Siapa bilang menjadi lajang di usia 30-an itu mudah? Apalagi jika kamu hidup di tengah keluarga dan budaya yang sangat menekankan pernikahan sebagai tujuan hidup utama. Lewat buku Yang Masih Lajang, Lauren Ho mengajak kita menyelami keseharian Andrea Tang, seorang pengacara sukses keturunan Tionghoa yang harus berjuang menghadapi tekanan keluarga, standar sosial, dan kebingungan memilih jalan hidupnya sendiri.
Sinopsis
Cerita berpusat pada Andrea Tang, perempuan berusia 30 tahun yang bekerja sebagai pengacara di Singapura. Ia cerdas, berkarir cemerlang, punya penghasilan cukup, tapi ada satu hal yang dianggap kurang oleh orang-orang di sekelilingnya. Ia masih lajang. Setiap kali perayaan tahun baru Imlek tiba, Andrea harus menghadapi rentetan pertanyaan menyakitkan dari kerabat: "Kapan Menikah?", "Jangan sampai terlambat punya anak!"
Tekanan itu makin terasa setelah ia putus dari pasangannya yang sudah bertahun-tahun bersama. Ditambah lagi, sepupunya yang juga terakhir dianggap sama nasib sebagai lajang, Helen tiba-tiba mengumumkan pertunangannya. Andrea pun mendapati dirinya menjadi yang terakhir dalam keluarga yang belum menikah sebuah posisi yang dianggap memalukan dan membuatnya terancam kehilangan hak waris.
Untuk menghindari pertanyaan menyudutkan, Andrea dan sepupunya Linda sering membuat cerita bohong tentang pacar khayalan. Namun kebohongan itu tak bisa bertahan selamanya. Di tengah kebingungan, ia mulai mencoba dunia kencan modern mulai dari aplikasi kencan, bertemu laki-laki yang jauh lebih muda bernama Orson, hingga tanpa sengaja berkenalan dengan konglomerat, Eric Deng. Di sisi lain, di kantor ia juga bersaing ketat dengan rekan kerjanya, Suresh, demi posisi jabatan.
Seiring berjalannya waktu, Andrea mulai menyadari ia selama ini hidup mengikuti daftar target hidup yang disusun ibunya masuk sekolah bagus, jadi dokter atau pengacara, punya rumah, lalu menikah dan punya anak tanpa benar-benar bertanya pada dirinya sendiri apa yang ia inginkan. Ia mulai mempertanyakan apakah pernikahan satu-satunya ukuran keberhasilan? Apakah kebahagiaan harus sesuai standar yang ditetapkan orang lain?
Kelebihan dan Kekurangan
Bagi saya, buku ini membahas tekanan budaya dan keluarga yang sangat terasa masyarakat Asia terutama soal pernikahan, usia subur, dan pandangan bahwa lajang adalah hal negatif. Saya melihat penulis tidak hanya mengeluh tapi menunjukkan sisi kedua pandangan dari orang tua yang mendesak dan beban yang dirasakan anak muda.
Kekaguman saya semakin bertambah karena selain soal hubungan dan status pernikahan, cerita juga mengangkat tantangan yang dihadapi Andrea di dunia kerja yang masih didominasi laki-laki, persaingan ketat, ekspektasi tinggi, dan tekanan untuk membutikan diri agar bisa dipromosikan di firma hukum. Hal ini membuat tokoh Andrea bukan karakter dalam cerita romansa biasa tapi juga cerminan perjuangan banyak perempuan modern.
Lebih lanjut, menurut pendapat saya buku ini tidak memiliki akhir yang dipaksakan karena cerita tidak memaksakan Andrea harus menikah di akhir untuk dianggap berhasil. Ia diberi ruang untuk memilih jalannya sendiri sehingga pesannya terasa jujur dan tidak menggurui.
Adapun kekurangan yang paling tampak meskipun mengangkat nilai budaya Tionghoa dan kehidupan di Singapura, penulis hanya menampilkannya dari sudut pandang kalangan menengah ke atas. Pembaca dari latar belakang ekonomi atau daerah yang berbeda mungkin sulit merasakan relevansi penggambaran tersebut karena tidak ada gambaran bagaimana nilai-nilai ini berlaku di lingkungan sosial yang lebih luas.
Pesan Moral
Yang Masih Lajang adalah bacaan yang menghibur sekaligus membuka mata. Ia mengingatkan untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri dan berani menjalani hidup sesuai keinginan hati entah itu bersama pasangan atau sendiri namun tetap bahagia dan bermakna. Setiap orang punya waktunya masing-masing untuk berkembang, bertemu dengan orang yang tepat. Tidak perlu terburu-buru hanya karena melihat orang lain sudah sampai di tahap tertentu.
Identitas Buku
- Judul Asli: Last Tang Standing
- Judul Terjemahan: Yang Masih Lajang
- Penulis: Lauren Ho
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tebal: 464 Halaman
- ISBN: 9786020649269
- Alih Bahasa: Angelic Zaizai
Baca Juga
-
Hikayat Kadiroen: Mantri Polisi yang Memilih Antara Pangkat dan Rakyat
-
Ahmad Tohari dan Realisme Magis yang Sunyi dalam Lintang Kemukus Dini Hari
-
Misteri Penemuan Candi: Apa yang Tersimpan dalam Manjali dan Cakrabirawa?
-
Tanah Bangsawan: Rahasia Kelam di Balik Identitas Ganda Seorang Pemuda Eropa
-
Memahami Dunia Anak Spesial: Review Novel Ikan Kecil yang Mengajarkan Empati Tanpa Menggurui
Artikel Terkait
Ulasan
-
Kimi Ni Todoke: Pentingnya Dukungan dan Lingkungan Sehat bagi Introvert
-
Review Hungry: Potret Bahaya Alam Liar melalui Serangan Predator Mematikan!
-
Menguliti Kebobrokan Sistem Peradilan dalam Series I Will Find You
-
Membaca Doorstoot naar Djokja: Menyelami Hari-Hari Paling Genting Indonesia
-
Harimau Galak Pensiun Jadi Penjual Kue? Intip Menggemaskannya 'Mr. Tigers Snacks'
Terkini
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Berhenti Menormalisasi "Nabung Sulit, Checkout Mudah" Sebelum Keuanganmu Benar-Benar Habis
-
Suhu Tembus 43 Derajat Celsius, Panas Ekstrem Hantui Laga Piala Dunia
-
Netflix Dikabarkan Garap Serial Live-Action Persona, RPG Legendaris Atlus
-
Gong Seung Yeon Berpeluang Bintangi Drakor Calm Lies Bersama Lee Joon Hyuk