Karena reputasinya sebagai novel yang tidak hanya bercerita, tetapi juga bersaksi, akhirnya saya memilih membaca buku Laut Bercerita ini. Nama Leila S. Chudori sendiri sudah memberi ekspektasi tinggi. Ia dikenal sebagai penulis dengan karya yang kuat secara riset sekaligus emosional.
Mulanya, saya mengira novel ini akan terasa berat dan kaku, seperti laporan sejarah yang dibungkus fiksi. Namun, kesan pertama justru sebaliknya. Narasinya mengalir, intim, dan perlahan menarik pembaca masuk ke pusaran emosi yang tidak sederhana.
Novel bergenre fiksi sejarah ini mengandung tema seputar aktivisme, kehilangan, dan ingatan kolektif. Latar yang diangkat berkaitan erat dengan peristiwa kelam menjelang runtuhnya Orde Baru, khususnya praktik penculikan aktivis.
Isu yang dibawa bukan hanya soal politik, tetapi juga kemanusiaan: bagaimana negara berhadapan dengan warganya sendiri, dan bagaimana keluarga korban bertahan dalam ketidakpastian.
Dalam konteks saat ini, cerita ini tetap relevan sebagai pengingat bahwa sejarah yang tidak diungkap dengan jujur akan terus meninggalkan luka. Terlebih baru-baru ini, Jumat (13/3/2026), kembali terjadi serangan penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal kepada Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
Serangan penyiraman air keras itu mengakibatkan terjadinya luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata.
Novel Laut Bercerita mengisahkan perjalanan hidup Biru Laut, seorang mahasiswa dan aktivis yang terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap rezim Orde Baru menjelang Reformasi 1998. Ia bersama teman-temannya sesama aktivis, membangun jaringan perlawanan, menyebarkan gagasan keadilan, serta terlibat dalam berbagai aksi sosial dan politik yang berisiko tinggi. Kehidupan mereka diwarnai diskusi, persahabatan, cinta, dan semangat idealisme, tetapi juga dibayangi ketakutan akan pengawasan dan penangkapan.
Ketegangan memuncak ketika satu per satu aktivis mulai ditangkap secara diam-diam. Laut dan kawan-kawannya akhirnya menjadi korban penculikan oleh aparat. Mereka disekap di tempat rahasia dan mengalami penyiksaan fisik maupun mental yang brutal, dipaksa mengaku dan mengkhianati jaringan mereka.
Dalam kondisi tersebut, mereka berusaha bertahan dengan saling menguatkan, meskipun perlahan harapan untuk bebas semakin menipis. Tidak semua dari mereka kembali; sebagian hilang tanpa jejak.
Cerita lalu beralih ke sudut pandang Asmara Jati, adik Laut. Ia bersama keluarga dan para kerabat korban lainnya menjalani hari-hari penuh ketidakpastian, menunggu kepastian nasib orang-orang yang hilang. Mereka melakukan berbagai upaya, seperti mencari informasi, menuntut keadilan, hingga menjaga ingatan tentang mereka yang lenyap. Rasa kehilangan yang tak selesai menjadi luka panjang yang terus hidup dalam keseharian mereka.
Kisah ini tidak hanya menyoroti kekerasan dan represi politik, tetapi juga memperlihatkan sisi manusiawi para tokohnya: kehangatan keluarga, persahabatan yang erat, serta cinta yang tumbuh di tengah situasi genting. Namun, semua itu berhadapan dengan realitas pengkhianatan, ketakutan, dan trauma mendalam akibat kekerasan negara.
Kekuatan utama novel ini terletak pada cara penulis membangun kedekatan emosional. Karakter-karakternya terasa hidup, dengan latar belakang dan suara yang berbeda. Dialog dan monolog batin ditulis dengan halus, membuat pembaca seolah ikut merasakan ketegangan dan kehilangan.
Gaya penceritaan yang berganti sudut pandang juga efektif dalam memperluas perspektif, terutama dalam menggambarkan dampak sebuah peristiwa terhadap banyak pihak.
Kelebihan paling menonjol adalah riset yang kuat dan keberanian mengangkat isu sensitif dengan pendekatan humanis. Selain itu, struktur cerita yang membagi perspektif membuat narasi terasa kaya dan tidak monoton. Bahasa yang digunakan juga puitis tanpa kehilangan kejelasan, sehingga tetap mudah diikuti.
Novel ini direkomendasikan kepada pembaca yang menyukai karya dengan kedalaman emosional dan latar sejarah yang kuat. Laut Bercerita bukan sekadar cerita, tetapi juga ruang untuk merenung tentang ingatan, keadilan, dan kemanusiaan.
Identitas Buku
- Judul: Laut Bercerita
- Penulis: Leila S. Chudori
- Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
- Cetakan: XXIX, Januari 2022
- Tebal: 379 halaman
- ISBN: 978-602-424-694-5
- Genre: Fiksi sejarah
Baca Juga
-
Masih Hangat!Honor X80 Pro Max Resmi Debut 22 Juni:Usung Baterai 11.000 mAh dan Layar 10.000 Nits
-
Hutan yang Menelan Rahasia dalam Buku Dosa di Hutan Terlarang
-
Membaca Tembang Talijiwo: Seni Menertawakan Kekacauan Hidup
-
Lenovo Yoga Slim Ultra 7 FIFA World Cup 26 Edition:Laptop AI Premium dengan Aura Sang Juara
-
Honor 600 Smart 5G: HP Baru dengan Snapdragon 4 Gen 4 Pertama di Dunia
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel Kereta 4.50 dari Paddington: Trik Pembunuhan di Luar Nalar
-
Paradoks Kekerasan dan Agama dalam Film In the Hand of Dante
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Menggugat Stigma Panti Jompo dan Makna Berbakti
-
Drama China Derailment: Penuh Plot Twist Mind Blowing atau Cuma Menjual Visual?
-
Bukan Drama Chaebol Biasa: Mengapa Cinderella at 2 AM Layak Masuk Watchlist Kamu
Terkini
-
Suatu Malam bersama Tiga Peronda Misterius
-
Serial Anime RE:BEL ROBOTICA Resmi Diumumkan, Berlatar Shibuya Tahun 2050
-
Makin Hari Makin Terbukti, Qatar dan Arab Saudi Lolos ke Piala Dunia 2026 dengan Cara Ilegal
-
Gak Bikin Jerawat Meradang! Ini 4 Micellar Water untuk Kulit Acne-Prone
-
4 Padu Paddan OOTD Sleek Minimalist ala Heo Nam Joon untuk Segala Momen!