Film Sugar (2026), disutradarai oleh Choi Sin-choon, adalah sebuah drama keluarga Korea Selatan yang menyentuh hati, diadaptasi dari kisah nyata Kim Mi-young, ketua Asosiasi Pasien Diabetes Tipe Satu Korea. Dirilis di bioskop Korea pada 21 Januari 2026, film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Februari 2026.
Dengan durasi 106 menit, Sugar menawarkan narasi yang tenang namun mendalam tentang perjuangan seorang ibu melawan sistem untuk menyelamatkan anaknya. Sebagai film pembuka tahun 2026 di Korea, ia berhasil menggabungkan elemen emosional dengan pesan sosial tentang penyakit kronis, meski tidak tanpa kekurangan dalam penyusunan cerita.
Sinopsis: Diagnosis Diabetes Tipe Satu yang Mengejutkan
Cerita berpusat pada Mi-ra (diperankan oleh Choi Ji-woo), seorang ibu bekerja keras yang hidup bahagia bersama suami dan putranya, Dong-myung (Go Dong-ha), seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun yang aktif dan ceria. Kehidupan mereka berubah drastis ketika Dong-myung tiba-tiba pingsan karena diabetes tipe satu, sebuah kondisi langka di mana tubuh tidak memproduksi insulin, memaksa pasien untuk memantau gula darah secara konstan melalui tusukan jarum yang menyakitkan.
Mi-ra, yang awalnya terkejut dan putus asa, mulai mencari solusi global untuk perangkat pemantau gula darah tanpa rasa sakit. Ia berhasil mengimpor DexCom untuk pertama kalinya di Korea, meski harus menghadapi tuduhan impor ilegal. Tidak berhenti di situ, Mi-ra membantu ibu-ibu lain yang menghadapi masalah serupa, melawan hambatan hukum dan regulasi medis. Kisah ini dikompres dari pengalaman nyata selama tujuh hingga delapan tahun menjadi satu tahun narasi, menciptakan alur yang padat tapi terkadang terasa terburu-buru.
Review Film Sugar
Dari segi akting, Choi Ji-woo memberikan penampilan yang luar biasa, sering disebut sebagai rediscovery atau penemuan kembali dirinya sebagai aktris. Setelah absen tiga tahun dari layar lebar, ia memerankan Mi-ra dengan kedalaman emosi yang alami, tanpa berlebihan. Ekspresinya saat melihat anaknya menderita atau saat berdebat dengan otoritas medis terasa autentik, membuatku ikut merasakan keputusasaan dan keteguhan hatinya. Go Dong-ha sebagai Dong-myung juga patut dipuji; meski masih anak-anak, ia berhasil menyampaikan rasa sakit fisik dan emosional dengan polos, membuat adegan-adegan sehari-hari seperti makan atau bermain menjadi sangat mengharukan. Pendukung seperti Min Jin-woong sebagai suami Mi-ra dan Kim Sun-young sebagai rekan ibu memberikan lapisan dukungan yang solid, meski peran mereka tidak terlalu dieksplorasi mendalam. Secara keseluruhan, ensemble cast ini membuat film terasa seperti potret keluarga nyata, bukan drama berlebih.
Sutradara Choi Sin-choon, yang juga menulis skenario, memilih pendekatan yang seimbang dan hati-hati. Ia menghindari sensasionalisme, fokus pada perjalanan emosional daripada plot twist dramatis. Elemen dokumenter dari kisah nyata memberikan kekuatan tersendiri. Film ini menonjol berkat upaya sutradara dalam menemukan keseimbangan, meningkatkan kesadaran tentang diabetes tipe satu.
Kritikku tertuju pada kelemahan narasinya karena nilai dari cerita nyata menutupi kekurangan struktur cerita yang agak lemah. Alur terkadang terasa lambat di bagian tengah, dengan dialog yang repetitif tentang perjuangan medis, tapi ini justru membuatnya lebih realistis. Sinematografi sederhana, dengan close-up pada wajah dan tangan yang gemetar, memperkuat tema penderitaan sehari-hari. Musik latar minimalis, sering hanya piano lembut, menambah nuansa melankolis tanpa memaksa air mata.
Tema utama Sugar adalah cinta ibu yang tak terbatas, perjuangan melawan birokrasi, dan pentingnya kesadaran tentang penyakit kronis seperti diabetes tipe satu. Film ini tidak hanya menceritakan kisah pribadi tapi juga mengkritik sistem kesehatan Korea yang kaku, di mana inovasi medis tertinggal karena regulasi. Film ini mengandalkan kekuatan cerita nyata, memadatkan tahun-tahun perjuangan menjadi satu narasi yang menyentuh. Ini membuat Sugar relevan secara sosial, terutama di Indonesia di mana diabetes juga menjadi isu kesehatan utama. Penonton mungkin akan merenungkan betapa sulitnya akses perawatan bagi keluarga biasa, dan bagaimana satu orang bisa mengubah dunia melalui ketekunan.
Secara keseluruhan, Sugar adalah film yang tenang tapi meninggalkan yeun (aftertaste) yang kuat serta mengedepankan resonansi emosional yang pelan tapi mendalam. Rating-ku untuk film Korea ini adalah 8/10, dengan pujianku terhadap autentisitasnya tapi kritik pada pace yang menurutku lambat. Bagi penggemar drama keluarga seperti A Brand New Life atau film berbasis nyata, ini wajib tonton. Di Indonesia, tayang mulai 4 Februari 2026 di jaringan bioskop seperti CGV atau XXI. Jangan lewatkan kalau kamu mencari cerita yang menginspirasi tanpa sensasi berlebih.
Baca Juga
-
Review Film Nuremberg: Duel Psikologis di Balik Pengadilan Sejarah Terbesar
-
Film Do Deewane Seher Mein: Siddhant dan Mrunal Hadirkan Chemistry Hangat
-
Review Film Dead Man's Wire: Thriller Penyanderaan Mencekam Berbasis Fakta!
-
Girl from Nowhere: The Reset, Nanno Kembali dengan Wajah Baru yang Memikat
-
Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Balas Dendam Penuh Teror!
Artikel Terkait
-
Sinopsis The Ultimate Duo: Film Bae Sung Woo dan Jung Ga Ram yang Baru Rilis Setelah 7 Tahun
-
Tayang di Vidio, Film Ordinary Person Angkat Kisah Kelam Korea 1987
-
Angkat Kisah Superhero yang Gagal Jadi Aktor, Wonder Man Adalah Miniseri Marvel Paling Berani!
-
5 Drama dan Film Misteri Yoo Yeon Seok Terbaik yang Wajib Masuk Watchlist
-
Anak Shakespeare Namanya Hamnet? Kisah di Balik Lahirnya Hamlet yang Bikin Nyesek
Ulasan
-
Perebutan Kuasa Tertinggi Asia Pasifik, Membaca Kisah Bujang di Novel Pergi
-
Review Film Nuremberg: Duel Psikologis di Balik Pengadilan Sejarah Terbesar
-
Ramadan di Wisconsin
-
Film Komang: Angkat Kisah Cinta Penyanyi Raim Laode dan Toleransi Beragama
-
Menanam Mindset Baru, Setiap Luka Bisa Jadi Peluang di From Zero to Survive
Terkini
-
Jordi Amat Soroti Kualitas JIS, Lebih Betah Bermarkas di SUGBK?
-
Lebaran Jalur Bugis: Lupakan Nastar, Mari Berenang di Lautan Gula Merah Bolu Peca
-
Harmoni dalam Perbedaan: Refleksi Nyepi dan Dinamika Idulfitri di Indonesia
-
Konspirasi Basa-Basi: Lebaran Itu Silaturahmi atau Ruang Interogasi?
-
Kuda Lumping Diplomasi: Misi Jakarta Merayu Pawang di Panggung Board of Peace