Novel Ajaklah Tuhan ke Tanah Jawa karya Sekar Ayu Asmara hadir dengan keunikan tersendiri, baik dari segi narasi maupun latar belakang penciptaannya.
Sebuah fakta menarik terungkap bahwa mahakarya ini lahir dari masa isolasi mandiri sang penulis di tengah berkecamuknya pandemi beberapa tahun lalu. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ruang gerak dan situasi sesulit apa pun justru dapat dikonversi menjadi peluang emas untuk melahirkan karya sastra yang kontemplatif dan mendalam.
Mengambil berbagai peristiwa sejarah dunia sebagai latar belakang kejadiannya, novel ini mengajak pembaca melintasi batas negara dan waktu demi menyelami makna keteguhan iman.
Cerita bermula pada tahun 1940, menampilkan sosok Rebekah Blumenfeld, seorang gadis belia yang digadang-gadang sebagai musisi masa depan negeri Belanda. Namun, impian indahnya porak-poranda seketika saat tentara Nazi Jerman menginvasi negaranya.
Melalui romansa yang getir, Rebekah menikah dalam semalam, lalu harus menerima kenyataan pahit menjadi janda keesokan harinya. Demi keselamatan jiwa, keluarga Blumenfeld yang merupakan keturunan Yahudi terpaksa berpencar.
Rebekah akhirnya memilih berlayar ke Hindia Belanda bersama adiknya yang memiliki kebutuhan khusus, bermodalkan sebilah biola kesayangan sebagai satu-satunya peneguh semangat.
Isi Buku: Empat Babak Penderitaan dan Pelarian Rebekah
Dalam menceritakan perjalanan panjang tokoh utamanya, Sekar Ayu Asmara membagi narasi novel ini ke dalam empat babak kehidupan yang secara kronologis menggambarkan transformasi psikologis Rebekah yang sangat berat.
Kisah diawali dengan kebrutalan tentara Nazi saat menggempur kota-kota di Belanda, di mana keluarga Blumenfeld menjadi salah satu kelompok Yahudi yang terpinggirkan dan hidup dalam ketakutan.
Di tengah kekacauan perang tersebut, Isaac yang merupakan sahabat karib Rebekah berlutut untuk meminangnya.
Mereka melangsungkan pernikahan secara sembunyi-sembunyi pada malam hari, tetapi sakralnya momen itu terendus oleh patroli Jerman, hingga mengakibatkan Isaac tewas mengenaskan di hadapan Rebekah setelah hanya mengecap status sebagai suami selama beberapa jam.
Menuruti amanat orang tuanya, Rebekah kemudian memilih melarikan diri ke Hindia Belanda untuk menemui pamannya sembari mengasuh adiknya yang cacat.
Perjalanan panjang melintasi samudra menuju Tanah Jawa ini menjadi episode yang sangat menyesakkan dada karena didera depresi berat, Rebekah sempat melakukan percobaan bunuh diri, mengalami keguguran, hingga harus kehilangan biola kesayangan serta melepas kepergian sang adik yang wafat di tengah pelayaran.
Beruntung, ada sepasang suami istri di kapal yang tulus menguatkan raganya, membuat Rebekah mampu bertahan dengan hanya berpegang pada wasiat terakhir almarhum suaminya untuk selalu mengajak Tuhan ke mana pun ia pergi.
Setibanya di Tanah Jawa, Rebekah perlahan mencoba membuka hati dan menata masa depan dengan bekerja sebagai guru musik bagi anak-anak. Di sinilah ia bersentuhan langsung dengan budaya lokal dan bertemu dengan seorang pria pribumi bernama Wiro, sebuah pertemuan yang menuntun Rebekah pada pengembaraan batin yang mendalam hingga akhirnya ia memutuskan untuk memeluk agama Islam.
Namun, kedamaian itu kembali terkoyak pada babak terakhir ketika Jepang mulai menguasai wilayah Nusantara dan menjebloskan orang-orang Eropa ke kamp konsentrasi.
Nasib Rebekah sedikit lebih beruntung karena ia dapat bertahan hidup dengan menjadi pemain musik di sebuah restoran, bahkan dengan teguh menolak pinangan seorang petinggi militer Jepang saat mendengar kabar burung bahwa Wiro telah gugur.
Ketika Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak oleh bom atom dan kekuasaan Jepang lengang, perang pun usai dan sebuah kejutan manis menanti: Wiro ternyata masih hidup, dan keduanya akhirnya bersatu dalam ikatan pernikahan.
Kilasan Sejarah dan Pesan Filosofis yang Menggugah
Ada banyak hal inspiratif yang dapat dipetik dari novel ini. Salah satu kekuatan utamanya terletak pada petuah-petuah filosofis dari orang tua dan suami Rebekah yang selalu menggema di sepanjang cerita, seperti: "Tak ada kehilangan yang sia-sia, karena setiap kehilangan akan melahirkan sesuatu hal yang baru," serta kalimat ikonis yang menjadi judul novel ini. Dialog-dialog tersebut berfungsi sebagai jangkar moral bagi tokoh utama maupun pembaca.
Selain itu, kecerdasan Sekar Ayu Asmara dalam menyelipkan fakta-fakta sejarah secara rapi membuat novel ini tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan fiktif, melainkan juga sebagai media edukasi yang efektif untuk menambah wawasan sejarah global dan nasional bagi para pembaca.
Catatan Kritis: Keberuntungan di Atas Tirai Keistimewaan
Bagaimanapun sakitnya derita seorang Rebekah, nasibnya mungkin masih jauh lebih beruntung dibandingkan dengan gadis-gadis pribumi pada masa itu. Gadis-gadis lokal harus mengecap pahitnya kemiskinan ekstrem, kelaparan, dan romusa di bawah naungan tanah air mereka sendiri yang kaya akan permata berlimpah.
Hampir semua tokoh yang ditemui Rebekah dalam perjalanan hidupnya digambarkan sebagai sosok yang baik hati (kecuali kekejaman institusi perang itu sendiri). Penyelesaian cerita yang memberikan happy ending teramat manis kepada Rebekah memunculkan sebuah pertanyaan reflektif: apakah di dunia nyata pada masa perang yang sekelam itu, ada orang yang bisa seberuntung Rebekah? Konstruksi karakter yang selalu dikelilingi penolong ini membuat dinamika cerita terasa sedikit utopis di tengah realitas sejarah yang aslinya jauh lebih brutal.
Kesimpulan
Ajaklah Tuhan ke Tanah Jawa adalah sebuah novel yang memikat, menghibur, sekaligus sarat akan nilai-nilai spiritualitas. Sekar Ayu Asmara berhasil membuktikan bahwa di tengah gempuran badai takdir yang merenggut segala hal yang dicintai, kehadiran "Tuhan" dalam hati adalah satu-satunya kompas yang membuat manusia tetap bertahan sebagai manusia. Sebuah karya sejarah berbalut fiksi yang sangat layak untuk diapresiasi oleh pencinta sastra tanah air.
Identitas Buku:
- Judul Buku: Ajaklah Tuhan Ke Tanah Jawa
- Penulis: Sekar Ayu Asmara
- Jumlah Halaman: 256
- Tahun Terbit: 2020
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Baca Juga
-
Review Bungkam Suara: Satire Tajam J.S. Khairen tentang Ilusi Kebebasan
-
Membaca Kapan Nanti: Sastra Absurd yang Menantang Konsentrasi Pembaca
-
Merajut Harkat: Menyingkap Sisi Gelap Penjara dan Martabat yang Hilang
-
Menonton Pesta Babi di Sidrap: Tentang Literasi dan Larangan yang Ironis
-
Bukan Sekadar Kisah Sedih: Mengapa Novel Lee Kkoch-nim Ini Justru Terasa Sangat Menghangatkan?
Artikel Terkait
-
Novel Komsi Komsa, Melihat Sisi Lain Sejarah Lewat Pengembara Lintas Negara
-
Jung Woo Sung, Bae Sung Woo, dan Jung Sung Il Diincar Bintangi Film Sejarah
-
Mempelajari Sastra dan Budaya dalam Buku Puisi Karya Itaru Ogasawara
-
The Kings Warden dan Luka Pemimpin yang Disingkirkan
-
Maya: Menyibak Ilusi, Menyelami Luka Sejarah dan Cinta yang Tak Pernah Usai
Ulasan
-
Traveling for Healthy dan Pentingnya Jeda dari Rutinitas Hidup
-
Sharp Objects dan Hubungan Ibu-Anak Paling Toxic dalam Novel Thriller
-
Lika-liku Perempuan Menembus Esports Profesional di Falling Into Your Smile
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Setelah 10 Episode, Saya Baru Menangkap Detail Penting di The Scarecrow
Terkini
-
Belanja Atas Nama Healing: Self-Reward yang Diam-diam Menguras Finansial
-
Manga Would You Like to Be a Tanuki? Dapat Adaptasi Anime, Ini Sinopsinya
-
Jangan Mubazir! 5 Kebiasaan Ini Bikin Daging Kurban Cepat Membusuk
-
Diskon, Gratis Ongkir, dan Cicilan: Kombinasi yang Sulit Ditolak Gen Z
-
Dirumorkan Jadi Rekan Setim, Pedro Acosta Ingin Duel dengan Marc Marquez