Zaman dulu, kalau orang mau jualan ideologi atau sekadar pengin dianggap benar, mereka harus repot-repot cetak pamflet, bikin siaran radio, atau minimal naik mimbar di balai desa. Sekarang? Cukup modal kuota, jempol yang lincah, dan sedikit bumbu narasi yang bikin darah tinggi, seseorang sudah bisa jadi "nabi" dadakan atau panglima perang di jagat maya. Selamat datang di era di mana media sosial (medsos) bukan lagi tempat pamer foto makanan, tapi arena gladiator opini yang tak ada habisnya.
Kalau Anda merasa beranda X (dahulu Twitter) atau TikTok Anda isinya orang bertengkar melulu, jangan buru-buru menyalahkan nasib. Berdasarkan data terbaru, ada sekitar 139 juta orang Indonesia yang kerjaannya main medsos. Bayangkan, 139 juta kepala berkumpul di satu ruang digital yang sama selama lebih dari tiga jam sehari. Itu lebih ramai daripada antrean bansos atau konser gratisan di Monas. Maka wajar kalau para pemain politik dan penyebar propaganda melihat ini sebagai ladang basah. Kenapa harus sewa baliho mahal-mahal kalau bisa bikin konten viral yang masuk ke kantong celana orang lewat HP?
Masalahnya, yang namanya propaganda itu tidak pernah datang dengan label "Awas, Ini Hoaks." Dia datang dengan sangat sopan, atau malah sangat galak, lewat algoritma. Algoritma ini ibarat pelayan restoran yang tahu banget kalau Anda suka makanan pedas. Sekali Anda nge-klik konten yang bikin marah, besoknya si pelayan bakal menyuguhkan menu kemarahan yang lebih ekstrem lagi.
Konten yang memicu emosi, kontroversi, atau perdebatan sengit biasanya jauh lebih cepat melesat daripada berita yang isinya cuma fakta kering bin ngebosenin. Karena bagi algoritma, engagement (interaksi) adalah segalanya.
Tidak peduli itu benar atau salah, yang penting ramai! Di sinilah teknik bandwagon bermain cantik. Anda pasti pernah, kan, melihat sebuah opini yang dapat like puluhan ribu dan di-retweet ribuan kali?
Secara psikologis, kita cenderung mikir, "Wah, yang dukung banyak banget, pasti ini bener nih!" Padahal, bisa jadi itu cuma kerjaan pasukan akun anonim yang memang tugasnya cuma buat meramaikan. Kita pun jadi seperti domba; kalau yang lain lari ke kiri, kita ikut ke kiri tanpa sempat tanya, "Eh, di kiri ada apa, sih?"
Belum lagi kalau sudah pakai teknik fear appeal alias jualan rasa takut. Narasi-narasi seperti "Kalau kita nggak pilih si A, negara bakal hancur!" atau "Hati-hati, kelompok ini mau menghapus tradisi kita!" adalah makanan empuk untuk memicu reaksi impulsif. Saat kita takut atau marah, logika biasanya mendadak pensiun dini. Kita langsung sebar (share) tanpa cek sumbernya dari mana. Di sinilah propaganda digital menang telak. Dia tidak menyerang otak kita, tapi menyerang perasaan kita.
Kejadian seperti ini bukan cuma urusan tetangga sebelah atau pilpres di negeri kita saja. Ingat kasus Pilpres AS 2016? Itu adalah bukti sahih bahwa medsos bisa jadi senjata perang informasi yang ngeri-ngeri sedap. Di Indonesia pun setali tiga uang. Menjelang musim politik, medsos kita mendadak jadi hutan rimba. Akun-akun tanpa muka muncul bak jamur di musim hujan, menyebarkan narasi-narasi yang sengaja didesain untuk membenturkan kita satu sama lain.
Lalu, kita harus bagaimana? Apa kita harus hapus semua akun medsos dan balik ke zaman batu? Ya nggak juga. Kuncinya cuma satu: Literasi. Tapi jangan bayangkan literasi itu seperti kuliah yang membosankan. Literasi itu sesederhana "berhenti sebentar sebelum emosi." Sebelum jempol gatal mau mencet tombol share, coba tanya dulu: "Ini beritanya masuk akal atau tidak? Sumbernya jelas atau tidak? Atau jangan-jangan saya cuma lagi dikompor-komporin?"
Platform medsos memang punya tanggung jawab buat bersih-bersih sampah disinformasi, tapi kita sebagai pengguna juga jangan mau jadi boneka algoritma. Jangan sampai ruang digital yang harusnya jadi tempat bertukar gagasan keren malah berubah jadi tempat pembuangan akhir untuk ego dan kebencian. Intinya, jadilah netizen yang pintar, supaya tidak mudah digiring ke sana ke mari oleh mereka yang cuma pengin menang sendiri.
Baca Juga
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
Artikel Terkait
Kolom
-
Menyoal Tulisan di Bak Belakang Truk: Viral, Vulgar, Atau Puitis Saja Sih?
-
Budiman Sudjatmiko dan Mahasiswa: Siapa yang Gagal Berdialog?
-
Bukan Sekadar Menang: Pelajaran Berharga dari Suporter Jepang di Piala Dunia 2026
-
Teach You a Lesson dan 'Bahasa Cinta' Seorang Guru untuk Anak Didiknya
-
Capek Sedikit, Checkout Banyak: Emotional Spending Gen Z di Era Digital
Terkini
-
Gus Dur dalam Lensa Greg Barton: Potret Utuh Presiden Keempat Indonesia
-
3 Tahun Kabar Terdepan: Merajut Keberagaman, Mengawal Kebenaran
-
Resmi Disetujui DPR, Mengapa PSSI Ngotot Naturalisasi Pemain Liga Amatir?
-
Sorotan Tajam Piala Dunia 2026: Kontroversi Visa AS dan Bayang-Bayang Kesuksesan Rusia 2018
-
Ulasan Serial Zomvivor: Drama Horor Thriller dengan Efek Visual Luar Biasa!