Emi Yagi bekerja sebagai editor di sebuah majalah wanita di Jepang, lahir pada 1988, di Tokyo. Diary of a Void adalah novel pertamanya. Novel ini mendapat penghargaan Osamu Dazai Prizer yang diberikan setiap tahun kepada karya fiksi debut terbaik.
Saya merasa Diary of a Void (2024) edisi terjemahan ini adalah novel yang sederhana di permukaan, tetapi menyimpan kegelisahan yang begitu dalam. Kita diajak masuk ke kehidupan perempuan lajang di dunia kerja Jepang yang penuh tekanan sosial dan bias gender.
Melalui gaya bertutur yang datar dan nyaris seperti catatan harian, kita perlahan menyadari bahwa ada kekosongan yang mengendap bukan hanya dalam hidup tokohnya, tetapi mungkin juga dalam hidup kita sendiri. Buku ini seperti cermin yang diam-diam memantulkan realitas yang sering kita abaikan.
Sinopsis
Cerita berpusat pada Shibata, seorang perempuan lajang yang bekerja di sebuah perusahaan. Di kantor, ia sering diperlakukan tidak adil, dibebani tugas-tugas remeh hanya karena ia perempuan dan belum menikah. Kelelahan dan kejenuhan membuatnya mengambil keputusan yang tak terduga: ia berpura-pura hamil.
Di kantor, kita juga mengenal beberapa tokoh lain seperti atasannya yang cenderung abai, serta rekan kerja pria yang secara tidak langsung mencerminkan budaya patriarki di lingkungan kerja. Kebohongan itu awalnya sederhana, hanya untuk menghindari pekerjaan tambahan.
Namun, seiring waktu, kebohongan tersebut membuka ruang baru dalam hidupnya. Ia mulai diperlakukan lebih manusiawi, mendapatkan waktu untuk dirinya sendiri, bahkan mulai menjalani rutinitas yang lebih tenang.
Ada pula interaksi Shibata dengan dunia luar: tetangga, orang asing, yang memperlihatkan kebohongan itu perlahan menjadi realitas baru dalam hidupnya. Shibata mulai menjalani hidup seperti seorang ibu hamil sungguhan. Ia mengubah pola makan, rutinitas, bahkan cara berpikirnya. Kebohongan ini sekaligus menjadi perjalanan eksistensial tentang identitas dan kesepian.
Kutipan Mendalam Diary of a Void
"Kadang-kadang, untuk hidup dengan jujur, kita harus berbohong terlebih dahulu."
Kutipan ini terasa paradoks, tetapi sangat relevan. Kita sering terjebak dalam sistem yang memaksa kita menekan diri sendiri. Kebohongan Shibata justru menjadi cara untuk merebut kendali atas hidupnya menjadi lebih baik dan manusiawi.
"Tubuhku tidak berubah, tetapi dunia di sekitarku berubah seolah aku berbeda."
Ini menggambarkan betapa persepsi sosial bisa lebih kuat daripada realitas. Kita melihat bagaimana label hamil ternyata bisa mengubah cara orang memperlakukan Shibata, bukan dirinya sendiri. Rasa iba selalu tumbuh diawali dengan menyaksikan keadaan yang ada dalam diri seseorang.
"Mungkin yang selama ini kosong bukan rahimku, melainkan hidup yang kujalani."
Kutipan ini sangat filosofis. Dalam kalimat ini, penulis menyiratkan bahwa selama ini, perasaan kekosongan atau ketidakpastian yang dialami bukanlah karena kekurangan atau ketidakberdayaan pribadi (seperti rahim yang kosong), tetapi lebih kepada ketidakpuasan atau kekosongan dalam hidup yang dijalani. Ini menunjukkan bahwa pencarian makna dan kepuasan tidak selalu berasal dari kondisi eksternal, tetapi dari bagaimana seseorang memaknai dan menjalani hidupnya.
Kalimat ini mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa sering kali, kekosongan yang dirasakan bukan karena sesuatu yang hilang dari diri kita, melainkan karena ketidakselarasan atau ketidakpuasan dalam perjalanan hidup kita sendiri.
Fakta Menarik Diary of a Void
Kekuatan utama buku ini adalah gaya penceritaan yang tenang namun menusuk. Emi Yagi berhasil menyampaikan kritik terhadap budaya patriarki dan budaya kerja di Jepang dengan cara yang halus, tanpa terasa menggurui. Selain itu, konsep kehamilan palsu yang diangkat bukan sekadar gimmick cerita. Ia menjadi simbol dari kebutuhan manusia akan pengakuan dan ruang untuk bernapas.
Saya juga melihat rutinitas sehari-hari memasak, makan, berjalan, diolah menjadi refleksi mendalam tentang hidup. Terakhir, buku ini juga unik karena memadukan absurditas dengan realisme. Hal-hal yang tampak aneh justru terasa sangat dekat dengan kehidipan kita.
Kekurangan Diary of a Void
Meski menarik, ritme cerita dalam novel ini cenderung lambat. Bagi sebagian pembaca, alur yang minim konflik besar bisa terasa monoton. Selain itu, karakter pendukung tidak digali secara mendalam. Kita lebih banyak berada di kepala Shibata, sehingga dunia di sekitarnya berfokus padanya. Di beberapa bagian, narasi juga terasa repetitif karena banyak menggambarkan rutinitas serupa.
Dapat disimpulkan Diary of a Void adalah novel yang sunyi tapi menggugah. Kita diajak untuk melihat bahwa terkadang untuk menemukan diri sendiri, kita harus keluar dari aturan yang selama ini kita anggap normal dan menyadari bahwa hidup yang tampak normal belum tentu benar-benar membuat kita merasa hidup.
Identitas Diary of a Void
Penerjemah: Asri Pratiwi Wulandari
Penyunting: Ika Yuliana Kurniasih, Dhewiberta Hardjono
Perancang Sampul & Ilustrasi: Robby Andriyan
Pemeriksa Aksara: Nurani Puspitosari
Penata Aksara: Labusiam
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-623-186-283-9
Tebal: 179 Halaman
Baca Juga
-
Tanah Bangsawan: Rahasia Kelam di Balik Identitas Ganda Seorang Pemuda Eropa
-
Memahami Dunia Anak Spesial: Review Novel Ikan Kecil yang Mengajarkan Empati Tanpa Menggurui
-
Kesan Buya Hamka Berkunjung di Irak lewat Buku Di Tepi Sungai Dajlah
-
Antara Aturan Adat Bali dan Suara Kenanga yang Menulis Takdirnya Sendiri
-
Novel Canting: Usaha Menjaga Batik Tulis di Tengah Gempuran Batik Printing
Artikel Terkait
-
Anime Romansa Adaptasi Novel Ini Hadirkan Karakter Tunanetra, Debut Juli
-
Novel Pabrik Karya Putu Wijaya: Mesin Kekuasaan yang Menggilas Manusia
-
Larasati: Potret Jujur Revolusi dan Pergulatan Moral Bangsa
-
Novel Ikhlas Penuh Luka: Kisah Dua Hati yang Sama-Sama Saling Menyembuhkan
-
Violets: Melawan Masa Kecil Kurang Bahagia dari Anak yang Tidak Diinginkan
Ulasan
-
Review Buku The Power of Sun Tzu: Panduan Taktis Menghadapi Tekanan Hidup Modern
-
Soul Plate: Ketika Member Astro Berubah Jadi Malaikat Restoran, Efektifkah Promosinya?
-
Kisah Tragedi Berdarah di Apartemen Virgil dalam film, They Will Kill You
-
The Legend of Kitchen Soldier: Suguhkan Kisah Heroik Chef ala Tentara Korea
-
Ketika Luka Batin Dibahas dengan Hangat dalam Loving the Wounded Soul
Terkini
-
Dari Chat 5 Menit Menjadi FBI Kasur Lipat: Saat Cinta Menjadi Obsesi
-
Siapakah Lelaki Misterius yang Mendorong Brankar Jenazah Dini Hari Itu?
-
Pertemanan Tanaman Plastik: Tampak Hidup di Story, Mati di Kehidupan Nyata
-
Manga Horor Junji Ito, The Long Hair in the Attic Siap Diangkat Jadi Film Live Action
-
Connect Community: Bergerak dari Kampus, Berdampak bagi Remaja Desa