M. Reza Sulaiman | Rahel Sembiring
Kiri: Durian Bawor (YT/Sulismono Fruits Nursery), Kanan: Jalan Desa Laja (Google Review/Nadila).
Rahel Sembiring

Bagi banyak orang, tempat ternyaman mungkin berarti sebuah kafe estetik atau kamar pribadi yang tenang. Namun, perjalanan singkat saya ke Desa Laja, Kecamatan Sibolangit, Januari lalu, memberikan definisi baru tentang kenyamanan: sebuah perasaan diterima sepenuhnya dalam hangatnya tradisi keluarga.

Mengenal "Tuhan yang Tampak"

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu mengenal konsep Kalimbubu. Dalam sistem kekerabatan adat Karo, Kalimbubu adalah pihak pemberi perempuan (istri). Kedudukannya sangat tinggi, bahkan sering disebut sebagai "Dibata ni idah" yang berarti "Tuhan yang tampak."

Sebagai seseorang yang tumbuh besar tanpa terlalu mendalami detail adat, awalnya saya bingung mengapa kami disambut begitu luar biasa. Bapak kemudian menjelaskan silsilah kami. Ternyata, akar hubungan ini bermula dari kakek buyut saya yang memiliki empat bersaudara—dua laki-laki dan dua perempuan.

Bapak saya adalah cucu dari anak laki-laki tertua (kakek buyut saya), sementara keluarga yang kami kunjungi di Desa Laja ini adalah semua keturunan dari kedua saudara perempuan kakek buyut.

Meski sudah memasuki generasi keempat, posisi kami sebagai keturunan garis laki-laki tetap menempatkan kami sebagai Kalimbubu bagi mereka. Inilah indahnya; jarak generasi tidak melunturkan rasa hormat dan ikatan persaudaraan dalam adat.

Sambutan di Kaki Sibolangit

"Paling nanti kita minum teh sebentar saja lalu pulang," canda Bapak saat kami memasuki Desa Laja.

Namun, kenyataannya jauh dari sekadar "minum teh." Begitu sampai, kami disambut oleh seorang Nenek bermarga Tarigan yang dalam bahasa Karo dipanggil Biring. Meski saya belum pernah bertemu beliau sebelumnya, keramahannya membuat saya merasa seperti cucu yang sudah lama dinanti. Kami langsung dipersilakan duduk dan diminta memilih minuman.

Pesta Durian dan Filosofi Penghormatan

Kejutan sesungguhnya muncul saat Biring mengeluarkan sebuah durian dari rumahnya. Ukurannya luar biasa, hampir dua kali lipat dari durian pada umumnya dengan warna kulit dominan hijau terang.

Saya tidak tahu itu jenis durian apa, sekilas mirip Durian Bawor, namun saya rasa beratnya hampir delapan kilo. Rasanya? Manis, lembut, dengan cita rasa unik yang sulit digambarkan, tidak seperti durian pada umumnya.

Kenyamanan itu berlanjut saat kami diajak ke kebun. Di tengah perjalanan, kami melewati sebuah rumah yang sedang dibangun. Orang-orang di sana langsung mengajak kami mampir untuk makan bersama. Bapak menolak dengan halus, lalu berbisik sambil tersenyum, "Itu keluarga kita juga. Begitulah cara mereka menyambut Kalimbubu."

Di kebun, saya bertemu dengan Biring yang kedua, beliau merupakan anak dari saudara perempuan kakek buyut saya. Di sana juga terdapat beberapa saudara yang lain. Mereka sedang panen manggis dan durian.

Begitu melihat Bapak, mereka langsung membelah buah-buah terbaik. "Ayo makan duriannya, mumpung gratis!" canda salah satu paman. Tanpa terasa, mungkin sudah lima buah durian yang habis kami santap bersama di bawah rimbunnya pohon. Tiap habis, dibelah lagi, begitu seterusnya. Hari itu mungkin hari saya menyantap durian paling banyak seumur hidup.

Pelajaran tentang Keseimbangan

Jam pun menunjukkan pukul tiga sore dan kami hendak pulang. Namun, kami tidak dibiarkan pergi dengan tangan kosong. Biring memaksa kami membawa pulang satu karung penuh durian dan satu karung manggis hasil petikan sendiri. Saya juga ikut membantu memetik manggis bersama Bibi—anak Biring.

Ada rasa tidak enak hati karena kami jarang berkunjung, namun penyambutan mereka tetap meluap-luap tanpa pamrih. ''Kalau bertemu dengan Bolang (Kakek) yang satu lagi, wah itu penyambutan nya bisa lebih meriah lagi nanti sama Bapak''.

Di perjalanan pulang, Bapak juga berkata, "Begitulah adat Karo. Melayani Kalimbubu itu seperti melayani Tuhan sendiri."

Dari perjalanan ke Desa Laja ini, saya akhirnya memahami bahwa adat bukan sekadar aturan kaku. Konsep Kalimbubu dan Anak Beru (pihak yang melayani) diciptakan untuk menjaga keseimbangan. Ada saatnya seseorang melayani dengan tulus, dan ada saatnya ia dilayani dengan penuh hormat.

Desa Laja mengajari saya bahwa tempat ternyaman tidak melulu soal lokasi geografis, tapi tentang di mana kita merasa diterima sebagai bagian dari sebuah akar sejarah yang besar.