saus sebagai dunia yang terlarang. Kesempatan baru datang lewat Soeraja yang diam-diam membawanya masuk ke ruang tersebut. Di sanalah Jeng Yah mulai meracik saus impiannya.

Penolakan dan Keraguan terhadap Kemampuan Perempuan

Ketika Jeng Yah ketahuan memasuki ruang saus, ia tidak diberi ruang untuk menjelaskan. Pak Dibyo memakinya dan mengatakan bahwa kretek racikannya nanti akan berbau asam. Tidak ada yang membela. Diamnya Idroes dan Soeraja menegaskan bahwa anggapan tersebut bukan sekadar pendapat pribadi, melainkan keyakinan yang dianggap wajar sejak lama.

Bakat Jeng Yah pun tidak langsung diakui. Ayahnya justru mengecilkan kemampuannya, menyebutnya bukan sesuatu yang pantas dibanggakan karena bagi perempuan ada pekerjaan lain yang dianggap lebih “layak”. Kesempatan baru baru diberikan setelah Soeraja kembali meyakinkan, karena suara laki-laki lebih dulu dipercaya. Namun, di tengah keraguan dan penolakan itu, kretek ciptaan Jeng Yah justru berkembang menjadi produk populer di Kota M dengan merek dagang Kretek Gadis.

Perjodohan dan Pilihan Hidup Perempuan

Sebagai pembaca, terasa jelas bahwa tidak mudah menjadi Jeng Yah di tengah zaman ketika perjodohan adalah hal yang lumrah. Dalam novel, orang tua Dasiyah menjodohkannya dengan putra dari keluarga pengusaha kretek.

Jeng Yah menolak perjodohan tersebut, tetapi bukan dengan pemberontakan besar. Ia menolak secara halus, dan orang tuanya pun tidak memaksakan kehendak. Justru di situlah letak beratnya: menolak tanpa melukai, tanpa menyinggung pihak lain, sekaligus bertahan tanpa meruntuhkan tatanan yang sudah lama dipercaya. Pada masa ini Jeng Yah menunjukkan bahwa ia mampu menentukan pilihan hidupnya sendiri, bukan menyerahkan hidup sepenuhnya pada keputusan orang lain.

Pengkhianatan dan Luka Sejarah 1965

Bagian ini menjadi titik paling menyakitkan. Peristiwa G30S/PKI menyeret hidup Dasiyah ke dalam pilihan yang tidak pernah ia pilih. Karena kedekatannya dengan Soeraja yang terafiliasi dengan PKI, Dasiyah ikut ditangkap dan dicap sebagai simpatisan PKI, lalu menjadi tahanan politik.

Dalam keadaan hidupnya hancur, orang yang paling ia percaya justru memilih menyelamatkan diri. Soeraja meminta perlindungan kepada Soedjagad, menikahi putrinya—yang merupakan lawan bisnis keluarga Idroes Moeria—serta membocorkan formula saus kretek racikan Dasiyah.

Bangkit dari Nol dan Menghilang dari Sejarah

Namun yang paling menggetarkan bukan hanya pengkhianatan itu, melainkan cara Jeng Yah menghadapinya. Ia tidak digambarkan sebagai perempuan yang putus asa atau hancur karena cinta. Setelah bebas, ia memilih bangkit dan memulai kembali bisnisnya dari nol.

Dasiyah membangun kembali bisnis kreteknya dan hidup tersembunyi, seolah-olah dihapus dari sejarah. Hingga bertahun-tahun kemudian, jejaknya ditemukan kembali oleh cucu Soedjagad, seakan menegaskan bahwa kisah perempuan seperti Dasiyah memang sering disingkirkan, tetapi tidak pernah benar-benar lenyap.

Perempuan, Ingatan, dan Sejarah yang Terlupakan

Membaca Gadis Kretek bukan sekadar mengikuti alur cerita. Setiap adegannya terasa visual, seolah pembaca dapat menghirup aroma tembakau dan cengkeh yang memenuhi ruang-ruang cerita. Di balik detail-detail itu, tersimpan kisah tentang perempuan yang bertahan, memilih, dan bangkit di tengah zaman yang tidak selalu memberi ruang bagi suaranya.

Karena itulah novel ini layak dibaca. Bukan hanya untuk mengenal sejarah kretek, tetapi juga untuk memahami bagaimana keberdayaan perempuan dibangun melalui luka, keteguhan, dan perjuangan. Gadis Kretek mengajak pembacanya pulang dengan pemahaman yang lebih dalam tentang perempuan, ingatan, dan sejarah yang sering terlupakan.

Identitas Buku

Judul Buku: Gadis Kretek
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012
Desain Sampul dan Ilustrasi Isi: Iksaka Banu
Editor: Mirna Yulistianti
Jumlah Halaman: 274
ISBN: 978-979-22-8141-5