Lintang Siltya Utami | Muhammad Rafi Hanif
Selendang Merah Karya Maria A. Sardjono (Goodreads)
Muhammad Rafi Hanif

Buku Selendang Merah (2019) ini ditulis oleh Maria A. Sardjono yang dikenal sebagai penulis yang sering mengangkat tema keluarga, percintaan, dan nilai-nilai budaya dengan gaya bahasa yang mengalir dan emosional. Dalam buku ini, kita diajak menyelami sebuah kisah yang menyimpan misteri masa lalu serta kental dengan nuansa budaya Jawa.

Dalam cerita ini, kita akan mengenal beberapa tokoh antara lain Miranta, seorang dosen muda yang cerdas, cantik, dan memiliki prinspi. Ia menyimpan kenangan masa lalu yang cukup dalam. Pak Sudibyo, ayah Miranda yang bijaksana namun datang dengan wajah cemas membawa kabar penting. Suzana, sahabat karib Miranda yang selalu siap membantu dalam keadaan sulit. Abimanyu, seseorang dari masa lalu Miranda yang namanya menjadi tabu dan tidak pernah disebutkan selama bertahun-tahun. Tante Titis dan Om Sundoro, keluarga jauh yang memiliki masalah kesehatan serius yang menjadi pemicu utama cerita.

Sinopsis

Cerita bermula ketika Miranda baru saja selesai mengajar dan berniat pulang. Tiba-tiba ayahnya, Pak Sudibyo, datang menjemput dengan wajah yang tampak gelisah dan tidak seperti biasanya. Awalnya saya mengira ini hanya urusan biasa, ternyata ayahnya membawa kabar bahwa anak dari Tante Titis sedang sakit keras di Semarang dan membutuhkan pertolongan segera.

Konflik mulai muncul ketika ayahnya meminta Miranda untuk pergi lebih dulu ke Semarang. Namun, ada satu hal yang membuat Miranda gemetar ketakutan dan bingung. Ia menyadari bahwa untuk menyelamatkan anak tersebut, ia harus menghubungi seseorang dari masa lalunya yang sudah lama hilang yaitu Abimanyu. Nama ini seolah terkunci rapat selama 16 tahun. Kini, demi sebuah misi penyelamatan, ia harus memecah kebisuan itu dan mencari jejak lelaki tersebut melalui sahabatnya, Suzana.

Cerita ini mengungkap betapa beratnya pilihan yang harus diambil Miranda antara melupakan masa lalu atau menghadapinya demi kebaikan orang lain. Lebih dalam lagi, selendang merah ini juga berkaitan erat dengan keberadaan anak yang dilahirkan Miranda saat masih remaja. Anak tersebut direnggut oleh orang lain tanpa sepengetahuan Abimanyu.

Kutipan dalam Selendang Merah

"Menurut perhitungan Jawa, itu usia tujuh windu... Di masyarakat Jawa yang masih kental menjunjung adat istiadat, usia tumbuk perlu disyukuri lebih dari biasanya." (Sardjono, 6).

Kalimat ini mengajarkan kita untuk menghargai hitungan waktu dan usia dalam budaya. Ternyata menjadi tua bukan sekadar bertambahnya tahun, tapi juga momen untuk bersyukur dan merayakan kehidupan.

"Orang Jawa itu kalau sudah berjanji, seumpama memaku di atas batu. Susah dicabut, dan kalau dicabut pun bekasnya tetap ada." (Sardjono, 72).

Kutipan ini sangat dalam dan menggambarkan betapa tingginya nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam budaya kita. Janji bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah ikatan yang harus dijaga seumur hidup. Saya setuju bahwa kepercayaan itu mudah hilang tapi sulit didapatkan kembali, seperti bekas paku yang tak bisa hilang begitu saja.

Kelebihan Selendang Merah

Alur cerita disusun dengan sangat rapi dan penuh teka - teki, sehingga membuat kita terus penasaran dan tidak ingin berhenti membaca hingga akhir halaman terakhir. Penggambaran suasana dan perasaan tokoh dilakukan dengan sangat detail dan emosional, seolah-olah kita ikut merasakan kegelisahan, ketakutan, dan harapan yang dialami Miranda. Selain itu, novel ini juga sangat kaya akan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya Jawa yang diangkat dengan indah.

Kekurangan Selendang Merah

Menurut saya, penggunaan diksi atau pilihan kata pada beberapa bagian terasa cukup baku dan formal, sehingga mungkin terasa berat bagi pembaca remaja yang belum terbiasa dengan gaya bahasa sastra. Meskipun demikian, makna yang ingin disampaikan tetap dapat dimengerti dengan baik dan tidak mengganggu kelancaran membaca secara keseluruhan.

Identitas Buku

  • Penulis: Maria A. Sardjono
  • Editor: Irna Permanasari
  • Ilustrator: Orkha Creative
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • ISBN: 9786020619255
  • ISBN Digital: 9786020619262
  • Tebal: 344 Halaman